Pameran Seni Rupa "Arus Bawah" Di Jogja Contemporary JNM

Jogja Contemporary menghelat Pameran Grup bertajuk "Arus Bawah", pada 7 - 24 February 2017, menampilkan karya-karya enam seniman muda kelahiran Bali yang seluruhnya menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia - ISI Yogyakarta. Mereka adalah, Marta Dwipayana, Agus Darmika, Giri Ananda, Adi Suanjaya, Sastra Wibawa dan Ngakan Putu Agus Arta Wijaya.

Sita Magfira melalui tulisan kuratorial pameran mengatakan, proses perpindahan mereka ke Yogyakarta jadi penting untuk dicatat sebab hal itu tampak berpengaruh pada identitas dan kekaryaan mereka. Hal yang khususnya tampak pada mereka yang menempuh pendidikan tinggi seni rupa di ISI Yogyakarta. Dalam proses berkarya, lima perupa masing-masing, Marta Dwipayana, Agus Darmika, Giri Ananda, Adi Suanjaya dan Sastra Wibawa, kadang memilih menjauh dari Bali, sedangkan Ngakan Putu Agus Arta Wijaya dalam karyanya tampak berusaha untuk mendekati Bali.

Pameran Arus Bawah, dimaksudkan untuk menampilkan karya-karya yang mewakili generasi seniman muda Bali, khususnya yang menetap di Yogyakarta. Seniman Bali sendiri sebagai sebuah term harus diakui tidak hanya menunjukan bahwa seniman tersebut berasal dari Bali. Ia juga dipandang mewakili kecenderungan-kecenderungan tertentu, baik dari segi visual pun dari laku berkarya.

Dalam proses persiapan pameran, Bali, sebagai sebuah gagasan dan identitas, jadi hal yang banyak dipertanyakan dan diperiksa. Bagaimana pandangan masing-masing seniman partisipan tentang Bali? Apakah benar bahwa berbagai tendensi mereka dalam berkarya bisa atau perlu dilekatkan dengan gagasan dan identitas tersebut? Jika mereka tidak menyangkal bahwa Bali mewujud dalam kekaryaan mereka, bagaimana perwujudannya? Serta bagaimana proses perpindahan mereka ke Yogyakarta berpengaruh pada cara mereka melihat Bali dan pada kekaryaan mereka?

Arus Bawah sebagai judul pameran ini dimaksudkan untuk merangkum proses di balik pameran. Secara harafiah, berarti aliran air yang mengalir di bawah permukaan. Sedangkan sebagai idiom ia merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang seringkali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami. Proses mempertanyakan dan memeriksa “kebalian” dalam diri tiap-tiap seniman dan karya-karya mereka bisa disejajarkan dengan proses mengecek apa yang mengalir di bawah permukaan. Pun ia juga dipahami sebagai usaha untuk melihat perasaan atau tendensi berkarya yang dimiliki oleh tiap-tiap seniman yang bisa jadi berbeda dengan apa secara umum dilekatkan pada seniman Bali.

Sumber: http://rri.co.id/yogyakarta/post/berita/356704/seni_budaya

 
Back to top ↑
[2,114,128 bytes / 2.02 MB] [2,156,592 bytes / 2.06 MB (peak)]