Ragam Media Perupa Bali di Jogja Contemporary

Pameran ‘Arus Bawah’ di Jogja Contemporary menjadi ajang pameran karya dengan berbagai media. Ada yang memakai serat kain ataupun fiber dan dacron, ada yang menggunakan tepung beras, ada pula yang memakai cat akrilik tanpa kanvas. Yang juga patut dicatat adalah para pesertanya berasal dari Bali, dan berusia muda, sekitar 20 tahunan.

Imaji Bali di Tanah Seberang

Seni telah melintasi batas wilayah yang tidak dapat diberi batas daerahnya. Layaknya air yang mengalir deras pada tanah-tanah yang sebelumnya tanpa air mengalir. Seni melintasi daerah itu, tanpa kenal ruang dan waktu.

"Arus Bawah" 6 Seniman Bali

Pameran Seni Rupa "Arus Bawah" Di Jogja Contemporary JNM

Jogja Contemporary menghelat Pameran Grup bertajuk "Arus Bawah", pada 7 - 24 February 2017, menampilkan karya-karya enam seniman muda kelahiran Bali yang seluruhnya menuntut ilmu di Institut Seni Indonesia - ISI Yogyakarta. Mereka adalah, Marta Dwipayana, Agus Darmika, Giri Ananda, Adi Suanjaya, Sastra Wibawa dan Ngakan Putu Agus Arta Wijaya.

Pameran Foto 'Kangen', Wujud Kemandirian Berkarya dari Siswa SMA Bopkri 1

Kangen merupakan sebuah kata yang biasanya diutarakan oleh seseorang merasakan kerinduan terhadap sesuatu.

Potret Nusantara Kini dalam Seni Rupa

Potret Sejati Islam Nusantara

Seni dan Islam selalu berdampingan dan saling mengisi dalam perkembangannya. Inilah yang dihadirkan melalui pameran bertajuk MATJA: Seni Wali-Wali Nusantara. Pameran dalam rangka Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke 33 ini berlangsung di Jogja National Museum (JNM) hingga Kamis besok (30/7).

Melihat Pameran Seni Rupa Islam Nusantara di Yogyakarta

Muktamar NU yang akan digelar di Jombang Jawa Timur tinggal menghitung hari. Tak hanya di Jombang, Yogyakarta juga punya gawe dalam menyambut momentum lima tahunan ini.

Pameran "Matja" NU, Menyatunya Hati Pecinta Keindahan

Pameran "Matja"; Membaca Seni Wali-wali Nusantara yang berlangsung 27-30 Juli Jogjakarta Nasional Museum (JNM) diikuti 50 perupa. Mereka berlatar belakang gaya, organisasi, latar belakang yang berbeda dan tentu saja menampilkan buah karya yang beragam.

Kontekstualisasi Seni Islam

Salah satu tradisi Islam Nusantara adalah menempatkan kesenian pada posisi yang mulia. Seni itu bersifat luhur, baik dan ada rasa keadilannya. Lebih dari itu, kesenian merupakan tanda dari pencapaian keber-islam-an seseorang atau masyarakat. Kesenian adalah perlambang kematangan ruhani umat manusia. Semakin rendah selera seni (art taste) sebuah masyarakat menunjukkan rendahnya tingkat spiritualitas masyarakat tersebut.

 
Back to top ↑
[2,238,648 bytes / 2.13 MB] [2,290,008 bytes / 2.18 MB (peak)]