Exhibition Date
October 17th - 24th, 2015

Artist
Jack Budi K

Hi, hello...

Mengada Bersama Jack*

"Setiap coretan kuas tertentu tidak dibuat untuk coretan kuas itu sendiri bahkan bukan pula untuk pengkonstruksian suatu keseluruhan riil yang koheren (dalam pengertian bahwa sebuah tuas dalam subuah mesin disusun demi kepentingan keseluruhan mesin itu bukan untuk kepentingan tuas itu sendiri)" (Jean-Paul Sartre, Psikologi Imajinasi, hal. 460)

Jean-Paul Sartre menuliskan ikhwal lukisan (karya seni) yang dijelaskan dalam pengertian tuas mesin, dan bukan kebetulan pelukis kali ini dulunya juga dari sekolah teknik mesin ^_^

Orang-orang biasa menyapanya dengan sebutan "Jack". Saya tak mengetahui alasannya –seperti halnya sang empunya nama sendiri tak tahu pula– riwayat munculnya nama "Jack" dibaptiskan sebagai nama panggilan. Hal yang pasti adalah Budi Kurniawan memang sudah biasa disapa "Jack" di rumah, panggilan akrab di rumah (di Padang) sejak ia kecil, dan juga hingga kini ia di Jogja. Saya lebih suka menyapa dirinya dengan sebutan Jack Budika. Jack Budika yang saya kenal 8 tahun lalu, saat ia mulai kuliah di Jurusan Seni Murni (minat utama seni lukis) ISI Yogyakarta sepintas nampak sebagai sosok yang pendiam, bahkan cenderung misterius. Pemuda berambut ikal panjang, selalu tergerai tak beraturan, kini ia menuturkan kisahnya, berbagi untuk kita semua...

Jack sebenarnya hobi membuat gambar rajah tubuh alias menato. Sebelum akrab dengan dunia seni lukis, pada tahun 90'an ia lebih banyak beraktivitas sebagai seniman tato (tattoo artist) di Padang, Sumatra Barat. Pada 2002 Jack Budika sempat mengenyam kuliah di jurusan kriya ISI Padang, sampai akhirnya ia memutuskan hijrah ke Jogja pada tahun 2005.

Jack Budika lebih merasakan kepuasan dalam proses kreatif melukis dibandingkan saat menato, mungkin lantaran perbedaan medium di antara keduanya. Dalam melukis, Jack bisa berimprovisasi, bisa melakukan spontanitas dan bermain-main lebih leluasa dengan tektur dan warna.

Inspirasi dalam melukis ia peroleh dari banyak hal, seperti: grafiti pada tembok-tembok, lumut-lumut, coretan di jendela, goresan anak-anak. Hal yang disebutkan terakhir itu, Jack teringat bahwa ia juga pernah melakukan hal itu pada masa kanak-kanak di Padang. Waktu luang saat masa kanak-kanak kerap diisi dengan bermain membuat corat-coret pada buku sekolah, pada kalender, tanah, maupun di dinding, pintu, atau lemari di rumah. Ia mengingat kembali masa kanak-kanak yang belum terbebani. Kenangan pada masa kanak-kanak kerap hadir mengganggu pikiran Jack. Lantas memunculkan kerinduan dalam diri akan masa lalu itu. Bicara tentang masa kanak-kanak, saya jadi teringat kawan saya dari Madura yang berkata bahwa di Madura sana tidak ada masa kanak-kanak. Awalnya saya heran, sampai kemudia kawan saya menyahut dengan logat khas yang terputus-putus, "Ya..iya, di Madura adanya masa nak-kanak!" wkwkwk

Jack Budika memiliki visi dalam berkarya (melukis) sebagai sarana terapi psikologis. Semacam obat penenang untuk jiwa yang sakit atau tersakiti. Pada Pameran "Hi, Hello...!" ini ia ingin bertegur sapa sekaligus memperkenalkan diri dengan segala persoalan yang menghantui di benaknya. Bagi Jack, proses kreatif melukis itu menggerakkan jiwa, karya-karya diciptakan sebagai ungkapan jiwa dan pemikiran yang diekspresikan. Karya-karya lukis Jack Budika lebih dirasakan sebagai manifestasi atas perenungan dirinya tentang hal apa saja yang sedang terlintas di kepala. Maka karya-karyanya memiliki keragaman tema. Ia sudah tak mengotakkan diri pada satu persoalan sebagai tema lukisan, karena setiap persoalan selalu memiliki kaitan satu sama lain.

Ketika kami ngobrol mengenai buku, Jack teringat pernah membaca buku Psikologi Imajinasi Jean-Paul Sartre dan buku tentang Syekh Siti Jenar. Dari buku tentang Syekh Siti Jenar, Jack Budika lebih belajar memahami kehidupan. Berkaitan antara hubungan dirinya dengan Tuhan dan sesama manusia. Jika kita percaya semua yang ada di dunia adalah milik Tuhan kita, berarti kita bebas beribadah dimana saja, entah itu di masjid, di gereja, pura, kuil, dll. Sedangkan untuk mencintai Tuhan, maka kita harus mencintai semua ciptaanNya. Hal-hal itu tidak secara langsung memengaruhi karya-karya Jack Budika secara visual, namun hal itu lebih memengaruhi pada tingkah lakunya sehari-hari. Jika apa yang ia baca tak berkaitan dengan visual karya Jack Budika lantas kenapa saya tulis pengalaman literasi seorang Jack? Tentu saja tak lain karena pertemuan Jack dengan buku-buku yang ia baca tetaplah sebuah pengalaman dirinya. Membaca pengalaman Jack akan dapat membantu menyatukan puzzle-puzzle berserakan yang mungkin kita temukan dalam karya-karyanya. Sebagai penutup saya mengutip apa yang dikatakan oleh Darmanto Jatman:

Setelah melakukan analisis fenomenologis –mulai dari deskripsi tentang imajinasi, karakteristiknya - sampai ke kesimpulan –tentang kesadaran dan imajinasi serta The Work of Art– kita mulai ngeh, tercerahkan, kenapa seniman dibilang mencipta sekalipun bukan berarti "from nothingness", tapi dari pengalaman langsung mengada dunia. (dikutip dari buku Jean-Paul Sartre, Psikologi Imajinasi, hal. xi)

Sewon, 15 Oktober 2015
AC Andre Tanama
Teman wedangan di warung Mas Pur

*judul tulisan ini terinspirasi dari tulisan Darmanto Jatman berjudul Mengada Bersamamu




Works

Photos

hi-hello-001
hi-hello-002
hi-hello-003
hi-hello-004
hi-hello-005
hi-hello-006
hi-hello-007
hi-hello-008
hi-hello-009
hi-hello-010
hi-hello-011
hi-hello-012
hi-hello-013
hi-hello-014
hi-hello-015
hi-hello-016
hi-hello-017
hi-hello-018
hi-hello-019
hi-hello-020
 
Back to top ↑
[781,656 bytes / 0.75 MB] [865,352 bytes / 0.83 MB (peak)]