Exhibition Date
June 24th - July 6th, 2015

Artists
Arwin Hidayat
Sunardi ST

Among

AMONGROSO

Arwin Hidayat dan Sunardi bersepakat memilih judul "Among" dalam pameran berdua kali ini. Judul yang dipilih memang sederhana, namun justru itulah hal yang menarik. Mereka berdua mampu memaknai sesuatu hal yang sederhana dan ada rasa syukur terhadap kesederhanaan itu. Definisi "among" memiliki beberapa arti tergantung dari asal bahasa apa kita memaknainya. Jika ditinjau dari asal kata bahasa Jawa, "among" berarti pemelihara. Sedangkan, bila ditinjau dari bahasa Inggris, "among" adalah sebuah preposisi yang artinya adalah dikelilingi oleh, atau ditemani oleh, atau berada bersama seseorang/ sesuatu. Dalam Bahasa Inggris, "among" bisa pula berarti bagian dari sebuah kelompok.

Dalam kehidupan Arwin dan Sunardi sehari-hari tentunya banyak hal, peristiwa, dan perjumpaan yang telah mereka lalui. Interaksi dan sosialisasi dalam masyarakat, pergaulan antar teman, serta problem pribadi dapat menjadi pemicu munculnya ide berkarya. Narasi kehidupan yang mereka lakoni saat ditemani oleh keluarga/ pasangan mereka masing-masing juga memberikan inspirasi dalam berkarya. Misal pada karya Arwin berjudul "She is a Rainbow", di sana Arce Priangsari, seorang gadis paling manis se-Sleman, memberikan inspirasi bagi Arwin. Dalam karya itu pelangi menjadi metafora akan keberadaan sosok Arce dalam kehidupan Arwin. Karya lain dapat kita simak dari karya Sunardi yang dibuat pada lembaran-lembaran kartu pos, salah satu judulnya "Nemu Hijau". Karya tersebut bercerita mengenai bagaimana kangen dijabarkan secara erotis.

Sebagai bagian dari masyarakat seni rupa, mereka pun menjadi "among" terhadap proses dan karya. Proses kreatif yang telah dijalani itu mereka pelihara hingga melahirkan karya-karya seni. Selayaknya seorang anak yang lahir, kelahiran karya itu pun mereka syukuri dengan cara menjaga, memelihara, dan mencintai. Namun mencintai segenap proses dan karya di sini bukanlah mencintai dengan membabi buta seperti Romeo yang tanpa sangsi menenggak racun kemudian mati. Mereka sadar akan proses itu, tak ingin nantinya Juliet bunuh diri dengan menikam dadanya sendiri tanpa ragu.

Sekitar dua minggu pameran ini akan berlangsung tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan proses masing-masing sebelumnya. Namun setiap momen yang terjadi tetap dirasakan memiliki makna positif. Arwin dan Sunardi memiliki semangat berkarya militan, ada sesuatu yang mesti diamini. Bahkan sampai detik ini mereka berdua masih berproses, berkarya, berteman, dan berpameran bersama. Semua hal itu mereka syukuri lagi. Tak mudah menjaga dan memelihara semangat, terlebih meyakini bahwa dari gambar bisa untuk hidup. Mereka dapat melampaui itu semua lantaran adanya kesadaran bahwa seni itu hidup.

Konsep berkarya Arwin sebenarnya juga simpel. Ia mampu berkarya dimana saja dan menggunakan bahan apapun. Karya drawing bagi Arwin adalah sesuatu medium dimana ia dapat lebih liar berkarya, seperti halnya menggoreskan garis tanpa beban. Dan apa yang telah mereka ciptakan itu perlu dikomunikasikan serta dijaga. karana itu sesuatu yang telah lahir jujur dari dalam dirinya. Konsep berkesenian Sunardi adalah seni itu rumah, seni itu indra, seni itu sudah mulai ketika bangun, sadar, dan hidup. Hidup itu hanya sementara tapi karya itu selamanya.

Arwin dan Sunardi melakoni semua proses berinteraksi, berkarya, dan berkesenian secara mengalir, selo, dan andhap asoy. Mereka tidak berharap dirinya menjadi superman atau spiderman yang datang menjadi superhero siapapun. Cukup mereka saja yang merasakannya. Tanpa tendensi, tanpa ekspektasi. Tapi…, biarkan udara menjelma menjadi merah jambu ketika mereka bersama, hahahaa! Sebab mereka meskipun berpameran berdua, dalam konteks "among" ini mereka kini telah melebur dalam keunikan yang berbeda. Tak baik jika aku membandingkan Arwin (dan karya-karyanya) dengan Sunardi (beserta karya-karyanya)/ membandingkan mereka berdua dengan yang lain, begitu pula dengan diri mereka padaku. Terima kasih telah menghargai dan menyadari bahwa kalian adalah sosok yang berbeda. Unik. Satu hal yang ingin aku sampaikan lagi, tentang pertama kali aku mengamati karya-karya "among" kalian. Ini rahasia, jangan lupa memasukkan daftar ini ke agenda kitab rahasia kita bertiga.

Waktu itu -tak derfinisi tanggal dan hari- aku mengamati untuk kali pertama karya "among" kalian di sebuah warung rakyat. Duduk ngobrol dengan asik. Dan yang pasti aku ingin mengenal kalian, mendengar, dan mencatat hasil pembicaraan. Aku berpikir, karya-karya kalian unik, menyimpan kisah apakah, ada kode-kode visual rahasia kah, apa cerita keseharian, apa tentang cinta. Seusai diri kalian berdua pergi, aku bertanya pada diri sendiri, bahwa karya-karya kalian ini gambar apa sebenarnya? Karena gambar itu bukan sekedar ilustrasi, bahkan ilustrasi pun bukan sekedar gambar pula. Ketika menggambar sesuatu, otak, rasa, dan tangan saling berkaitan. Itulah totalitas. Karena totalitas itu otomatis terjadi selayaknya bernafas. Akhirnya kutemukan jawaban, sekaligus bersyukur pada seni (seperti apa yang kalian lakukan), setiap orang bisa bebas menafsirkan karya-karya di sini. Terima kasih sudah melibatkanku dalam proses kalian berdua.

– AC Andre Tanama (konco wedangan di warung rakyat)




Works

Api
Api
Gg
Gg
Iya
Iya
Up
Up

Photos

Among-001
Among-002
Among-003
Among-004
Among-005
Among-006
Among-007
Among-008
Among-009
Among-011
Among-012
Among-013
Among-014
Among-015
Among-016
Among-017
Among-018
Among-019
Among-020
Among-021
Among-022
Among-023
Among-024
Among-025
Among-026
Among-027
Among-028
Among-029
 
Back to top ↑
[2,914,912 bytes / 2.78 MB] [3,525,040 bytes / 3.36 MB (peak)]