Exhibition Date
November 13th - December 8th, 2012

Artist
Anusapati

Anusapati: mateREALITY

About The Exhibition

Oda untuk Pepohonan
Oleh Kadek Krishna Adidharma

Sepucuk pokok kayu dibelah empat secara vertikal lalu ditegakkan, masing-masing belahan dipisah renggang, seolah mengundang pengamat untuk masuk ke pusatnya. Dari dalam, yang terlihat ketika mendongakkan kepala hanyalah langit-langit galeri yang hampa. Tak ada rimbun dahan pohon yang diharapkan. Ada yang hilang. Dalam ruang negatif instalasi Going Back in Time (Kembali ke Masa Lalu), hampa mencipta sebuah ketegangan. Ada rindu untuk sesuatu yang tiada.

Anusapati lahir di Solo (Surakarta) tahun 1957. Pada tahun 60-an, sebagian masa kanak-kanaknya ia lalui bermain dalam teduh bayang-bayang perkebunan karet di Cibubur, kawasan pinggiran Jakarta yang masih bernuansa pedesaan di masa itu. Keterpukauan pada alat-alat kayu, baik peralatan perkebunan maupun pertanian, mewarnai kenangan masa kecilnya. Kini hampir tiada jejak masa-masa itu yang tersisa. Cibubur telah “maju” sebagai kawasan industri yang tercemar.

Sepanjang karirnya sebagai seniman, Anusapati senantiasa mengolah kayu, baik sebagai bahan maupun tema. Dalam beberapa tahun belakangan ini, ia pun memusatkan perhatiannya pada bantalan rel kereta api. Di masa-masa remaja, ia sering berpindah kota bersama orang tuanya antara Jakarta, Surabaya, Solo dan Jogja. Perjalanan mereka melintasi sawah ladang pulau Jawa acap kali dilakukan dalam kereta api. Bantalan asli rel kereta api yang mengantar mereka dulu mungkin dari kayu tua asli Jawa. Belakangan ini bantalan tersebut mulai diganti dengan kayu ulin dari Kalimantan, atau bantalan besi ataupun beton. Ada dua daya yang mendorong pertukaran ini: ada yang lapuk oleh jaman dan ada yang lepas oleh desakan ekonomi. Nilai kayu dan besi kian meningkat, sehingga pencurian bantalan rel kereta api menjadi salah satu penyebab rutin kecelakaan kereta api di Indonesia. Besi pengganti kayu hanya sedikit lebih aman dari pencuri.

Untuk pameran ini, Anusapati memperoleh kayu tua yang telah pensiun dari masa kerjanya sebagai bantalan rel kereta api pengangkut tebu. Rel ini lebih sempit dibandingkan rel kereta api untuk penumpang, dengan bantalan selebar 120cm. Sejumlah bantalan ia gunakan untuk instalasi rel kereta api, sebagian ia gunakan untuk menciptakan obyek-obyek patung berujung lancip. Tentunya sang seniman memiliki ide tentang makna obyek-obyek ini bagi dirinya sendiri, yang bermuasal dari kesan-kesan yang ia peroleh tentang fungsi-fungsi peralatan kayu yang ia kenal. Namun bentuk dan wujud patung-patungnya cenderung bergaya sederhana, membiarkan pintu interpretasi terbuka lebar.

Ketika ditanya apa yang ingin ia capai dalam karyanya, Anusapati meraba-raba mencari kata sejenak sebelum mencetuskan istilah “materiality” untuk menggambarkan kesan kehadiran konkret dalam karyanya. Realita fisik dapat dirasakan dalam gambar-gambar arangnya yang pekat, instalasi kayu serta patung-patung kayu maupun kuningan dalam pameran ini. Pilihan bahan penting bagi Anusapati sebab kenangan masing-masing orang tentang bahan tersebut mempengaruhi kesan realita yang ditimbulkan. Kayu hadir secara virtual, tematis sekaligus secara fisik dalam karya-karyanya.

Dalam Arsitektur, Materiality merupakan konsep penggunaan bahan-bahan alami seperti kayu serta bahan-bahan virtual seperti proyeksi atau bayang-bayang sebagai media bangunan. Anusapati melakukan eksplorasi dengan objek-objek kayu di ranah abu-abu antara pengalaman fisik kini dengan kenangan yang tergugah oleh bahan kayu tersebut. Untuk pameran di Sangkring Artspace, Anusapati membangunkan kembali bantalan-bantalan rel dari kayu yang telah lama digunakan sebagai sarana transportasi mengangkut tebu. Ia mengangkat kayu-kayu ini dari dalam tanah untuk mewujudkan pengalaman-pengalaman yang mengantar penyimak karya ke sejumlah perjalanan baru, salah satunya kembali kepada keteduhan dan permainan bayang-bayang yang hilang ketika pohon-pohon ini ditebang.

Sebuah Jeda
Rel kereta api merayap naik, lalu berbelok ke kiri, memasuki gudang kayu. Bantalan rel tampak sebagai tangga yang mengantar ke pintu tunggal bangunan itu. Bongkah-bongkah kayu senantiasa memberi pijakan mental menuju gudang ingatan bagi sang seniman. Instalasi rel kereta api di tembok luar ruang Sangkring Art Project, yang ia beri nama Interlude (Jeda), bisa dibaca sebagai ilustrasi bagaimana kayu, termasuk pepohonan induknya, telah memberi seniman ini penghubung ruang kasat mata yang bisa diraba ke masa silam dan masa kini.

Kayu tak hanya hadir sebagai bahan di pameran ini. Ia jugalah tema yang merasuk secara menyeluruh. Ia pun hadir secara virtual dalam gambar-gambar yang dipamerkan.

Ada tiga kayu keras yang cukup tangguh untuk dijadikan bantalan rel kereta api: jati, bengkirai dan ulin. Anusapati bergulat dengan kisah-kisah ketiga jenis pohon ini. Dalam eksplorasinya, ia berdiri kokoh dalam realita fisik bahan-bahan yang ada di sekitarnya. Proses serta sentuhan langsungnya dalam berkarya menggugah pergesekan kenangan yang bertumpukan pada citra dan ruang karyanya. Kian pekat, kian nyata.

Ruang Pohon, Ruang Seni Rupa
Di dalam galeri, sang seniman membayangkan pohon-pohon kayu keras ini dalam gambar-gambar arang yang digantung pada tembok. Patung-patung kayu dan kuningan berbentuk bongkah kayu dan rerantingan bercokol di dalam galeri. Patung-patung lainnya mengambil bentuk gentong-gentong kayu berujung lancip, serupa dengan karyanya di tahun 2005 yang berjudul Shelter of Despair (Tempat Berteduh [dari] Putus Asa).

Anusapati memberi kebebasan pada kayu dengan cara-cara yang tak lazim. Ia memberi suara pada karya-karyanya secara tak terduga. Bergaya sederhana, citra-citra tersebut mudah menggugah ingatan. Namun perbedaan mereka dengan pengalaman ataupun harapan kesan sehari-hari memberi karya-karyanya nilai ganjil yang melecut pikiran untuk menelusuri pelbagai alur. Di antara tujuh potong patung yang mewujudkan karya Artikulasi, enam dari kayu dan satu dari kuningan. Obyek kuningan tersebut mengambil wujud ranting pohon yang ditegakkan. Proses pelapisan patina dingin memberi karya tersebut aura emas keperakan. Kehadiran sambungan engsel metalik di tengah dahan mengejutkan, berbisik halus tentang mekanisasi. Melantunkan kebebasan gerak yang palsu: kebebasan yang kian dibatasi.

Mengambang di udara, memenuhi ruang besar di lantai dua Sangkring Artspace, hadir sebuah instalasi dari potongan-potongan sebuah pohon. Suspended Vegetation (Tumbuhan Tertahan) merupakan sebuah pohon yang dirangkai ulang untuk menunjukkan keterhubungan masing-masing potong dengan spasi yang membolehkan pengamat melihat papan-papan kayu yang separuh terproses sekaligus potensi penggunaannya.

Sulit mencari kayu ulin atau bengkirai utuh di Jawa sekarang. Untuk mengilustrasikan kehidupan pohon tersebut serta inkarnasi barunya sebagai papan, Anusapati menggunakan pohon Durian. Pohon tersebut digali, dipotong dan ditampilkan seutuhnya, dari akar hingga dahan ranting.

Bagiku, pilihannya membelah kayu Munggur (sejenis kayu yang dikenal sebagai pohon Suar di Bali) untuk instalasi Going Back in Time (Kembali ke Masa Lalu) sekaligus praktis dan kiasan metafora. Ada banyak pohon Munggur yang meneduhi jalanan dan rumah-rumah di Jogja, maka pokok pohon ini gampang didapat. Di Jawa, pohon Munggur bisa tumbuh hingga berdiameter satu meter sebab orang-orang membutuhkan perlindungan teduh dari panas tropis yang menyengat. Secara metafora, sulit bagiku untuk kembali ke masa lalu tanpa merasa kehilangan teduh. Di Bali, tempat tinggalku, kayu Munggur (Suar) diberi nilai 8 juta atau lebih per truk karena permintaan yang besar dari industri pengrajin patung suvenir. Pohon-pohon ini kian langka. Uang hasil ekspor lebih diutamakan daripada keteduhan.

Bincang-bincang dengan Seniman
Beberapa bulan belakangan ini, kuikuti perkembangan karya-karya Anusapati dari sketsa hingga eksekusi karya melalui foto-foto dan file-file lain yang dititipkan melalui Dropbox oleh Ditya Sarasiastuti, asisten lincah sang seniman.

Citra rel kereta api dan bantalannya memenuhi ruang imajinasiku. Tak ada rel kereta api di Bali, tempatku tinggal. Setelah mendarat di Adisucipto dalam perjalanan ke Jogja untuk wawancara dengan Anusapati, kukunjungi stasiun kereta api di bandara. Layanan Prambanan Express sedang terganggu karena sebuah kecelakaan minggu sebelumnya yang menyebabkan kereta api jatuh ke sawah. Kulalui duapuluh menit mengapresiasi kemajuan teknologi dan tantangan administrasi penggunaan sepita sempit tanah untuk mengantar sedemikian banyak orang dan barang setiap hari. Kukagumi stasiun yang bersih dan rapi, dan kecerkasas pola kerja staf stasiun. Kulihat ke bawah pada rel kereta api dan kuamati bahwa semua baru; rel besi pada bantalan beton yang kokoh. Kayu bisa dijual jauh lebih mahal ke luar negeri sekarang ini. Dua kereta api barang lewat sebelum keretaku tiba. Diselingi ramah-tamah sapa dengan dua sejoli dari Madiun dan perhentian sejenak di stasiun Lempuyangan, perjalanan nyaman tujuh menit dalam kereta AC Madiun Jaya mengantarku ke stasiun Malioboro di jantung hati Jogja.

Kutelusuri Malioboro hingga ke kawasan Prawirotaman, meresapi kota santai ini beserta elemen-elemen kontras yang ia rangkul: makan siang di tempat para karyawan menikmati ayam atau bebek goreng, naik becak, menyeruput cappucino di café bergaya modern. Jogja yang beragam dan penuh seni rupa, tak bergeming jauh dari kenangan 6 bulan hidupku menetap di kota ini pada tahun 2008. Satu hal yang kerap muncul dalam percakapan antara teman, dengan abang becak maupun pelayan café: Panasnya! Dalam hiperbola percakapan, semua bergagasan serupa: tak pernah rasanya sepanas ini. Dan ini mengingatkanku kembali pada semakin hilangnya pepohonan.
Di dekat perempatan Malioboro dan Pangeran Senopati ada patung manusia-pohon yang berjalan menjauhi Kantor Pos. Kaki dan bagian bawah tubuhnya seperti manusia, namun semakin ke atas bersulih rupa menjadi cabang reranting kerontang yang menggapai-gapai langit. Akar merayapi bokong dan paha. Ia berwarna coklat lumpur, namun dengan kilap plastik yang membungkus kekumalannya. Rupanya ada seniman Jogja yang mengkhawatirkan dominasi manusia pada alam hingga ia membuat patung yang menggambarkan sebaliknya: pohon ringkih yang mengambil alih tubuh manusia.

Tiba di sebuah studio-kantor di Bausasran, kutemukan Anusapati berjongkok di pojok, menggambar bayang-bayang kanopi pohon dengan sepotong arang di tangannya. Ia memindahkan arang itu ke tangan kirinya sebelum menjabat tanganku dengan jemari hitam, lalu lanjut bekerja. Anusapati sepertinya lebih sering menggosok arang dengan jemari untuk meratakan tekstur arang daripada menggambar garis dengan arang itu sendiri, meninggalkan hitam pekat pada putih kertas.

Di sela-sela menggambar, kami mulai berbincang tentang gambar-gambarnya, dan bagaimana hubungan mereka dengan patung-patung dan karya-karya instalasinya. Senjapun tiba, dan kami berbincang sambil menikmati wedang ronde. Ia menceritakan keterpukauannya pada kayu: kenangan awalnya tentang peralatan kayu yang senantiasa hadir di pedesaan Jawa, termasuk penumbuk bumbu yang kadang dipinjam ibunya dari tetangga untuk membuat pecel.

Setelah percakapan kami tentang kehidupan pedesaan dan masakan tradisional Jawa, pilihan makan malam mengejutkanku: Bir dan steak sapi dry-aged dari Australia: well done (matang) untuknya, medium rare (setengah matang) untukku. Kami berbincang di R&B Grill, sebuah rumah makan yang tumbuh dan berkembang dari toko kecil yang menjual daging impor. Pemiliknya seorang chef lokal yang telah pensiun setelah melanglang buana. Menikmati santapan karnivora itu, kami berbincang tentang perkembangan seni rupa di Jogja dan apa yang kini dikerjakan seniman-seniman kontemporer. Hampir larut malam, ketika menjabat tangannya sembari menyampaikan terima kasih dan salam perpisahan kusadari dua hal: kuku-kuku jemarinya yang masih membawa bukti kerjanya dengan arang, dan tekstur berlubang-lubang kayu daur ulang yang menjadi lantai restoran itu: Pensiunan bantalan rel kereta api yang dipekerjakan kembali.

Keakraban Anusapati dengan kayu merupakan sesuatu yang langka di kancah seni rupa kontemporer Indonesia. Seniman di seluruh dunia cenderung menggunakan bahan-bahan yang ada di sekitar mereka sebagai media ekspresi. Ketika belajar seni rupa di bangku kuliah, Anusapati menggunakan pelbagai bahan seperti batu, kayu dan lempeng tembaga sebagai media. Kini, sebagian besar muridnya di ISI Jogja cenderung menggunakan fiberglass untuk patung-patung mereka.

Eksplorasi dengan bahan-bahan lokal ataupun temuan merupakan sesuatu yang semakin populer, masuk akal dari segi biaya, sekaligus semakin bermakna. Di kalangan seniman-seniman yang melakukan hal ini, ada yang menggali obyek temuan dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk merangkai pernyataan-pernyataan sosial: Tisna Sanjaya, misalnya. Ada pula seniman, seperti Wayan Sujana Suklu, yang mengeksplorasi kemungkinan-kemungkinan baru dengan bambu yang kerap digunakan dalam seni kriya tradisional. Namun Anusapati terus menggali kemungkinan dari kayu dengan semangat yang tak kunjung pupus, bahkan mencarinya di dalam gambar dan patung-patung perunggu serta kuningan. Mungkin ia sedang mengekspresikan kayu yang lambat laun menghilang dari kehidupan sehari-hari di Jawa.
~
Kadek Krishna Adidharma adalah seorang insinyur tehnik lingkungan yang sedang mengelola resor kakeknya di Kintamani

An Ode to the Forest
By Kadek Krishna Adidharma

A vertically quartered log stands apart, quarters equidistant, inviting the observer to enter into its central axis. Looking up from inside, all one can see is a blank ceiling. There is no bushy canopy as one would expect from inside a tree. Something is missing. In the negative space created within the installation titled Going Back in Time, a tension is created through emptiness. I sense a longing for something that is no longer there.

Anusapati was born in Solo (Surakarta) in 1957 and spent most of his childhood in the 60s playing under the shade of tall rubber trees in Cibubur, when it was the rural outskirts of Jakarta. He recalls an early fascination for the wooden tools he would find lying around, be they plantation tools or equipment used in the cultivation of wet rice. Little remains of his childhood haven, as Cibubur is now listed as a site with high-level environmental degradation due to polluting industries.

Throughout his artistic career, Anusapati has always been preoccupied with wood. In recent years, he has channeled his attention to railway sleepers. During his formative years, his family moved frequently between Jakarta, Surabaya, Solo and Jogja. Much of the travel between those places saw him traversing the rural Javanese landscape on trains. The original railway sleepers were made of wood, and have only recently been replaced by new ironwood from Borneo, or iron bars or concrete. There are two powers at play here: decay and economic necessity. The value of wood and iron has shot up such that the theft of railway sleepers is a leading cause of train accidents in Indonesia. The timber's iron replacements are only marginally safer from plunder.

For this exhibition Anusapati acquired old timber that had been retired from its service as sleepers for the sugarcane railways of Central Java. It is of a narrower gauge compared to Indonesia' passenger railway, with sleepers of 120cm length. Some he uses for his railway installation, some for creating pointed sculptural objects. The artist has some idea of what the shapes mean to him, based on the utilitarian impressions he has had of timber tools, but the shapes of his sculptures are stylistically simple, leaving interpretation wide-open.

Asked what he wanted to achieve in his body of work, Anusapati searched for words and came up with the term “materiality” to describe the impression of an actual physical presence he creates in his work, be they stark charcoal sketches, timber installations and sculptures made from timber or brass. The material itself is important to Anusapati for the tactile impressions it lends to the work.

In Architecture, Materiality is the applied use of natural materials such as timber and virtual materials such as images or shadows as media for building. Anusapati explores wooden objects in the grey area between his present material experience and the memories invoked by the material.
For this exhibition at Sangkring Artspace, Anusapati reawakens wooden railway sleepers used in the transportation of sugarcane in rural Java, raising them up from the ground to build experiences that evoke many journeys, some taking the observer far back to the memories of sweet cool shade and the magical play of shadows lost when these ancient trees were felled.

Interlude
A railway track rises up a wall, turns into a left-curving arc, and enters a wooden building. The railway sleepers look like a ladder leading into the building's single entrance. Throughout his life as an artist, blocks of hardwood have continued to provide mental steps into the storehouse of memory for Anusapati. The railway installation on the outside wall of the Sangkring Art Project space, titled Interlude, seems to also ilustrate how timber, as well as the trees and woods they've come from, has given the artist a tactile, visual and spatial link to past and present.

Timber is not only present as a material in this exhibition. It is the all-encompassing theme. It also appears virtually in the drawings.

Three hardwood trees are solid enough to be used as railway sleepers: teak, balau (bengkirai) and balian (ulin or ironwood). Anusapati grapples with their stories. In his exploration, he grounds himself in the physical reality of available materials. His tactile process of art making, however, invokes memories that lend solidity to the images and spaces he creates.

Trees Occupy Artspace
Inside the gallery, the artist re-imagines these trees in charcoal sketches pegged on the walls. Brass sculptures of the trees in the form of logs and branches take up space inside the gallery. Other sculptures take the form of wooden barrels with pointed edges, reminiscent of his 2005 work “Shelter of Despair”.

Anusapati gives an unsual freedom to wood. He lends his pieces voices in unexpected ways. Stylistically simple, the images are readily recognizable. Yet their differences to day-to-day experience and expectations give the pieces an alien quality that goad the mind to think along various pathways. Among the seven sculptural pieces forming Articulation, six are of wood and one is of brass. The brass object takes the shape of an up-right minor-branch of a tree. Cold chemical patination has given the piece a silvery-gold sheen, wrapping it in an expectant aura. The metalic joint of the branch catches by surprise. It speaks quietly of mechanisation, of a false, limited, freedom of movement.

Hovering in the air, occupying the vast space of the second floor at Sangkring Artspace, is an installation derived from the cut pieces of a single tree. Suspended Vegetation is a tree reassembled to display the interrelation of each piece, with spaces between that allow the observer to see the semi-processed, utilitarian, planks of wood.

It is very hard to get a whole hardwood tree these days. To illustrate the life of a tree and its incarnation into planks, Anusapati obtained a dead Durian tree. It has been carefully dug out, cut up and installed almost in its entirety, from roots to branches.

I find his choice of the rain-tree (munggur in Java or suar in Bali) to split open and install as Going Back in Time is both practical and metaphorical. There are many rain-trees shading streets and homes around Jogja, making the log easy to obtain. In Central Java, rain-trees often grow large to a diameter of one meter because people need their cool shade as protection from the tropical heat. Speaking metaphorically, it is difficult to go back in time without missing the shade. In Bali, where I live, rain-tree wood is valued at 8 million rupiah or more by the truck load due to demand from the handicraft woodcarving industry. They are becoming rare. Cold hard cash from exports trump local needs for cool shade.

Meeting the Artist
Over the past few months, I have been following the progress of Anusapati's works from sketches to completion through photos and other files placed in my Dropbox by Ditya Sarasiastuti, his multi-tasking assistant.

Images of railways and sleepers have been on my mind. There are no railways in Bali, where I live. Upon arriving at Jogja's Adisucipto airport for my interview with Anusapati, I visit the airport's train station. The regular Prambanan Express service is running less frequently due to an accident the previous week that had caused the train to fall into the rice-fields. I spend twenty minutes appreciating the technological advance and administrative challenge of using such a narrow strip of land to transport so many people and goods everyday. I admire the tidy railway station, and the quietly efficient manner of the train station staff. I look down to the railway sleepers and notice they were all brand new, steel rails on large solid concrete sleepers. Wood fetches a much higher price abroad these days. Two goods trains pass before my train arrives. The seven-minute ride in the Madiun Jaya AC Train to Malioboro station in the heart of Jogja is pleasant, interspersed with chit-chat with couples arriving from Madiun and a brief stopover at Lempuyangan station.

I roam Malioboro and the more touristy Prawirotaman area for part of the day, taking in the laid-back town with its warmly welcomed juxtapositions: having lunch where many government employees were enjoying crispy fried duck or chicken, riding a becak rickshaw, sipping coffee at a stylish cafe. Jogja is as diverse and full of art as I remember it from the 6-month time I lived here in 2008. One thing stands out in the conversation of locals, becak drivers and waiting staff: The oppressive heat. In hyperbolic conversation style, all seem to agree that it's never been this hot. And that brings me back to the lack of trees.

Near the intersection of Malioboro and Pangeran Senopati there is a sculpture of a tree-man walking away from the Post Office. The legs and part of the lower torso look human, but the rest of the body morph into a tree, branching out into tortured limbs that reach for the heavens. Roots crawl down its buttocks and legs. It has the muddy brown color of a tree, but with a plastic sheen to its grubbiness. It seems that a Jogja artist is concerned about how man is taking over the natural landscape and has come up with a sculpture to depict the opposite: of trees taking over from a man's body.

Arriving at a Bausasran office-studio, I find Anusapati crouching in the corner, drawing the shadows of a tree's canopy with a piece of charcoal in his hands. He shifts the charcoal to his left hand before gingerly shaking mine with his blackened fingers and continues working. Anusapati seems to spend more time rubbing in the charcoal with his fingers to even out the texture of charcoal rather than drawing lines with the charcoal itself, leaving its stark black upon the white paper.

In between his work, we strike up a conversation about his drawings, and how they relate to his current sculptures and installations. As evening settled in, we chat over a bowl of wedang ronde, a bowl of hot ginger syrup with peanuts, bread, palm jelly-nut and rounded rice-balls of sweetness. He fills me in on his life-long fascination with timber: his early memories of wooden tools, as well as the kitchen implements such as a spice mortar and pestle his mother would borrow from their neighbors to make pecel, a vegetarian Javanese dish spiced with ground peanuts, palm sugar, chili and other spices.

After our conversation on rural life and traditional food, the choice for dinner surprised me: Beer and dry-aged beef from Australia; his well-done and mine medium-rare. We are at R&B Grill, a steak-house that blossomed out of an imported-meat store. The proprietor is a retired local chef with international experience. While enjoying our carnivorous treat, we discuss the changes in the Jogja art scene in recent years and what his contemporaries are working on. It is later in the evening, when I shake his hand to bid him thanks and goodbye that I notice two things: his finger nails still bearing the evidence of his labor with charcoal, and the mottled texture of recycled timber of the restaurant floor: Retired railway sleepers rehired for more genteel work.

His preoccupation with wood is something of a rarity in the contemporary arts scene. Artists the world over tend to use the materials readily available to them as media for expression. During his time as an arts student, Anusapati used everything from stone, wood to copper-plate as media. These days, most of his students at ISI tend to use fiberglass for their sculptures.

It is fashionable, of sound economic sense, and meaningful to explore local materials and found objects. Artists delving into local materials such as Tisna Sanjaya are exploring objects fished out of the refuse of Java's landfills to create social statements, and some, like Wayan Sujana Suklu, are exploring new possibilities from the bamboo of traditional crafts. Yet Anusapati pursues wood with a passion, even re-creating it when he delves into drawing and bronze or brass sculptures. Perhaps he is expressing the gradual communal loss of wood in Java.
~
Kadek Krishna Adidharma is an environmental engineer currently managing his grandfather's resort in Kintamani

Works

Photos

matereality-003
matereality-001
matereality-002
matereality-005
matereality-006
matereality-004
matereality-009
matereality-007
matereality-008
matereality-012
matereality-011
matereality-010
img-0021
img-0011
img-0041
img-0031
img-0051
img-0081
img-0071
img-0061
img-0091
img-0101
img-0121
img-0111
img-0131
img-015
img-0141
img-017
img-016
img-018
img-020
img-019
img-021
img-022
img-024
img-023
img-026
img-025
img-028
img-030
img-029
img-031
 
Back to top ↑
[3,935,512 bytes / 3.75 MB] [4,135,416 bytes / 3.94 MB (peak)]