Exhibition Date
September 3rd - 23rd, 2015

Artist
Agugn Prabowo

Curated by
Roy Voragen

Unguarded Guards

Unguarded Guards

Seniman visual Agung -atau yang biasa dikenal dengan Agugn, yang terdengar lebih "grafis" daripada pengejaan standarnya-Prabowo (lahir 1985 di Bandung, Indonesia; agugn.tmblr.com) lulus pada tahun 2010 dari Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung, tempat ia belajar seni cetak. Untuk mendapatkan gelar kesarjanaan S.Sn., ia menggunakan teknik cukil kayu dalam tugas akhirnya. Sekarang, seniman yang produktif dalam berkarya ini dikenal luas lewat karya-karyanya yang menggunakan teknik cetak cukil lino.

Setelah menyelesaikan studinya, Agugn bergabung dengan sebuah perusahaan percetakan, namun keterlibatannya dengan perusahaan tersebut ternyata tidak berlangsung lama, sejalan dengan tekanan belenggu kreativitas yang dialaminya. Setelah berhenti dari pekerjaannya, dan sekaligus berhenti mendapatkan kenyamanan dan fasilitas seorang karyawan, ia dan istrinya, seniman Sekarputri Sidhiwati, pada tahun 2012 mendirikan perusahaan percetakan mereka sendiri yang diberi nama Let's go Press (letsgopress.tumblr.com) yang mengkhususkan diri pada teknik cetak huruf. Namun upaya yang mereka lakukan sebenarnya lebih dari sekedar menjadi wiraswastawan, Agugn bisa lebih leluasa memenuhi gairah kesenimanannya: seni visual serta eksplorasi dan eksperimen dalam teknik, bahan baku, peralatan, dan ide-ide estetik dan artistik, yang pada dasarnya selalu menyimpan risiko.

Agugn telah ikut ambil bagian dalam berbagai pameran bersama di berbagai tempat di Indonesia, dan juga di mancanegara seperti Singapura, Jepang, dan Spanyol. Lebih dari itu, ia bahkan tampil sebagai pemenang dalam Indonesian Printmaking Triennale, yang memberinya kesempatan untuk berpameran tunggal dengan mengambil tema Natural Mystic pada tahun 2013 (di Bentara Budaya Jakarta, Yogyakarta, Bali, dan Solo). Pada tahun 2014, ia kembali menjadi satu dari tiga penerima penghargaan dalam Jogja Mini Print Biennale, dan ia juga meraih Young Artist Award dalam ArtJog, keduanya diadakan di Yogyakarta, dan sekaligus membawa sang seniman sebagai peserta dalam pameran serupa di tahun 2015. Dalam ArtJog tahun ini, ia menampilkan karyanya We Are All Made of Stars, yang merupakan simbol dari lima elemen yang digunakan dalam pembuatan karya tersebut: carborondum, cukil kayu, fotolithografi, linocut, dan sidik jari para pengunjung, dan kelimanya menggunakan kertas daur ulang yang dibuatnya sendiri.

Sebagai seorang seniman Agugn sangat produktif. Dan kuantitas karyanya yang bernas pun memiliki alasan sendiri, baik secara teknis maupun konseptual. Singkatnya, untuk dapat mencetak, sang seniman mencoba untuk mencari tahu apa yang ingin ia capai. Dan untuk mengetahui apa yang bisa ia capai, sang seniman perlu mencetak sebanyak mungkin, kalau perlu sebanyak yang ia bisa. Atas dasar itulah, kedua proses tersebut pada dasarnya adalah sebuah tindakan refleksif "dua-arah dan mencoba tanpa henti" yang terjadi antara mencetak -dan itu berarti berbicara tentang teknik, bahan baku, dan peralatan -dan ide artistik. Mencetak, bagi Agugn, dengan demikian, adalah seni berkelindan di antara dan memanfaatkan sebaik mungkin batasan-batasan yang ia temui, dan itu berarti dalam proses tersebut ia mencoba untuk menembus batas-batas artistiknya sejauh yang ia bisa.

Saat sang istri mengandung anak laki-laki mereka, Lino Apta, Agugn beralih dari cukil kayu ke teknik cukil lino karena teknik yang telah ia tekuni sebelumnya tidak lagi mungkin ia lanjutkan -serat-serat kayu yang memenuhi studionya (yang juga rumahnya) terlalu berbahaya bagi sang ibu dan anak.

Lino Apta lahir sebagai hadiah yang luar biasa, hadiah yang mengubah hidup sang seniman.

Ayah mertuanya, seniman Ipong Purnama Sidhi, memberinya alat cukil sebagai bingkisan, yang, tentu saja, sangat penting bagi seorang seniman yang hendak menekuni teknik cukil lino. Dan dari berbagai macam mata cukil yang ia miliki, ada dua yang selalu menyita perhatiannya: yang berbentuk U dan V, terutama karena efek ketajaman garis-garis halus yang bisa didapat dari keduanya.

Pelat lino yang memadai ternyata cukup sulit untuk didapat di Indonesia. Setelah sekian lama mencari, Agugn memutuskan untuk menggunakan bahan baku yang biasanya dipergunakan dalam pembuatan sol sepatu. Ia menggambar langsung di atas pelat-pelat ini, dan setelahnya mencukil pola yang telah tertera di atas pelat. Ia tidak menggunakan pelat yang berbeda untuk mencetak warna yang berbeda, alih-alih, ia menggunakan pisau cukilnya lagi di pelat yang sama untuk mencetak warna yang lain (dengan menggunakan metode reduktif).

Sang seniman mencetak hasil dari pelat-pelatnya dengan menggunakan teknik reduksi dengan registrasi berbentuk huruf L. Ia memliki dua alat tekan di studionya, yang kecil, untuk tekanan vertikal dengan luas maksimum 40x40cm, dan yang lebih besar, untuk tekanan datar dengan luas maksimum 45x65cm. Agugn sendiri yang membuat kedua alat tekan ini. Dua alat tekan yang dibuat berdasarkan pesanan tersebut, yang rentang permukaan tekannya terbatas, ternyata memberi konsekuensi tersendiri pada sang seniman dalam hal dimensi ukuran karyanya, yang dengan demikian, bila ia ingin menghasilkan karya yang berukuran besar maka ia harus bekerja secara modular, dan ini berarti entah ia menggunakan lebih banyak kertas di dalam satu bingkai (misalnya dalam Family Matters, salah satu materi pameran tunggalnya Natural Mystic) atau ia memadukan berbagai cetakan yang dibingkai secara terpisah (misalnya dalam sleepless, yang merupakan materi pameran kali ini). Dan metode pengerjaan karya seperti ini menghasilkan sebuah mosaik, yang dengan demikian memberikan kemudahan bagi seniman untuk menggunakan warna yang berbeda untuk setiap lembar yang berbeda, dan juga gambar yang berbeda-beda. Keterbatasan teknis semacam ini ternyata juga memberikan ruang eksplorasi konseptual bagi Agugn. Pendekatan modular semacam ini menunjukkan cara kita berada dalam dunia tempat kita hidup (ya, ke-plural-an kita, sebagaimana kita selalu bergerak ke dalam atau ke luar konteks -atau batasan-batasan -yang berbeda-beda, seperti yang dikatakan sang seniman -mengalir tanpa henti): bersama tetapi terpisah, dekat tetapi jauh…

Kertas yang digunakan sang seniman untuk karya cetaknya tidak lain adalah kertas yang dibuatnya sendiri, yang berbahan baku kertas koran dan kertas uji hasil cetak karya-karya sebelumnya yang didaur-ulang; kertas yang dibuatnya ini memiliki tekstur khas dan cukup tebal meski sangat berpori. Dan ia menggunakan tinta yang biasanya dipergunakan dalam industri percetakan. Kertas buatan sendiri semacam ini mampu menyerap tinta berbahan dasar minyak semacam itu, yang membuat warna-warna dalam hasil cetakan sangat mencolok dan hidup. Kertas tersebut juga bukanlah "sekedar" kertas buatan sendiri, karena lewat upaya pencarian dan penggodokan yang dilakukan sang seniman, ia mencoba menyempurnakan ramuan kertas rumahannya untuk mendapatkan hasil cetak yang sempurna.

Mencetak sebuah karya membutuhkan ketelitian tinggi dan Agugn adalah seorang perfeksionis, namun demikian, ia melihat kekeliruan dan improvisasi sebagai bagian dari proses berkaryanya. Kadang-kadang, sebuah kesalahan "menarik" dapat menuntun sang seniman pada sesuatu yang tidak terduga yang layak untuk dieksplorasi lebih lanjut. Dan baginya mencetak adalah proses yang sangat melelahkan, dan pada saat yang bersamaan ia mencari dan sekaligus membutuhkan repetisi-repetisi yang merupakan konsekuensi dari medium yang ia pilih. Ia tidak ingin bekerja dengan medium yang lain -misalnya lukisan atau gambar -karena pengulangan baginya adalah sesuatu yang penting, yang ia letakkan setara dengan sebuah proses yang sangat spiritual dan sarat nuansa mantra.

Ada karakter "kerjakan sendiri" yang kuat dalam gairah berkesenian Agugn: kertas buatan sendiri, alat tekan pesanan khusus, dan pelat dan tinta yang ia dapatkan dari tempat-tempat yang tidak biasa dilanggan para seniman. Bahkan lebih dari itu, teknik cukil lino-nya pun ia pelajari secara otodidak.

Karya-karya Agugn berhubungan dengan ruang-ruang intim dan privat, dan dengan dunia yang lebih luas yang terkait erat dengan ruang-ruang semacam itu. Hubungan antara yang intim dan yang privat dengan sebuah ranah-huni sosial yang lebih luas adalah satu dari kompleksitas semacam ini, yang sarat dan padat dengan kontradiksi-kontradiksi sehari-hari yang dipicu oleh persinggungan dogma-dogma dan norma-norma yang dibawa oleh dogma-dogma tersebut yang jelas berbeda satu dengan yang lain, dan untuk menterjemahkan ini semua ke dalam sebuah bidang bermatra dua menyaratkan sang seniman untuk bermain dengan posisi lapis-demi-lapis karyanya semaksimal mungkin, yang tidak jarang sejalan dengan pendekatan mosaik. Atas dasar itu, di dalam karya-karyanya kita jumpai sebuah figur tunggal disambangi oleh berbagai elemen yang mengacu atau kadang tidak mengacu sama sekali pada sesuatu.

Untuk bisa memahami dunia yang dirapal oleh Agugn, dengan demikian, seorang pengamat mesti menyimak dua rangkaian karya ini: Natural Mystic, yang telah saya singgung di halaman sebelumnya, dan juga Abducted by Himself, yang dipamerkan tahun 2012 di Selasar Sunaryo Art Space dalam pameran keempat dari Bandung New Emergence (tepatnya di bagian Soliquy), saat ia ambil bagian dengan sebuah artist book dan sejumlah besar koleksi karya-karyanya dalam ukuran kecil berbingkai. Koleksi tersebut erat kaitannya dengan persinggungan singkatnya dengan sebuah perusahaan percetakan dan dengan apa yang ia rasakan saat pekerjaan semacam itu seakan mengurung tubuhnya dan memenjarakan dirinya.

Di dalam karya yang ia pamerkan sebelumnya ini, sang seniman mengeksplorasi anggapan tentang ketakutan yang ambigu; ambiguitas tentang ketakutan semacam ini didasarkan pada gagasan bahwa ketakutan, sekalipun pada dasarnya tidak diinginkan, dapat memberikan konsekuensi yang tidak terduga tapi sekaligus sangat bernas -seni, misalnya.

Di sela-sela gerak dan ketangkasan sang seniman… di antara malam tanpa lelap, keterjagaan, kelelahan, sambut pagi dalam kegalauan. Dalam gerak berkelindan di antara jarum dan jepitan dibungkus kejutan berbalut tanda tanya dalam alur penantian. Juga tentang tidak pastinya isi dompet dan kantong. Tambah himpitan tuntutan keluarga besar dan pengapnya rengekan institusi agama. Dan seni kontemporer seakan tidak pernah berhenti menjajal batas mungkin. Ada ego yang menjadi pelengkap ramuan, dan jadilah sajian yang kental dengan klaim-klaim yang baku-saing dan baku tumbuk yang memuncak pada kegelisahan yang sarat dan pejal dengan tekanan. Atau, dengan kata lain, tentang bagaimana caranya hidup -dan memahat makna kehidupan -dalam sebuah belit kesimpang-siuran gelagat modernitas yang cair ini?

Sang seniman menjadi seorang ayah dua tahun lalu dan perkara menjadi ayah mempengaruhi hidup dan prioritas hidupnya. Ia ingin melindungi sang anak -yang diberi nama Lino Apta -dan melindunginya dari bahaya, namun demikian, ia pun tahu, dalam sebuah penantian sarat kegelisahan, bahwa melindungi pun ada batasnya -paradoks, memang…

Dalam pameran tunggalnya unguarded guards dalam Jogja Contemporary, ia menampilkan sebuah rangkaian karya terbarunya yang dikerjakan dengan teknik cukil lino, fotolithografi dan kombinasi keduanya, yang semuanya dicetak di atas kertas buatan sendiri. Rangkaian karya terbarunya ini mencoba membahas tentang konsep ketakutan, dan bertolak dari gagasan tentang betapa paradoksnya "perlindungan" yang bisa kita berikan.

Sang orang tua sejatinya memang berupaya sedapat mungkin untuk melindungi sang anak dari bahaya -yang mungkin terjadi. Namun demikian, seorang orang tua yang peka juga sadar akan paradoks yang dihadapinya: selalu ada batas-batas yang tidak bisa ditawar saat bicara tentang bagaimana seorang anak bisa dilindungi dari intaian bahaya.

Mengenali paradoks semacam ini membuat orang dapat menikmati tawa-canda, dan, juga, pesona dari hal-hal yang tidak terduga yang merupakan bagian dan bingkisan dari cinta yang tulus dan tanpa pamrih.

Dalam pameran unguarded guards, karya sleepless mengambil peran sang bintang. Karya ini adalah sebuah karya monumental. Ambisi Agugn untuk menyelesaikan karya ini membuatnya bekerja sampai larut malam, bekerja sampai subuh untuk menyelesaikan 44 lembar sebanyak tiga kali untuk setiap warna dengan teknik cukil lino. Dan ke-44 lembar tersebut, masing-masing berukuran 24,5x24,5cm, dibingkai secara terpisah (setiap bingkai berukuran 27x37cm). Bayangkan betapa menyengatnya dimensi karya ini, belum termasuk sengatan warna-warnanya…

Gabungan serba-serbi elemen, jukstaposisi benda-benda nyata dengan keapikan… menghasilkan realisme magis. Kata-kata berputar dan mengitar dalam kata-kata -dan bukan sekedar jungkir-balik-naik-turun, karena di sini hirarki dan skala telah ditanggalkan. Labirin persimpangan dan hiruk-pikuk semacam ini menawarkan sebuah jalan tanpa akhir untuk bercengkerama dengan sleepless.

Sekali lagi karya sleepless ini merangkum apa yang ingin dicapai oleh Agugn: eksplorasi berisiko dan eksperimentasi dengan cara menyusun dan menyusun ulang dan mengkomposisikan imaji-imaji yang di kepalanya sehingga sehingga kita bisa mengalami imaji-imaji itu baik secara keseluruhan maupun bagian-demi-bagian secara terpisah dan bebas.

Karya-karya baru yang ia hasilkan termasuk Chill #1-3 (menggunakan fotolithografi, sebuah teknik yang dapat menunjukkan goresan kuas sehingga hasil akhirnya dapat merekam tangan sang seniman sembari mempertahankan kesan pengulangannya, tiga macam warna untuk setiap lembar kertas yang berukuran 28x20cm masing-masing dengan 15 lembar di setiap bingkai); Kundika #2 (cukil lino, biru cobalt, 96x120cm, karena ia tidak memiliki alat tekan ukuran besar, ia mencetaknya secara manual dengan menggunakan sendok dan tangannya); dan Surface (sebuah kombinasi dari fotolithografi (foto yang ia temukan lewat fitur pencarian Google) dan cukil lino (untuk memekatkan warna), 20 bingkai karya dengan ukuran masing-masing 36x48cm).

Diterjemahkan oleh Mardohar B.B. Simanjuntak


Roy Voragen (b.1974; http://issuu.com/royvoragen), curator and writer, is from the Netherlands and he has lived in Indonesia since 2003. Until 2010, he taught undergraduate and graduate courses philosophy at universities in Bandung and Jakarta. Since 2010, he works fulltime as a curator and writer based in Bandung, focusing on Southeast Asia.

Unguarded Guards

Visual artist Agung - better-known under the moniker Agugn, which is more of a graphic gesture - Prabowo (Bandung, Indonesia, 1985; agugn.tmblr.com) graduated in 2010 from the Institute of Technology Bandung's art school, where he studied in the printmaking studio. To conclude his BFA, he used the woodcut technique for his final work. Today, this prolific visual artist is well known for his art utilizing the printmaking technique linocut.

After graduation, Agugn joined a printing company, but his employment didn't last too long as he felt unhappy to be creatively caged. After leaving this company, and a monthly paycheck that comes with job security, he and his wife, the artist Sekarputri Sidhiwati, founded their very own printing company Let's go Press (letsgopress.tumblr.com) in 2012, which specializes in the letterpress technique; but, most of all, he returned to where his heart belonged all along: visual art and risky explorations and experimentations in techniques, materials, tools, aesthetics and artistic ideas.

Agugn has shown his works in group exhibitions at home across Indonesia, and abroad in Singapore, Japan and Spain. Moreover, in 2012, he was announced first winner by the jury of the Indonesian Printmaking Triennale, which resulted in the touring solo exhibition Natural Mystic in 2013 (Bentara Budaya, Jakarta, Yogyakarta, Bali and Solo). In 2014, he was one of three awardees at the Jogja Mini Print Biennale and he received the Young Artist Award at ArtJog, both in Yogyakarta, and both lead to exhibition participations in 2015. At this year's ArtJog, he showed We Are All Made of Stars, symbolizing the different elements it used five different techniques: carborondum, woodcut, photolithography, linocut, and fingerprints by members of the audience, and all five on handmade paper.

The artist is very productive. And this prolific output is both for technical as well as for conceptual reasons. To be able to print, the artist needs to know what he wants to achieve. And to know what is achievable, the artist needs to print, a lot. Therefore, it is a reflexive going back-and-forth trial-and-error between printing - and its techniques, materials and tools - and artistic ideas. Printmaking, for Agugn, is, thus, the art of playfully making use of limitations and, in the process, pushing his very own artistic boundaries.

When his wife was pregnant with their son Lino Apta, Agugn moved from woodcut to the linocut technique as the former technique produces hazardous waste of scraps of wood fiber (his studio is at home).

Lino Apta is a great gift, a life-altering gift.

His father-in-law, the artist Ipong Purnama Sidhi, gave him carving tools as a present, which are, obviously, essential to an artist who wants to use the linocut technique. And of these tools, he mostly uses two: the U- and V-shaped ones to achieve sharp, tiny lines.

Good lino plates are difficult to come by in Indonesia. After ample research, Agugn decided on an alternative: he started using a material typically used to make soles for shoes. He draws directly on these plates, and, subsequently, he cuts into these plates. He doesn't use different plates to print different colors, instead he carves again on the same plate to print different colors (using reductive methods).

The artist prints the plates using reduction techniques with L-shaped registration. He has two presses in his studio, a small, vertical press for maximum 40x40cm and a bigger, flatbed press for maximum 45x65cm. Agugn himself built both these presses. The two custom-tailored presses have due to their limited size an impact on what he can achieve in terms of dimensions, therefore, if he decides that an artwork requires a larger size he has to work modular and either show more sheets of paper in one frame (Family Matters in his solo exhibition Natural Mystic is an example) or show the work in a grid with each print separately framed (sleepless, for example, in this exhibition). This results in a mosaic, which has the benefit that different sheets can be treated with different colors and also can be given different images. He also makes this technical limitation work for him conceptually. The modular approach shows how we stand amidst our life-worlds (yes, plural, as we all move in-and-out different contexts - or grids, as the artists puts it - continuously): together yet separate, nearby yet far…

The paper the artist uses for his prints are hand-made, one of its ingredients is recycled paper from newspapers as well as from test prints; the paper is textured and thick yet porous. And he uses ink usually used for offset printing. The hand-made paper has the ability to absorb the oil-based ink, which makes the colors look vivid and vibrant. The paper isn't just hand-made, the artist also, through research, designed its formula to make it perfect for printmaking.

Printmaking requires meticulous precision and Agugn is a perfectionist, yet, he sees mistakes and improvisation as part of his practice. Sometimes, a good mistake can lead to something rather unexpected worthwhile exploring further. And for him printmaking is a painstaking process and at the very same time he seeks and needs the repetition that comes with his medium of choice. He doesn't want to work in any other medium - for example, painting or drawing - because repetition is so important, which he likens to a spiritual, mantra-like process.

There is a DIY-quality to Agugn's artistic practice: handmade paper, custom-made presses, and plates and ink sourced from unlikely places. Furthermore, the linocut technique was self-taught.

Agugn's work deals with intimate, private spaces and how the wider world has a bearing on these spaces. The relationships of the intimate and the private with a larger social ecosphere are one of complexity, perforated by everyday contradictions because of the proximity of different dogmas and their norms, and to translate all this to a two-dimensional plane requires the artist to make good use of juxtaposition, often in conjunction with the mosaic approach. Therefore, in a great many of the works a lone figure is surrounded by the miscellaneous signifying something and sometimes nothing.

To understand the world Augn has created thus far, one for sure has to look at two bodies of his work: the aforementioned Natural Mystic and also Abducted by Himself, exhibited at Selasar Sunaryo Art Space's fourth installment of Bandung New Emergence (in the Soliquy section) in 2012, for which he created an artist book and a large collection of small, framed works. The latter deals with his stint at the printing company and how he felt trapped in his body working there.

In these previous artworks, the artist explored the ambiguous notion of fear; the ambiguity of fear revolves around the issue that fear, while generally unwanted, can have unexpected yet ultimately worthy consequences - for example, art.

Tossing and turning… the sleepless nights, wide-awake, weary, dreading the morning light. Walking on pins and needles in anxious anticipation of what might come along the way. Worries about money. Demands made by the extended family and religion. Contemporary art seemingly demanding this or that. Throw ego into the mix, and you have a variety of conflicting claims causing stressful restlessness. Or, in other words, how to live - and carve out a living - within the complex conundrums of liquid modernity?

The artist became a father two years ago and fatherhood shed new light on his life and life's priorities. He wants to protect the infant - named Lino Apta - and keep him safe from harm, however, he knows, in anxious anticipation, that protection has its limits - a paradox…

In his solo exhibition unguarded guards at Jogja Contemporary, he shows a completely new body of work using linocut, photolithography and a combination of the two techniques, all printed on hand-made paper. The new body of work expands on the concept of fear and centers on the idea of how paradoxical protection actually is.

The parent ultimately aims to protect the child from - potential - harm. However, a sensible parent also recognizes the paradox: there are limits to how a child can be shielded from harm.

Recognizing this paradox enables one to enjoy the laughter, and, also, the charm of the unexpected that's all part and parcel of unconditional love.

In the exhibition unguarded guards, the work sleepless is the centerpiece. It is an epic work. Agugn's ambition to achieve this work literally caused him to burn the midnight oil night after night, working till dawn to print the 44 sheets of paper three times for each color with the linocut technique. And the 44 sheets, each 24.5x24.5cm, are separately framed (each frame is 27x37cm). The sheer size of this work, not to mention the explosion of colors…

The mixing of miscellanea, the juxtaposing of real objects with the fantastical… resulting in a magical realism. Worlds twirling and swirling within worlds - and not merely topsy-turvy, as hierarchy and scale have been abandoned. This labyrinthine of intersections and jams offers a near infinite way of engaging with sleepless.

The work sleepless sums up what Agugn aims to achieve: risky explorations and experimentations to achieve by arranging and re-arranging and composing the images he has in his mind so we can experience it is a whole as well as each part separately and independently.

Other new works included in the show are Chill #1-3 (photolithography, which is a technique that can show a brushstroke so it can capture the artist's hand while still retaining the sense of repetition, three colors on each sheet of paper of 28x20cm each with 15 sheets in one frame); Kundika #2 (linocut, cobalt blue, 96x120cm, because he doesn't have a big press, he printed manually using a spoon and his hand); and Surface (a combination of photolithography (photos he found through Google search) and linocut (to block colors), 20 frames of each 36x48cm).


Roy Voragen (b.1974; http://issuu.com/royvoragen), curator and writer, is from the Netherlands and he has lived in Indonesia since 2003. Until 2010, he taught undergraduate and graduate courses philosophy at universities in Bandung and Jakarta. Since 2010, he works fulltime as a curator and writer based in Bandung, focusing on Southeast Asia.

Works

Photos

Agugn-001
Agugn-002
Agugn-003
Agugn-004
Agugn-005
Agugn-006
Agugn-007
Agugn-008
Agugn-009
Agugn-010
Agugn-011
Agugn-012
Agugn-013
Agugn-014
Agugn-015
Agugn-016
Agugn-017
Agugn-018
Agugn-019
Agugn-020
Agugn-021
 
Back to top ↑
[2,497,912 bytes / 2.38 MB] [2,625,584 bytes / 2.50 MB (peak)]