Exhibition Date
February 4th - 27th, 2015

Artist
AT. Sitompul, S.Sn

AT. Sitompul: Atraksi Abstrak

Boleh Aku Melangkah Ke Atas, Ya Tuhan

Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat.
Saya nggak pernah mikir karena cuma melangkah saja.
Ngapain mikir, kan cuma selangkah!
(Bob Sadino)

(1)

Pada pertengahan tahun yang lalu, sewaktu kita berkumpul membahas persiapan pelaksanaan Abstract Road Show Exhibition yang diawali dengan Pameran SOULSCAPE in Progress #1 di Ruang Rupa NalaRRoepa pada bulan Agustus 2014 yang lalu, AT Sitompul sebagai salah satu perupa abstrak, peserta dan penggagas mengusulkan tema PROGRESS atau kemajuan sebagai tema inti untuk menandai pameran Perjalanan Pelukis Abstrak Indonesia yang telah digelar berturut-turut sejak tahun 2005 sebanyak 14 kali dan berlangsung hampir dalam setiap tahun di pelbagai kota di pulau Jawa dan Bali. Kemajuan penciptaan bagi AT Sitompul bukan sekedar tumbuh berkembang, adanya perubahan dalam karya-karya barunya saja, tetapi lebih dari itu, yaitu adanya kemajuan total yang dialami secara sadar dalam olah rasa, olah pikir dan olah ciptanya. Karya-karya dan imaji-imaji yang diciptakannya dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini tidaklah merupakan upaya melakukan re-presentasi esensi realitas alam semata-mata, tetapi dengan jelinya ia mengolah dan menyadari bahwa seni adalah suatu keteraturan, tetapi tidak seluruh keteraturan akan mewujud menjadi seni. Adalah wajar bagi seorang perupa kreatif akan selalu merasa gelisah dan terus menerus bertanya kepada dirinya (syukur kalau ada teman yang bisa diajak berbincang), sebuah karya baru terlahir selalu akan menjadi tantangan dan memunculkan pertanyaan baru lagi!

Menyusun tulisan untuk pengantar pameran tunggal AT Sitompul sekarang ini tidaklah menjadi sederhana. Saya mencoba dengan menggunakan 'mata hati' dengan bertumpu pada 'rasa getar' yang dapat saya terima, saya renungkan dan mencoba menuliskan dalam suatu literasi visual yang semoga mampu menjadi semacam jembatan komunikasi dengan para pencinta ataupun pengamat seni lainnya. Disamping itu perlu juga ditambah dengan retorika visual yang untuk lebih mempertegas bagaimana atau mengapa imaji-imaji visual itu mampu mengkomunikasikan makna. Mengamati karya-karya dan imaji-imaji yang disajikan oleh AT Sitompul tidak hanya tentang keunggulan desain nirmana dan estetika tetapi juga tentang bagaimana budaya dan makna itu direfleksikan, dikomunikasikan, dan diubah oleh imaji-imaji. Literasi visual melibatkan semua proses dalam mengetahui dan menanggapi suatu imaji visual, serta semua pemikiran yang mungkin masuk membantu membangun, mengkonstruksikan atau memanipulasi suatu imaji.

Semakin kita menyatu dan mengamati alam (makro dan mikro kosmos) kita akan mampu melihat dan merasakan perubahan kekal dari alam yang terjadi antara lain pada cahaya, warna, gerakan dan bentuk-bentuk yang ada. Seorang seniman non-abstrak yang terkagum dan mampu meresapi obyek alam yang nyata dalam setiap kali mencoba untuk menangkap pesonanya akan gelisah cemas dalam berburu menangkap dan mengejar keaselian keindahannya. Bagaimanapun pengalaman itu selalu dan harus terjadi, terutama untuk melatih dan meningkatkan tingkatan kepekaan 'rasa' serta kemampuan naluri intuitif. Bagi seniman abstrak atau non-obyektif seharusnya tidak usah gelisah lagi karena ia telah bebas dari 'keterikatan' ataupun 'kemelekatan' akan pesona alam itu dan kehendak untuk merepresentasikan keindahan yang dia rekam. Mereka lebih bahagia dan merasa tenteram karena rasa 'bebas' itu telah meningkat menjadi rasa 'merdeka', terutama karena mereka semakin akrab dengan esensi makna keindahan alam itu. Contoh yang nyata terdapat pada karya-karya AT Sitompul yang dipamerkan dalam Pameran SOULSCAPE in progress#1 pada bulan Agustus 2014 yang lalu. Bermuara pada elemen titik dengan sumber ide huruf Braille serta bintang-bintang di galaksi, dipamerkan karya-karyanya yang diberi judul "Surat Pertama" dan "Maritime Culture". Ternyata kita punya kebutaan sebuah aksara yang sudah universal, Huruf Braille! Untuk karya berikutnya, ... Terbentuknya kebudayaan maritim (seperti Indonesia), menurut saya, salah satunya karena adanya keahlian dalam pembacaan rasi bintang ... Tapi, sejauh mana pengetahuan kita akan bentuk susunan kebintangan itu di langit sana? (AT Sitompul, 2014). Pernyataan dan pertanyaan pribadi yang sangat esensial serta menyiratkan makna yang dalam.

(2)

Dalam karya-karyanya yang digelar kali ini, AT Sitompul konsisten tidak menghadirkan adanya representasi objek, maupun pemaknaan subjek. Dapat dirasakan karya-karya ini sebagai suatu penemuan bebas yang disebut sebagai seni non-objektif atau seni abstrak. Mereka mewakili suatu dunia yang unik dari mereka sendiri, sebagai sebuah ciptaan dengan pengorganisasian yang penuh aturan dari warna- warna monokromatik serta pelbagai variasi bentuk, raga dan irama. Pelbagai irama itu membangunkan suatu vibrasi, getar yang menyentuh hati sekaligus mengingatkan dan menyampaikan pelbagai makna. Kombinasi seperti ini ketika diciptakan oleh seorang seniman yang sedang mendalami perjalanan spiritualnya akan dapat menimbulkan suasana relaksasi, ketenangan atau keceriaan seperti layaknya menikmati musik.

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda sewaktu mendengarkan musik. Ada getar yang ditimbulkan oleh nada dan melodi dari dalam musik itu yang dapat didengar oleh sang penikmat musik itu. Demikian juga situasi seperti itu diperlukan dalam menyikapi sebuah karya seni abstrak. Karya seni abstrak, seperti musik klasik atau instrumentalia, pada umumnya tidak ada hubungannya dengan reproduksi alam. Mereka merupakan representasi sekaligus interpretasi baru tentang makna intelektual. Siapa pun yang mampu merasakan keindahan titik, garis, warna dan bentuk akan cepat dapat memahami karya-karya seni abstrak itu. Olah kreatif seorang seniman mampu dengan canggih mengawinkan elemen-elemen estetis itu dan melahirkan pelbagai bentuk dan raga geometris yang kemudian dijadikan fondasi dalam membangun apa yang nantinya disebut sebagai karya seni abstrak. Getar 'keindahan penampilan' karya-karya yang dipamerkan kali ini mengajak mata kita meresapnya membawa masuk ke hati melalui media kecerdasan intuitif yang disebut spirit.

Mari kita amati dan resapi karya AT Sitompul yang berjudul: Ketika Kata Tidak Lagi Bermakna, (Acrylic on Canvas, 135 x 135 cm, 2011). Sebuah tampilan imaji-imaji yang terdiri dari pelbagai raga-raga geometris yang tertata rapi dalam suatu keteraturan yang sepertinya satu sama lain sudah menyadari posisinya masing-masing seperti sebuah orkestrasi yang sedang bermain dengan kepatuhan yang tinggi terhadap sang konduktor. Irama sederhana yang dimunculkan dari barik garis-garis sejajar meredam ulah dari pelbagai raga geometris yang berpadu membangun suasana atau dimensi keceriaan. Mengamati raga lingkaran tidaklah harus selalu menyiratkan sensasi atau memori untuk apapun yang diketahui atau kejadian yang tidak dikenal. Tidak ada simbol dan tidak ada akal. Ini adalah suatu bentuk sempurna dengan keindahan dari raga. Tiga bentuk geometri dasar – persegi empat, segitiga, lingkaran - menawarkan bermacam-macam kemungkinan atau keterkaitan. Lingkaran adalah suatu kontinuitas terkonsentrasi dalam dirinya sendiri, terisolasi dan mengambang dalam kepentingannya sendiri, tidak dipengaruhi oleh apapun yang ada di dalam ataupun yang di luar. Persegi empat memiliki delapan sisi, empat di dalam dan empat di luar. Ini memberi dan menerima ruang, dan juga titik-titik dengan sudut-sudutnya yang mengarah lebih lanjut.. Segitiga, mungkin, kurang spiritual, menekankan dengan menunjuk dari dasar yang acuh tak acuh. Ini semua adalah bentuk-bentuk mutlak dari kemurnian dan keindahan.

Karya seni non-objektif seperti ini, karena dunia mereka sendiri, tidak memiliki makna untuk dirinya, dan juga tidak mewakili apapun. Mereka tampak indah atau tidak menyenangkan di depan mata kita seperti halnya musik yang indah atau menyebalkan di telinga kita. Orang bereaksi berbeda terhadap irama, nada dan melodi. Tentu saja menjadi sulit untuk berhubungan dengan banyak karya non-obyektif sekaligus, seperti halnya, untuk mendengar rangkaian tembang Jawa semuanya berturut-turut untuk pertama kalinya. Tapi bagi seorang ahli, tindakan ini akan membangun kenikmatan baru membandingkan detail dan variasi nada pelbagai melodi yang berbeda.

Lebih sederhana lagi, mari kita nikmati karya abstrak AT Sitompul yang berjudul: Menjaga Kebaikan Dengan Kebenaran (Acrylic on Canvas, 135 x 135 cm, 2011). Dua buah imaji raga yang disusun bertumpangan didukung dengan barik bidang garis memiring sejajar beraturan dengan pewarnaan merah muda temaram berselangseling dengan warna putih menimbulkan irama pengulangan dan sensasi getar yang mengalun tenang. Makna dimunculkan karena sang seniman menyadari betul peran korelasi kedua raga geometris persegi empat ini dengan tatanan lingkungannya adalah sangat penting. Terciptanya suatu ruangan baru atau lebih tepatnya suatu dimensi baru yang dapat dijadikan 'teman baru' atau 'kamar spesial' untuk santai merenungi hidup dan kehidupan ini... Jadi, tidak ada keindahan yang dicapai dan tidak ada kehidupan spiritual yang dibuat. Di dalam seni tidak ada kesengajaan dalam pemanfaatan raga-raga ataupun bentuk- bentuk. Ini mungkin tampaknya sederhana untuk membuat suatu komposisi dengan bentuk-bentuk primer, namun nilai artistik suatu ciptaan terletak pada kombinasi yang bisa dibawa ke dalam kehidupan spiritual hanya dengan keterkaitan antara irama dan ruang. Persegi empat ini, tampaknya, adalah suatu bentuk yang lebih spiritual dalam hubunganmya dengan ruang

Tatanan positif dari karya-karya abstrak bukanlah suatu kebetulan. Keselarasan awal yang dipilih untuk memutuskan bentuk atau raga geometris primer dengan warna tertentu, harus diikuti untuk solusi tindakan selanjutnya. Kenikmatan, pergerakan dan daya pikat yang terus tumbuh yang ditawarkan oleh karya itu 'sepadan dengan masalah' untuk penikmat agar membiasakan diri dengan mereka.

Spirit mulai ketika materialisme berakhir. Pernyataan yang lugas dari sebuah lukisan absolut dan penciptaan murni dalam pengertian kosmik menghancurkan ilusi realisme duniawi dalam lukisan yang representativ. Pandangan-pandangan telah berubah setelah para pencipta menemukan visi tentang dunia dan berpaling dari kontemplasi bumi. Inspirasi materialistis tidak akan pernah dapat memulai penciptaan, tetapi intuisi pasti mampu mengarah pada tujuan itu.

(3)

Dalam perkembangan dan kemajuan kebudayaan global sekarang ini nampaknya dibutuhkan sesuatu yang ideal dan baru, sesuatu yang jauh lebih hidup, mempunyai nilai dan berharga terutama bagi mereka yang merindukan keberadaban sebagai insan manusia yang berakal dan bermartabat penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Seniman seperti AT Sitompul dengan karya-karya abstraknya yang menampilkan kemajuan ini tidaklah harus menunggu 'persetujuan', karya itu telah melesat dalam jalur sang waktu. Kekuatan kosmik mereka tidak memiliki kesabaran untuk sekedar biasa-biasa saja. Mereka mendorong kemajuan dan perkembangan ketimbang ketidakpedulian.

Para seniman ini mengikuti hati nuraninya ke arah sumber cahaya dipancarkan, dan tidak membutuhkan sensasi. Ia mengembangkan kebesarannya untuk membangun keyakinannya yang lebih tangguh, kesederhanaan yang lebih dalam dan pengalaman teknis yang lebih piawai. Dengan disiplin diri yang keras dan kejam seorang empu yang terlahir itu menanggapi hati nuraninya yang sensitif menyadari pengabdiannya yang tak terbatas untuk tujuan kesempurnaan dan keindahan. Semua keberadaannya terwujud dengan kerja keras untuk mencapai keindahan dan meningkatkan kekayaan spiritual di bumi.

Seni non-objektif tidak perlu untuk dipahami atau dihakimi. Itu harus dirasakan dan itu akan mempengaruhi mereka yang mempunyai mata 'hati' untuk mengamati keindahan hanya dari pelbagai bentuk dan aneka warna. Meskipun kita semua mampu menikmati sinar matahari, baik dengan perasaan sukacita maupun panasnya sinar matahari itu sendiri, hal itu baru memiliki makna kalau intelek kita mampu memahami bagaimana atau mengapa semua itu dapat terjadi satu.

Sebuah karya seni hakekatnya adalah upaya berdamai dengan kehidupan.

Kampung Sawah, 20 Januari 2015

Sulebar M. Soekarman, Pelukis Abstrak

Boleh Aku Melangkah Ke Atas, Ya Tuhan

Orang pintar mikir ribuan mil, jadi terasa berat.
Saya nggak pernah mikir karena cuma melangkah saja.
Ngapain mikir, kan cuma selangkah!
(Bob Sadino)

(1)

Pada pertengahan tahun yang lalu, sewaktu kita berkumpul membahas persiapan pelaksanaan Abstract Road Show Exhibition yang diawali dengan Pameran SOULSCAPE in Progress #1 di Ruang Rupa NalaRRoepa pada bulan Agustus 2014 yang lalu, AT Sitompul sebagai salah satu perupa abstrak, peserta dan penggagas mengusulkan tema PROGRESS atau kemajuan sebagai tema inti untuk menandai pameran Perjalanan Pelukis Abstrak Indonesia yang telah digelar berturut-turut sejak tahun 2005 sebanyak 14 kali dan berlangsung hampir dalam setiap tahun di pelbagai kota di pulau Jawa dan Bali. Kemajuan penciptaan bagi AT Sitompul bukan sekedar tumbuh berkembang, adanya perubahan dalam karya-karya barunya saja, tetapi lebih dari itu, yaitu adanya kemajuan total yang dialami secara sadar dalam olah rasa, olah pikir dan olah ciptanya. Karya-karya dan imaji-imaji yang diciptakannya dalam kurun sepuluh tahun terakhir ini tidaklah merupakan upaya melakukan re-presentasi esensi realitas alam semata-mata, tetapi dengan jelinya ia mengolah dan menyadari bahwa seni adalah suatu keteraturan, tetapi tidak seluruh keteraturan akan mewujud menjadi seni. Adalah wajar bagi seorang perupa kreatif akan selalu merasa gelisah dan terus menerus bertanya kepada dirinya (syukur kalau ada teman yang bisa diajak berbincang), sebuah karya baru terlahir selalu akan menjadi tantangan dan memunculkan pertanyaan baru lagi!

Menyusun tulisan untuk pengantar pameran tunggal AT Sitompul sekarang ini tidaklah menjadi sederhana. Saya mencoba dengan menggunakan 'mata hati' dengan bertumpu pada 'rasa getar' yang dapat saya terima, saya renungkan dan mencoba menuliskan dalam suatu literasi visual yang semoga mampu menjadi semacam jembatan komunikasi dengan para pencinta ataupun pengamat seni lainnya. Disamping itu perlu juga ditambah dengan retorika visual yang untuk lebih mempertegas bagaimana atau mengapa imaji-imaji visual itu mampu mengkomunikasikan makna. Mengamati karya-karya dan imaji-imaji yang disajikan oleh AT Sitompul tidak hanya tentang keunggulan desain nirmana dan estetika tetapi juga tentang bagaimana budaya dan makna itu direfleksikan, dikomunikasikan, dan diubah oleh imaji-imaji. Literasi visual melibatkan semua proses dalam mengetahui dan menanggapi suatu imaji visual, serta semua pemikiran yang mungkin masuk membantu membangun, mengkonstruksikan atau memanipulasi suatu imaji.

Semakin kita menyatu dan mengamati alam (makro dan mikro kosmos) kita akan mampu melihat dan merasakan perubahan kekal dari alam yang terjadi antara lain pada cahaya, warna, gerakan dan bentuk-bentuk yang ada. Seorang seniman non-abstrak yang terkagum dan mampu meresapi obyek alam yang nyata dalam setiap kali mencoba untuk menangkap pesonanya akan gelisah cemas dalam berburu menangkap dan mengejar keaselian keindahannya. Bagaimanapun pengalaman itu selalu dan harus terjadi, terutama untuk melatih dan meningkatkan tingkatan kepekaan 'rasa' serta kemampuan naluri intuitif. Bagi seniman abstrak atau non-obyektif seharusnya tidak usah gelisah lagi karena ia telah bebas dari 'keterikatan' ataupun 'kemelekatan' akan pesona alam itu dan kehendak untuk merepresentasikan keindahan yang dia rekam. Mereka lebih bahagia dan merasa tenteram karena rasa 'bebas' itu telah meningkat menjadi rasa 'merdeka', terutama karena mereka semakin akrab dengan esensi makna keindahan alam itu. Contoh yang nyata terdapat pada karya-karya AT Sitompul yang dipamerkan dalam Pameran SOULSCAPE in progress#1 pada bulan Agustus 2014 yang lalu. Bermuara pada elemen titik dengan sumber ide huruf Braille serta bintang-bintang di galaksi, dipamerkan karya-karyanya yang diberi judul "Surat Pertama" dan "Maritime Culture". Ternyata kita punya kebutaan sebuah aksara yang sudah universal, Huruf Braille! Untuk karya berikutnya, ... Terbentuknya kebudayaan maritim (seperti Indonesia), menurut saya, salah satunya karena adanya keahlian dalam pembacaan rasi bintang ... Tapi, sejauh mana pengetahuan kita akan bentuk susunan kebintangan itu di langit sana? (AT Sitompul, 2014). Pernyataan dan pertanyaan pribadi yang sangat esensial serta menyiratkan makna yang dalam.

(2)

Dalam karya-karyanya yang digelar kali ini, AT Sitompul konsisten tidak menghadirkan adanya representasi objek, maupun pemaknaan subjek. Dapat dirasakan karya-karya ini sebagai suatu penemuan bebas yang disebut sebagai seni non-objektif atau seni abstrak. Mereka mewakili suatu dunia yang unik dari mereka sendiri, sebagai sebuah ciptaan dengan pengorganisasian yang penuh aturan dari warna- warna monokromatik serta pelbagai variasi bentuk, raga dan irama. Pelbagai irama itu membangunkan suatu vibrasi, getar yang menyentuh hati sekaligus mengingatkan dan menyampaikan pelbagai makna. Kombinasi seperti ini ketika diciptakan oleh seorang seniman yang sedang mendalami perjalanan spiritualnya akan dapat menimbulkan suasana relaksasi, ketenangan atau keceriaan seperti layaknya menikmati musik.

Setiap orang memiliki reaksi yang berbeda sewaktu mendengarkan musik. Ada getar yang ditimbulkan oleh nada dan melodi dari dalam musik itu yang dapat didengar oleh sang penikmat musik itu. Demikian juga situasi seperti itu diperlukan dalam menyikapi sebuah karya seni abstrak. Karya seni abstrak, seperti musik klasik atau instrumentalia, pada umumnya tidak ada hubungannya dengan reproduksi alam. Mereka merupakan representasi sekaligus interpretasi baru tentang makna intelektual. Siapa pun yang mampu merasakan keindahan titik, garis, warna dan bentuk akan cepat dapat memahami karya-karya seni abstrak itu. Olah kreatif seorang seniman mampu dengan canggih mengawinkan elemen-elemen estetis itu dan melahirkan pelbagai bentuk dan raga geometris yang kemudian dijadikan fondasi dalam membangun apa yang nantinya disebut sebagai karya seni abstrak. Getar 'keindahan penampilan' karya-karya yang dipamerkan kali ini mengajak mata kita meresapnya membawa masuk ke hati melalui media kecerdasan intuitif yang disebut spirit.

Mari kita amati dan resapi karya AT Sitompul yang berjudul: Ketika Kata Tidak Lagi Bermakna, (Acrylic on Canvas, 135 x 135 cm, 2011). Sebuah tampilan imaji-imaji yang terdiri dari pelbagai raga-raga geometris yang tertata rapi dalam suatu keteraturan yang sepertinya satu sama lain sudah menyadari posisinya masing-masing seperti sebuah orkestrasi yang sedang bermain dengan kepatuhan yang tinggi terhadap sang konduktor. Irama sederhana yang dimunculkan dari barik garis-garis sejajar meredam ulah dari pelbagai raga geometris yang berpadu membangun suasana atau dimensi keceriaan. Mengamati raga lingkaran tidaklah harus selalu menyiratkan sensasi atau memori untuk apapun yang diketahui atau kejadian yang tidak dikenal. Tidak ada simbol dan tidak ada akal. Ini adalah suatu bentuk sempurna dengan keindahan dari raga. Tiga bentuk geometri dasar – persegi empat, segitiga, lingkaran - menawarkan bermacam-macam kemungkinan atau keterkaitan. Lingkaran adalah suatu kontinuitas terkonsentrasi dalam dirinya sendiri, terisolasi dan mengambang dalam kepentingannya sendiri, tidak dipengaruhi oleh apapun yang ada di dalam ataupun yang di luar. Persegi empat memiliki delapan sisi, empat di dalam dan empat di luar. Ini memberi dan menerima ruang, dan juga titik-titik dengan sudut-sudutnya yang mengarah lebih lanjut.. Segitiga, mungkin, kurang spiritual, menekankan dengan menunjuk dari dasar yang acuh tak acuh. Ini semua adalah bentuk-bentuk mutlak dari kemurnian dan keindahan.

Karya seni non-objektif seperti ini, karena dunia mereka sendiri, tidak memiliki makna untuk dirinya, dan juga tidak mewakili apapun. Mereka tampak indah atau tidak menyenangkan di depan mata kita seperti halnya musik yang indah atau menyebalkan di telinga kita. Orang bereaksi berbeda terhadap irama, nada dan melodi. Tentu saja menjadi sulit untuk berhubungan dengan banyak karya non-obyektif sekaligus, seperti halnya, untuk mendengar rangkaian tembang Jawa semuanya berturut-turut untuk pertama kalinya. Tapi bagi seorang ahli, tindakan ini akan membangun kenikmatan baru membandingkan detail dan variasi nada pelbagai melodi yang berbeda.

Lebih sederhana lagi, mari kita nikmati karya abstrak AT Sitompul yang berjudul: Menjaga Kebaikan Dengan Kebenaran (Acrylic on Canvas, 135 x 135 cm, 2011). Dua buah imaji raga yang disusun bertumpangan didukung dengan barik bidang garis memiring sejajar beraturan dengan pewarnaan merah muda temaram berselangseling dengan warna putih menimbulkan irama pengulangan dan sensasi getar yang mengalun tenang. Makna dimunculkan karena sang seniman menyadari betul peran korelasi kedua raga geometris persegi empat ini dengan tatanan lingkungannya adalah sangat penting. Terciptanya suatu ruangan baru atau lebih tepatnya suatu dimensi baru yang dapat dijadikan 'teman baru' atau 'kamar spesial' untuk santai merenungi hidup dan kehidupan ini... Jadi, tidak ada keindahan yang dicapai dan tidak ada kehidupan spiritual yang dibuat. Di dalam seni tidak ada kesengajaan dalam pemanfaatan raga-raga ataupun bentuk- bentuk. Ini mungkin tampaknya sederhana untuk membuat suatu komposisi dengan bentuk-bentuk primer, namun nilai artistik suatu ciptaan terletak pada kombinasi yang bisa dibawa ke dalam kehidupan spiritual hanya dengan keterkaitan antara irama dan ruang. Persegi empat ini, tampaknya, adalah suatu bentuk yang lebih spiritual dalam hubunganmya dengan ruang

Tatanan positif dari karya-karya abstrak bukanlah suatu kebetulan. Keselarasan awal yang dipilih untuk memutuskan bentuk atau raga geometris primer dengan warna tertentu, harus diikuti untuk solusi tindakan selanjutnya. Kenikmatan, pergerakan dan daya pikat yang terus tumbuh yang ditawarkan oleh karya itu 'sepadan dengan masalah' untuk penikmat agar membiasakan diri dengan mereka.

Spirit mulai ketika materialisme berakhir. Pernyataan yang lugas dari sebuah lukisan absolut dan penciptaan murni dalam pengertian kosmik menghancurkan ilusi realisme duniawi dalam lukisan yang representativ. Pandangan-pandangan telah berubah setelah para pencipta menemukan visi tentang dunia dan berpaling dari kontemplasi bumi. Inspirasi materialistis tidak akan pernah dapat memulai penciptaan, tetapi intuisi pasti mampu mengarah pada tujuan itu.

(3)

Dalam perkembangan dan kemajuan kebudayaan global sekarang ini nampaknya dibutuhkan sesuatu yang ideal dan baru, sesuatu yang jauh lebih hidup, mempunyai nilai dan berharga terutama bagi mereka yang merindukan keberadaban sebagai insan manusia yang berakal dan bermartabat penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Seniman seperti AT Sitompul dengan karya-karya abstraknya yang menampilkan kemajuan ini tidaklah harus menunggu 'persetujuan', karya itu telah melesat dalam jalur sang waktu. Kekuatan kosmik mereka tidak memiliki kesabaran untuk sekedar biasa-biasa saja. Mereka mendorong kemajuan dan perkembangan ketimbang ketidakpedulian.

Para seniman ini mengikuti hati nuraninya ke arah sumber cahaya dipancarkan, dan tidak membutuhkan sensasi. Ia mengembangkan kebesarannya untuk membangun keyakinannya yang lebih tangguh, kesederhanaan yang lebih dalam dan pengalaman teknis yang lebih piawai. Dengan disiplin diri yang keras dan kejam seorang empu yang terlahir itu menanggapi hati nuraninya yang sensitif menyadari pengabdiannya yang tak terbatas untuk tujuan kesempurnaan dan keindahan. Semua keberadaannya terwujud dengan kerja keras untuk mencapai keindahan dan meningkatkan kekayaan spiritual di bumi.

Seni non-objektif tidak perlu untuk dipahami atau dihakimi. Itu harus dirasakan dan itu akan mempengaruhi mereka yang mempunyai mata 'hati' untuk mengamati keindahan hanya dari pelbagai bentuk dan aneka warna. Meskipun kita semua mampu menikmati sinar matahari, baik dengan perasaan sukacita maupun panasnya sinar matahari itu sendiri, hal itu baru memiliki makna kalau intelek kita mampu memahami bagaimana atau mengapa semua itu dapat terjadi satu.

Sebuah karya seni hakekatnya adalah upaya berdamai dengan kehidupan.

Kampung Sawah, 20 Januari 2015

Sulebar M. Soekarman, Pelukis Abstrak

Works

Photos

atraksi-abstrak-001
atraksi-abstrak-002
atraksi-abstrak-003
atraksi-abstrak-004
atraksi-abstrak-005
atraksi-abstrak-006
atraksi-abstrak-007
atraksi-abstrak-008
atraksi-abstrak-009
atraksi-abstrak-010
atraksi-abstrak-011
atraksi-abstrak-012
atraksi-abstrak-013
atraksi-abstrak-014
atraksi-abstrak-015
atraksi-abstrak-016
atraksi-abstrak-017
atraksi-abstrak-018
atraksi-abstrak-019
atraksi-abstrak-020
atraksi-abstrak-021
atraksi-abstrak-022
atraksi-abstrak-023
atraksi-abstrak-024
atraksi-abstrak-025
atraksi-abstrak-026
atraksi-abstrak-027
atraksi-abstrak-028
 
Back to top ↑
[2,530,584 bytes / 2.41 MB] [2,711,328 bytes / 2.59 MB (peak)]