Exhibition Date
December 13th - 27th, 2012

Artist
Surya Wirawan

Surya Wirawan 'Komo': Climen

About The Exhibition

Membaca Yoyok yang Komo

Berangkat dari bertutur, kemudian bergerak menjadi narasi. Demikianlah, gambar-gambar Surya Wirawan digulirkan. Keseluruhan gambar-gambar itu mengungkapkan cerita kehidupan. Tak besar. Bahkan –mungkin- kecil nan sederhana. Namun, bermakna panjang, luas, dan dalam jika kita rela berhenti sejenak 'tuk mendedah setiap gambaran yang disajikan dalam pameran tunggalnya yang bertajuk "Climen".

***

Panggilan akrabnya: Yoyok Komo. Usut punya usut, nama 'Komo' disematkan sewaktu ia masih kuliah. Nama ini menengarai kebiasaannya yang membutuhkan waktu lama dalam berkarya kreatif seni rupa.
Menjadi mahasiswa seni rupa adalah satu pilihan untuk menyalurkan kesenangannya pada 'menggambar'. Awal keterlibatannya di kampus ISI sebagai mahasiswa dimulai sejak ia mengikuti ujian masuk kampus. Satu hal yang fenomenal; ketika ujian praktek melukis pada tahun 1991. Yoyok Komo melukis dengan posisi kertas ditegakkan, bukan ditidurkan diatas tanah atau lantai. Tentu saja, cat yang ia sapukan di kertas itu mengalir ke bawah dan bertumpuk satu sama lain. Justru teknik inilah yang membuat Popok terkagum-kagum atas kecerdasan seorang Surya Wirawan yang mengalir begitu saja, sebagaimana manusia makan saat ia lapar.

Perjalanan seorang Yoyok yang Komo tampak saat ia mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Gambar-gambar yang harus ia kumpulkan minggu depan, selalu saja digarap sejak hari pertama setelah tugas itu diberikan. Mulai dari menyiapkan kanvas, spanram, membuat sketsa, mengumpulkan data dan informasi mengenai tema atau subyek yang harus ia gambarkan, hingga menyapukan warna-warna dan penyelesaian karya. Lepas dari kampus, Yoyok Komo terus menerapkan disiplin pengerjaan karya secara bertahap itu. Untuk penggarapan satu karya, ia membutuhkan waktu antara 1 hingga 3 minggu.
Pengayaan cara ungkap melalui seni rupa menuntunnya untuk mempelajari beberapa teknik, aliran/gaya, dan media seni rupa. Drawing, sketsa, lukisan, cat akrilik, cat air, surealis, realis, juga teknik-teknik grafis; seperti: cukil kayu, etsa, linocut; ia pelajari dengan tuntas dan selengkap-lengkapnya.

Dalam tugas akhirnya di kampus ISI pada tahun 2000, sebagian karya-karyanya menggunakan teknik pointilis, yaitu: sebuah teknik melukis dengan menggunakan titik-titik kecil berwarna dalam jarak tertentu yang diterapkan dalam pola-pola untuk membentuk sebuah gambar. Teknik ini tentunya membutuhkan kecermatan dalam detail. Ia pernah bolak-balik ke Jakarta untuk memperdalam teknik grafis, khususnya cetak dalam, pada Lek Yadi dari Institut Kesenian Jakarta. Ia mempelajari teknik pembuatan gradasi warna dengan kuas sejak tahun 1995. Awalnya, ia menggunakan cat akrilik dengan 2 kuas. Satu kuas berlumuran cat dan yang lain berlumur air basah. Ia sapukan kuas cat, kemudian disusul kuas basah. Kini, teknik yang –menurutnya- membutuhkan kecepatan dan kecermatan itu ia terapkan pada penguasan cat air dengan 1 kuas saja. Dan, dengan teknik 1 kuas ini, justru kesan titik-titik/pontilis kembali muncul dalam karya-karyanya yang kini.

Teknik gradasi warna itu ia pelajari demi menghadirkan kelembutan gambar dan kesan transparan dalam karya-karyanya. Berbagai teknik dan media seni rupa yang telah ia pelajari, kini digunakannya untuk mengungkapkan ide, gagasan, informasi, dan pesan tertentu secara sederhana dan tepat. Artinya, hal-hal yang ingin Yoyok Komo sampaikan dapat diterima oleh siapa pun dengan jelas, gamblang, dan tak membutuhkan waktu lama. Lantas, apakah yang ingin Yoyok Komo sampaikan?

***

Mencermati isi dan tema karya-karya Yoyok Komo dapatlah kita simpulkan bahwa, secara garis besar, kehidupan sosial merupakan sumber inspirasinya. Hal ini telah pula dinyatakannya dalam tugas akhirnya di kampus ISI Yogyakarta yang diberi judul "Kehidupan Sosial sebagai Ide Penciptaan". Kemudian, sebagaimana disuratkan oleh Yoyok Komo pada tanggal 24 Oktober 2001 tentang pengantar kritik seni atas karya-karyanya; latar belakang penciptaan karya seninya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu: internal (emosi, perasaan, pengalaman, intelektualitas) dan eksternal (lingkungan, tradisi, keadaan sosial, politik, ekonomi, dsb).
Perjalanan Yoyok Komo dalam hal isi dan tema karya ini pun bukanlah tanpa perubahan. Pada awalnya, ia gelisah atas terjadinya berbagai masalah yang dapat ia cerap. Kegelisahan itu ia ungkapkan lewat karya-karyanya begitu saja dalam gaya yang tak realis. Satu bidang gambar, ia penuhi dengan banyak objek dan pokok pikiran yang menandai temuannya atas banyaknya persoalan yang menyesaki benaknya dengan suara yang sama keras. Objek-objek yang digambarkan beragam; sosok manusia utuh dan tak utuh, bagian-bagian tubuh manusia (tangan, kaki, dll), berpakaian dan telanjang, dengan dilatari gedung-gedung, tumbuhan, dan hewan dalam tatanan yang membaur dan tak beraturan; mewujud dalam suatu karya fantasi yang terusakkan realitas yang –terkadang- memang tak indah.

Sejak tahun 1999/2000, karya-karya Yoyok menjadi realis. Dalam kurun waktu dimulainya karya-karya realisnya hingga 2003, Yoyok Komo mulai menyusun dan menerjemahkan ulang segala temuan yang menggelisahkannya; masalah-masalah yang terjadi dalam masyarakat. Ia mulai bercerita dan –tak jarang- berteriak tentang kekerasan, perang, pelecehan seksual, hak asasi manusia, buruh, petani, kesetaraan, keadilan, nasionalisme, solidaritas dalam bahasa ungkap yang tak verbal dan vulgar.

Dalam masa ini, bentuk ungkapan Komo sudah berbeda dari sebelum 1999/2000. Sebelumnya, Yoyok Komo menggambarkan seluruh kegelisahannya atas berbagai persoalan dalam kehidupan yang ia temukan seolah melontarkan pertanyaan, "Ini apa? Mengapa ini bisa terjadi?" Sementara, era setelah 1999/2000, Yoyok Komo mulai menelusuri, memahami, hingga sampai pada simpulan tertentu dan –semacam- idealisme atas berbagai persoalan kehidupan yang berserak. Perpaduan gambar dan tulisan mulai muncul pada era ini. Menurut bacaan Alex Supartono, Lisabona Rahman, dan Firman Ichsan; gambaran yang diungkapkan Yoyok Komo pada intinya berkisah tentang baik-buruk.

Yoyok mengungkapkan tema-tema itu kebanyakan dengan teknik grafis. Pun demikian, Yoyok tetap mempelajari teknik-teknik lainnya. Untuk mengejar detail realis penggambaran manusia, Yoyok melakukan studi wajah dengan sketsa. Yoyok juga membuat komik strip; rangkaian gambar yang disusun secara runtut untuk menceritakan suatu peristiwa/masalah. Dalam pameran ini, karya-karyanya yang berbentuk komik strip seperti "Wedhang Asem Diombe Panas-Panas", "Maniak", "Hancur Mina", dan lain-lain.

Melalui komik strip ini, Yoyok mulai menerapkan kesenangannya, yaitu: bercerita lewat media rupa. Cerita-cerita yang disajikan seputar kejadian sehari-hari dalam hidup Yoyok, seperti: kesibukan mengantar anak dan istri dalam "Ternak Teri", mau pun lingkungan terdekat Yoyok, seperti: kehangatan atmosfer piala dunia hingga membuat tetangganya, seorang sopir truk, tidur larut dan bangun kesiangan dalam karya "Pantun Terlanjur Cinta" dan para seniman yang menjadi uberan banyak orang untuk diajak foto bareng dalam "Maniak". Pembuatan komik strip ini menghantarkan Yoyok pada kebutuhan akan tokoh. Di tahun 2001, muncullah gambar Petruk-Gareng sebagai tokoh dalam penceritaan Yoyok Komo.

Media ungkap Yoyok Komo paska 1999/2000 sangatlah beragam. Ia menggambar buku cerita anak, sampul buku, sampul album musik, kanvas, kertas. Ia mencetak emblem, kartu pos, tempelan (sticker). Kesemuanya itu ia lakukan untuk memenuhi kebutuhannya dalam menyampaikan pesan dan kegelisahannya pada publik.

Sementara itu, di tahun 2002, dimulailah kisah roman dalam kehidupan pribadi Yoyok Komo. Pertemuan Yoyok dengan Ponilah, istri Yoyok Komo, berawal dari perkumpulan kampung berupa arisan dan pentas peringatan hari Sumpah Pemuda di tahun 2002. Pada waktu itu, Mas Yoyok bersama teman-temannya di Sembungan membuat dekorasi untuk pertunjukkan kampung dan Mbak Ponil merupakan salah satu pemain dalam pertunjukkan itu. Kemudian, kisah roman Mbak Ponil dan Yoyok disahkan secara hukum, agama, dan sosial pada tanggal 17 Februari 2004.

Dalam kesehariannya, Yoyok Komo beraktivitas sebagai seniman dan kepala rumah tangga. Ia bangun pagi dan mulai menggambar hingga tengah hari. Setelah beristirahat siang, ia kembali bekerja hingga malam hari. Kini, ketika si mungil bernama Lembah Manah telah hadir, pengaturan waktunya sedikit berubah. Pagi hari, Yoyok membangunkan si kecil, memandikannya, membantunya memakai seragam, menyuapi sarapan. Setelah Lembah Manah pergi ke sekolah dengan diantar Mbak Ponil, Mas Yoyok mulai bekerja. Di malam hari, ia akan membacakan cerita untuk mengantarkan Lembah Manah dalam lelap. Mas Yoyok tetap datang ke pembukaan pameran, berkumpul bersama teman-temannya untuk berdiskusi tentang karya dan proses kreatif seni rupa juga berbagi cerita lainnya, arisan kampung, mengantar anak-istrinya bepergian.

Dari sini, Yoyok mulai berkisah tentang kehidupan sehari-hari yang terjadi di lingkungan sekitarnya tanpa melepaskan kaca mata kesadaran kritis yang sudah ditetakkan dan diamininya hingga mengalir begitu saja, layaknya manusia minum karena haus. Gambar tentang pengisi korek api yang Yoyok kenal saat mengantarkan anaknya ke sekolah. Gambar penjual bensin tetangga Yoyok. Penjual kaset langganan Yoyok, penjual kerajinan gerabah yang tak jauh dari kampung tempat Yoyok tinggal. Keempat gambar ini terangkum dalam satu kisah mengenai pekerjaan alternatif yang tak banyak dipilih orang dengan penghasilan ekonomi yang tak banyak pula. Karya-karya ini tak berbatas pada potret atas profesi. Mereka menjadi ada dalam karya rupa Yoyok karena kisah-kisah mereka yang diketahui Yoyok. Penjual bensin tetangga Yoyok itu sempat resah dengan adanya peraturan baru bahwa, untuk menjual bensin eceran, harus memilik surat ijin dari Deperindag. Pada saat berita itu tersiar dari mulut ke mulut, tak ada informasi yang jelas tentang bagaimana, di mana, dan berapa jumlah uang yang harus dibayarkan untuk mengurus surat ijin itu. Dalam bayangan para penjual bensin eceran, hal ini adalah kerumitan lain lagi yang harus ditempuh para pedagang dengan perolehan keuntungan sekitar Rp 500,00/liter bensin. Pada masa awal ketidakjelasan perolehan surat ijin itu, para pedagang bensin eceran terpaksa membeli stok bensin sesuai kapasitas tanki sepeda motor yang mereka miliki. Alhasil, mereka harus bolak-balik ke pom bensin. Hal ini, selain merepotkan, juga merupakan pemborosan. Atau, kisah penjual kaset yang dulunya banyak kini tinggal sedikit karena semakin sedikitnya orang yang senang mendengarkan lewat kaset. Walau pun –kemudian- kaset menjadi barang langka dengan harga yang tak murah, perputaran persediaan kaset dalam penjualan tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama. Hukum rimba pun berlaku; siapa kuat, dia yang bertahan. Bagi Yoyok yang penggemar kaset, ini tentu saja meresahkan hingga dituangkan dalam wujud karya rupa.

Hingga satu hari di tahun 2010, Kiswondo bercerita tentang cerpen-cerpen yang ia buat. Yoyok Komo merasa tertarik untuk membuat gambar atas cerpen-cerpen itu. Dari 15 cerpen yang diberikan Kiswondo, tidak seluruhnya ia baca. Dari yang ia baca itu, 3 cerpen ia garap perwujudannya dalam rupa. Dan, dari yang 3 itu, 2 cerpen yang dipajang dalam pameran tunggalnya ini bertutur tentang petani dan buruh.

Satu cerpen Kiswondo berjudul "Ketika Pohon Kopi Tak Berbuah Lagi" diterjemahkan Yoyok Komo menjadi 20 gambar. Cerita yang diangkat dari kisah nyata berlatar kota Temanggung ini menuturkan kehidupan petani bernama Kang Parjo yang berjejalin dengan silang-sengkarut persoalan tata kelola perniagaan negara dalam hal pertanian dan buruh migran hingga tak mampu menopang keseharian hidup sebagai bagian dari masyarakat dengan kebutuhan arisan, sumbangan perhelatan kampung.

Satu cerpen lagi berjudul "Kalender" dalam 30 gambar. Bagian akhir cerita ini merupakan kisah nyata dari pemberitaan koran yang dirangkai dengan kisah fiksi Kiswondo. Akhir cerita yang cukup menghentak dan menghadirkan pergulatan cukup panjang bagi Yoyok Komo untuk menggambarkannya. Di bagian ini, Yoyok memilih untuk menggambarkan kenyataan itu tak sebagaimana adanya, namun tetap dapat ditangkap orang lain. Kesulitan lain yang dialami Yoyok dalam menggambar cerpen ini; latar tempat cerita ini berlangsung yang hanya ada di 2 titik, yaitu: kamar dan tempat kerja. Dari dalam kamar dan sepanjang malam, tokoh cerita yang bernama Darso melayangkan pikirannya; mencari cara membayar utang. Di tempat kerjanya sebagai buruh bangunan, satu-satunya tumpuan hidup Darso untuk menyelesaikan persoalannya terhempas kenyataan. Lalu, terjadilah perubahan cepat dan tajam manusia dari malaikat menjadi dajal.

Kedua kisah fiksi berdasarkan kisah nyata ini merupakan cerita pendek. Namun, menjadi novel gambar ketika diterjemahkan dalam karya rupa. Walau kedua novel gambar ini menuturkan 2 tokoh kehidupan yang menarik perhatian Komo sejak 13 tahun yang lalu; penggambarannya dalam karya tak lagi berupa potret satu pose mereka, tetapi lebih lengkap dan menyeluruh dengan cerita kehidupan kedua tokoh tersebut. Selama proses perwujudan karya rupa dari cerpen ini berlangsung, komunikasi yang intens antara Kiswondo dan Yoyok Komo pun berlangsung. Tak jarang, Kiswondo memberikan masukan atas gambar-gambar yang digarap Yoyok Komo.

Kritisisme mengundang tawa oleh duet Yoyok Komo dan Kiswondo muncul di salah satu gambar dalam novel grafik bertajuk "Ketika Pohon Kopi Tak Berbuah Lagi". Gambar itu adalah kunjungan Kang Parjo ke dukun sebagai usaha pertama kali yang dilakukan untuk mencari Yu Sarimi, istri Kang Parjo, setelah 1 tahun tak ada kabar berita. Awalnya, Yoyok Komo menggambarkan orang sholat. Setelah berdiskusi dengan Kiswondo, gambar itu pun diubah sebagaimana yang sekarang ini dipajang. Demikianlah adegan yang dilakukan kebanyakan orang.

Kenakalan Yoyok yang memancing tawa juga muncul dalam novel gambar ini. Tilik saja tulisan "PJTKI Rewel" saat Kang Parjo bersama keluarganya mencari informasi mengenai istrinya, Yu Sarimi, ke penyalur tenaga kerja dalam kisah "Ketika Pohon Kopi Tak Berbuah Lagi". Atau, tulisan "SKARAT" pada kaca mobil dalam gambar sang mandor yang memarahi Darso atas ajuan permohonan bantuannya dalam kisah "Kalender".

Karya rupa novel gambar atau novel grafik ini bukanlah produk akhir atas proses kreatif seni rupa Surya Wirawan. Baginya, proses ini menjadi media pembelajaran untuk menuturkan cerita-cerita miliknya dengan rupa. Akankah kelak Komo menuturkan cerita-ceritanya dengan melulu gambar tanpa teks? Satu pertanyaan di antara sekian banyak pertanyaan yang menggulati Yoyok Komo untuk terus melanjutkan proses dan karya-karya kreatif nya dalam seni rupa.

***

Dan, perlombaan maraton kali ini telah usai. Walau pada kilometer ke 39,85 sang pelari sempat memperlambat lajunya seolah berpikir ulang sembari menetapkan hatinya untuk mencapai garis itu, tetap saja sorak ria dan pandangan penuh keyakinan para penonton dan handai taulan di kiri dan kanan jalur perlombaan tak berkurang bahkan semakin menguat mengiringi ayunan kaki-kaki kecil sang pelari menuntaskan jarak 2,335 Km 'tuk menjejak garis akhir itu. Sang pelari maraton itu, kali ini, berhasil mencapai garis akhir dalam waktu 2 jam 3 menit 38 detik. Sebuah capaian yang tak hanya dirasakan sang pelari untuk melaju pada perlombaan maraton berikutnya, juga menjalar-jalarkan semangat bagi para pendukungnya untuk terus bergerak maju.

OPée Wardany
Yogyakarta, 121127

Reading Yoyok, the Komo

Starting off as talks, then motioning to narration. That is how Surya Wirawan's drawings are moving. The entire images tell the story of life. Not a big one, infact--perhaps--small and humble. Yet has a lengthy, wide and deep meaning if we care to stop for a while to absorb every imagery presented in his solo exhibition titled "Climen".

***

His nickname is Yoyok Komo. After investigated, "Komo" added to his name when he was in college. The name was attributed to his habit of taking a long time in creating artworks.
Becoming an art student was his decision to channel his love of "drawing". His affiliation with the Indonesian Art Institute (ISI) started when he took the entry test. A phenomenon at the time was during the painting test in 1991, Yoyok Komo painted with his paper vertical, instead of being horizontal on the ground or floor. Of course the paint he brushed over the paper flowed down and was layering one on top of the others. It was this technique that amazes Popok on the spontaneous brilliance of a Surya Wirawan, like a man who would eat when he's hungry.

The journey of a Yoyok Komo could be observed as he worked on his coursework. The drawings he had to hand in the coming week were always meticulously prtepared and executed since the first day after the task was given. Starting from preparing the canvas, putting on the stretching bar, making sketches, collecting data and information on the theme or subject he had to describe, to brushing the colors and finishing the artwork. Graduating from campus, Yoyok Komo continued to apply this disciplined working process. To produce an artwork, he needs between one to three weeks.
The rich ways of conveyance through visual arts had brought him to study several techniques, ism/style and the visual art medium. Drawing, sketches, paintings, acrylic paint, water paint, surrealism, realism, and also graphic techniques; such as woodcutting, etching, linocut; he learned them completely and comprehensively.

For his final task in ISI in 2000, most of his works were using pointillism, a painting technique utilizing small color dots in certain distance and applied in patterns to create an image. This technique certainly required a diligence on details. He once took roundtrips to Jakarta to learn more of graphic techniques, especially on etching, from Lek Yadi from the Jakarta Art Institute. He learned the technique of color gradation using paintbrush since 1995. In the beginning, he used acrylic paint with two brushes, one is for the paint and the other for water. He brushed the paint and then it is followed by wet brush. Now the technique--which he thinks--requiring speed and accuracy, is being applied using only one brush. And, with the one brush technique, the impression of dots/pointillism returns to his current artwork.

The color gradation technique, he learned to present soft images and the transparent effect in his work. Various techniques and visual arts medium that he had studied, he now used to convey ideas, thoughts, information and certain messages in a simple and precise manner. It means, the things that Yoyok Komo wants to communicate can be accepted by anyone clearly, straightforward and doesn't take a long time. What then, is that Yoyok Komo trying to communicate about?

***

Observing the content and theme of Yoyok Komo's works we can conclude that social life is his source of inspirations. This was also stated in his final tasks in ISI Yogyakarta, which was titled "Social Life as the Idea of Creation." As stated by Yoyok Komo on 24 October 2001 as the introduction to art critics on his works; the background of his artworks is mainly influenced by two factors: the internal (emotion, feelings, experience, intellectuality) and external (the environment, tradition, social condition, economy, etc.)

Yoyok Komo's journey in terms of artworks content and themes is not without changes. At the beginning, he was agitated by various issues. The restlessness was described through his casual works in a non-realism style. On one painting space, he filled it with many objects and main ideas symbolizing his discovery on the many issues cramming in his mind, of which all screams equally loud. The objects drawn were various; a whole or incomplete human figures, human body parts (hands, feet, etc.), dressed or naked, with backgrounds of buildings, plants and animal mixed in an irregular jumble; materializing a fantastic work ruined by the--sometimes--unpleasant realities.

Since 1999/2000, Yoyok's works became realism. In the period of his early realism works until 2003, Yoyok Komo began to organize and reinterpret the discoveries that worries him; issues within the community. He began to tell the story--and often enough--screamed about the violence, war, sexual harassment, human rights, labors, farmers, equality, justice, nationalism, solidarity in a non verbal and vulgar expression.
As of now, Komo's form of expression has differed from the period prior to 1999/2000. Before, Yoyok Komo described his entire anxiety on the various life issues he discovered as if asking, "What is this? Why is this happening?" Meanwhile, the era after 1999/2000, Yoyok Komo began an exploration, comprehension and arrived to a certain conclusion and--a sort of--idealism on the various life issues. The combination of drawings and writings started out in this era. According to the readings by Alexander Supartono, Lisabona Rahman and Firman Ichsan; the images presented by Yoyok mainly tells of the good-bad.

Yoyok presented the themes mostly in graphic techniques. Nevertheless, Yoyok continued to learn other techniques. To achieve the realistic details on human, Yoyok did a facial study in sketches. Yoyok also created strip comics; a series of chronological images narrating an event/issue. In this exhibition, his comic strip works such as "Wedhang Asem Diombe Panas-panas", "Maniak", "Hancur Mina", etc.
Through these comic strips Yoyok began to apply his hobby, which is: telling story through visual medium. The stories narrated are about the daily events in Yoyok's life, such as: his activities in driving for his wife and daughter in "Ternak Teri", or Yoyok's closest circle, like: the warmth of the world cup atmosphere that his neighbor, a truck driver, slept late and woke up late in "Pantun Terlanjur Cinta" and artists who everyone are eager to take photos with in "Maniak". Comic strip making brought Yoyok to the need of characters. In 2001, Petruk-Gareng images appeared as characters in Yoyok Komo's narration.

Yoyok Komo communication medium post 1999/2000 is varied widely. He drew children storybook, book cover, music album cover, canvas, and paper. He printed emblems, postcards, and stickers. All of these were done to fulfill his needs in conveying messages and his concerns to the public.

Meanwhile in 2002, a romance story bloomed in Yoyok Komo's private life. Yoyok's acquaintance with Ponilah, Yoyok Komo's wife, began from kampong's social gathering and a performance stage to commemorate the Youth Pledge Day in 2002. At the time Mas Yoyok and his friends in Sembungan made decorations for the kampong's performance stage and Mbak Ponil was one of the performers. And then, the romance story of Mas Yoyok and Mbak Ponil was legalized by constitution, religion and social on 17 February 2004.

In his daily lives, Yoyok Komo is working as an artist and the head of the family. He wakes early and draws until mid-day. After a break, he returned to work till evening. Now, since the little one named Lembah Manah presence, his schedule shifted a bit. In the morning, Yoyok wakes the little one, bathes her, helps her with the uniform, feeds her breakfast. After Lembah Manah goes to school with mbak Ponil, Mas Yoyok begins to work. In the evening, he will read a bedtime story for Lembah Manah until she sleeps. Mas Yoyok still comes to exhibition opening, gathering with his friends to discuss about artworks and art creative process and also share other stories, the kampong's social gathering, driving his wife and daughter everywhere.

From this point, Yoyok began to tell the story of the daily lives in his surroundings without taking off the critical conscience perspective he decided and agreed on that it flows spontaneously, like a man drinking because of thirst. There is the image of the gas lighter refill guy, whom Yoyok got to know when he drives his daughter to school. There is the image of the Yoyok's neighbor who sells gasoline, a tape cassette seller from whom Yoyok often buy, pottery craft vendor not far from the kampong where Yoyok lives. These four images are summed up into a story of alternative jobs that not many people choose, yet not much to earn from either. The works aren't limited to portraits of professions. They exist in Yoyok's visual work because he knows their stories.

The gasoline seller neighbor was anxious because of a new regulation, that to sell retail gasoline one must have a permit letter from the Department of Industry and Trade. When the news spread mouth to mouth, there weren't accompanied by any clear information of the how, where and ho much money should be paid to attain the permit. In the minds of gasoline retail sellers, this is yet another complication the sellers must face for Rp 500,00/liter gasoline profit. At the beginning of the permit confusion, the retail gasoline seller had to buy gasoline stocks in equal amount of their motorcycle tank capacity. Thus, they have to go back and forth to the gas station. This, aside of being troublesome, is also inefficient. Or, the story of the cassette seller, which numbers were many in the past but only a few left now since less and less people use cassette tape anymore.  Although--later--cassette tapes became a rarity with pretty high price, the circulation of cassette tape in sales certainly takes a long time. Law of the jungle then applies; the fittest will survive. For Yoyok who loves cassette tape, this is of course unsettling that he materialized it in the form of visual art.

Until one day in 2010, Kiswondo shared about the short stories he wrote. Yoyok Komo was interested to make drawings on the short stories. From 15 short stories given by Kiswondo, not all he read. From the ones he did, 3 short stories he turned into artworks. And, from the three, two short stories exhibited in this solo exhibition, they tell about farmers and workers.

One of Kiswondo's short stories is titled "Ketika Pohon Kopi Tak Berbuah Lagi" is translated by Yoyok Komo into 20 drawings. Adapted from a true story set in the town Temanggung, it tells the story of a farmer named Kang Parjo in an intertwined disarray of the state governance of commerce in terms of agriculture and migrant workers, that he no longer able to support his daily live as a part of a community with demands of social gathering, donation for kampong's event.

Another short story is title "Kalender" in 30 drawings. The ending of this short story is a true story from a newspaper article that has been woven with Kiswondo's fiction story. The ending is shocking and caused a long inner struggle for Yoyok Komo in depicting it. For this artwork, Yoyok decided not to portray the reality as it is, but can still be understood by viewers. Another difficulty experienced by Yoyok in depicting the short story; the story's backgrounds are only in two points, which are: the room and the working place. From inside the room the entire night, the character named Darso was thinking; finding a way to pay his debt. Where he works as a builder, the only place where Darso depends his life on to fix all his problems is struck by reality. And then a swift and sharp change of human from being an angel to becoming a Satan.
The two based on true stories fictions are short stories. But it became a graphic novel when it's translated into visual artworks. Although the two graphic novels tell about two life characters that attracted Komo's attention since 13 years ago; the depiction in the artwork is no longer a portrait of their one pose, but more complete and holistic with the life story of these two characters. During the process of visualizing the short stories, intense communication happened between Kiswondo and Yoyok Komo. Often, Kiswondo gave inputs on drawings.

The comic criticism by the duet Yoyok Komo and Kiswondo appears in one of panels in the graphic novel "Ketika Pohon Kopi Tak Berbuah Lagi." It is about the visit of Kang Parjo to a shaman as his first effort in finding Yu Sarimi, Kang Parjo's wife, after a year missing. In the beginning Yoyok Komo depicts someone at prayer. After a discussion with Kiswondo, the drawing was changed into what is now being exhibited. That is the scene most people do.

Yoyok comical pranks also appear in the graphic novel. See the scribble "PJTKI Rewel" (Fussy PJTKI) when Kang Parjo and his family come for information about the the labor service distributor in the story "Ketika Pohon Kopi Tak Berbuah Lagi." Also look at the scribble "SKARAT" (dying) in the car windshield. It is on the scene when the foreman scowled Darso because of his loan proposal in the story "Kalender".
Visual novel or graphic novel is not a final product of the Surya Wirawan's visual arts creative process. For him, this process is a medium of learning in telling his stories through visuals. In the future, will Komo tells his story only in drawings without text? One question among many that grapples Yoyok Komo to continue the process and creative works in visual arts.

***

And, the marathon is now over. Although at the 39,85 kilometer the runner slowed down as if contemplating and setting his heart to reach the line, still the cheers and the look of faith of the audience and family at the right and left sides of the running track not lessening and even getting stronger for each swings of the runner's small feet completing the 2,335 km distance to the final line. The marathon runner, this time, succeeds to reach the finish in 2 hours 3 minutes 38 seconds. An achievement felt not only by the runner to dash on the next marathon, but also infecting his supporters with spirit to keep moving forward.

OPée Wardany
Yogyakarta, 121124

Works

Photos

Climen_Display-001
Climen_Display-004
Climen_Display-003
Climen_Display-002
Climen_Display-005
Climen_Display-007
Climen_Display-006
Climen_Display-009
Climen_Display-008
Climen-001
Climen-003
Climen-002
Climen-005
Climen-004
Climen-007
Climen-006
Climen-008
Climen-010
Climen-009
Climen-013
Climen-012
Climen-011
Climen-016
Climen-015
Climen-014
Climen-018
Climen-017
Climen-019
Climen-020
Climen-022
Climen-021
 
Back to top ↑
[3,891,456 bytes / 3.71 MB] [4,071,280 bytes / 3.88 MB (peak)]