Exhibition Date
November 14th - 28th, 2015

Artist
Cahyo Basuki 'Yopi'

Curated by
Hari Prajitno

Cahyo Basuki 'Yopi: Second Skin

SECOND SKIN

Suatu tema tentang lapisan yang melindungi tubuh ”second skin” sesuatu yang menempel, melekat ketat di kulit, di sebagian atau bahkan seluruh tubuh, Begitulah tema yang dibangun menggunakan media besi dan batu dengan beberapa variasi media pendukung lainnya.

Topeng yang Melekat

Kurang lebih 10 tahun yang lalu, setiap ada suatu pembukaan pameran di Surabaya Yopi selalu mengenakan topeng, menutupi dirinya dengan karakter yang dia buat sendiri. Sementara bahan pembuatnya adalah latex karet mentah. Jadi bisa dibilang bahwa ini adalah kelanjutan topeng-topeng yang dulu yang kini dikerjakannya kembali sebagai juga timbunan konsep lama.

Tentang besi, tepatnya lempengan besi disusun membentuk topeng yang mengingatkan masa kecilnya sewaktu penyambutan “perayaan maulid” mulutan yang mana di Surabaya selalu terdapat produk mainan topeng yang dijajakan dengan beragam bentuk seperti kepala singa, harimau, Ivanhoe, Benhur dan generasi lebih akhir lagi adalah robot-robotan. Sementara batu baginya mengingatkan tentang kepalannya sendiri, kepala kita semua yang akan mengenakan topeng itu sendiri. Batu bisa pula sebagai landasan/ tataan dari topeng tersebut untuk disangga.

Topeng bagi Cahyo “Yopi” Basuki adalah sebentuk dolanan yang tanpa persetujuan orang lain, orang banyak selain dirinya, bisa pula sebuah permainan yang mana topeng adalah alat ekspresi yang sekaligus bisa dikenakan, dipajang begitu saja, atau bisa pula dikenakan orang lain yang yang masing-masing akan menimbulkan efek tertentu. Topeng bisa pula menjadikan kharisma tertentu, berkarakter negatif atau positif. Topeng bisa pula adalah penopengan diri, penutupan diri atas kekurangan atau suatu penyamaran.

Wujud topeng memang bisa pula hanya sekadar riasan pada wajah yang berkarakter dilebih-lebihkan, seperti mendeformasi bentuk alis atau kumis dan godheg. Mewarnai pipi, hidung, dagu dan dahi dengan warna tertentu yang mencolok. Melebih-lebihkan gaya rambut agar ke semua itu tidak lain untuk keperluan mengejar karakter tertentu. Tetapi, topengnya Yopi tidak sekadar hal di atas yang mana siapapun dan kapanpun yang mengenakannya akan dipaksa memiliki tampilan yang telah dibangun oleh topeng besi itu sendiri.

Batu dan Besi

Batu sebenarnya tidak ubah sebagai kepala atau landasan/ tataan untuk topeng itu sendiri dan juga bisa tertopengi oleh beberapa atribut yang diciptakannya. Bahan batu berasal dari bongkahan kecil yang sudah halus permukaannya yang dibentuk oleh alam. Secara teknis dilubangi bor, digerinda untuk mencipta lubang dangkal memanjang yang kemudian dilelehi oleh batangan timah yang di solder.

Teknik gerinda diperuntukkan sebagai penanda bahwa di situlah letak ke dua mata, hidung ataupun mulut dan sekaligus bibir dan terlihat gigi-giginya yang saya kira tidak lagi batu sebagai sebuah penopengan dari, justru batu itulah adalah kepala anonim, sebagai anonim atau gambaran tentang penciptanya sendiri.

Sementara pada media besinya dibangun dari serpihan potongan yang acak, juga serpihan yang memiripi lempeng di wajah manusia itu sendiri atau bahkan bisa pula terbentuk dari gelondongan-gulungan plat yang tinggal di iris membentuk tipisnya mata atau sayatan sedikit lebar membentuk mulut bahkan juga sekalian gigi-giginya. Semua topengnya dibangun dari teknis las sehingga menampakkan penyatuan bekas lelehan besi baik dari teknik las karbit, listrik, ataupun asytilin yang mewujud gumpalan yang tidak diperhalus sepanjang di mana kedua lempeng besi direkatkan.

Ragam bentuk media besinya bisa pula lempengan dari potongan-potongan yang terlihat pada tepian yang kasar, bergerigi, berlekuk dan bergunduk-gunduk. Bisa dari temuan “ready mades” sehingga bidang-bidang atau bentuk aslinya masih terlihat. Bisa dari kombinasi keduanya atau bahkan digabung dengan lainnya seperti batangan besi beton.

Batu Kepala, Topeng Besi, dan Dirinya

Versi Luar

Batu-batu yang memang hidup “Sysiphus after Rodin”, walau diam tak bergeming tetapi memiliki pergerakan sobekan-sobekan gerinda, mengingatkan pada jaringan syaraf di dalam otak, seakan tipisnya mata melihat sinis, atau menyepelekan, atau sayatan gerenda itu adalah mulut tanpa bibir yang menyerigai menakut-nakuti. Dilanjutkan dengan beberapa lubang bor di kiri kanan kepala sebagai penanda pelindung atau kesakitan yang telah nampak juga bercabang.

Begitu pula pada topeng dengan sayatan mata dan sobekan-sobekan yang terbentuk dari celah antara dua lempeng atau lebih bahkan memang tersayat di situ. Mata yang tipis menyerigai siapa saja yang hendak mendekat, jangankan menyentuh ditepinya yang bergerigi, sudah terasa aromama curiga, pupil seakan menginterogasi siapapun yang mendekat pada “Babylon Clown”, “Doctor Crab”, “RX King”, “Scramble Egg”, dan “Franky”, walau kadang tanpa sayatan seperti “Empress Zulu”, tak ubah menampakkan ketertutupan yang paling sempurna.

Pada topeng-topeng terbukanya dimana letak mata, hidung dan mulut secara tepat konvensional tidak diindahkan semua sisi adalah tajam menusuk seperti “Cleopatra Syndrome”, “Bone Stinger”, dan “Emperor of The Sun“ ataupun terdapat alat “mekanik” gir gerigi untuk berputar terus-menerus yang menyapu siapa saja pada “Spartax Singer”, “Chef Kisser”, “Cloud Cutter”, dan “The Archaeologist”.

Versi Dalam

Baik batu, terutama topengnya. Bila kepala kita sebagai batunya atau si pemilik wajah topeng tersebut tentunya tidak seterasa rasa bagaimana sebenarnya enggan untuk menjadi batu kepala tersebut, karena di sana banyak kesakitan yang sudah lama tertahan, ruang sempit, pengap memberatkan. Tiada jalan keluar harus bagaimana, kecuali hanya dengan keniscayaan versi luar dan versi dalam yang musti dijalankan walau mungkin dengan terpaksa atau tanpa paksaan.

Suatu kesanggupan yang hanya dengan cara itu yang niscaya sudah tertatanam tanpa bisa memilih. Kesanggupan pada keaabadian yang menyiksa terus menerus adalah nyata; bukan pula menolak, begitulah memang seharusnya dalam satu cerita tentang dirinya.

***

Second Skin adalah satu penggalan yang diekspresikan Yopi, dia tak bosannya bereksekspresi sekaligus menggunakan media yang cukup eksperimentatif seperti media eksperimen-ekspresi lainnya yang kini menggunakan besi dan batu adalah yang paling tepat mewakili dirinya, bercerita tentang masa lalu dan masa yang sedang digelutinya. Saya katakan sebuah “kesanggupan pada keabadian yang menyiksa terus menerus”.

Seni akan selalu konkrit terucap seperti yang kita lihat, tanpa terperinci detil dibalik itu apa, tanpa diselimuti yang mengindah-indahkan yang menyenangkan. Ada satu kegagahan, sekaligus kekerdilan, ada kesombongan tetapi terdapat juga ketakutan luar biasa di dalamnya seperti pada “Olga” dan “Ivan” yang diterima dengan keterbukaan apa adanya sebagai pembebasannnya sendiri, hal kewajaran yang manusiawi yang hanya bisa diungkap lewat seni yang paling murni. ***

Hari Prajitno-MDTL




Works

Photos

Second-Skin-001
Second-Skin-002
Second-Skin-003
Second-Skin-004
Second-Skin-005
Second-Skin-006
Second-Skin-007
Second-Skin-008
Second-Skin-009
Second-Skin-010
Second-Skin-011
Second-Skin-012
Second-Skin-013
Second-Skin-014
Second-Skin-015
Second-Skin-016
Second-Skin-017
Second-Skin-018
Second-Skin-019
Second-Skin-020
Second-Skin-021
Second-Skin-022
Second-Skin-023
Second-Skin-024
Second-Skin-025
Second-Skin-026
Second-Skin-027
 
Back to top ↑
[2,526,992 bytes / 2.41 MB] [2,711,416 bytes / 2.59 MB (peak)]