Exhibition Date
March 9th - 30th, 2012
Artist
Anis Ekowindu
Keseimbangan Alam?
Kebudayaan tradisional mempercayai bahwa alam harus diperlakukan dengan hormat dan kita harus berjuang untuk hidup selaras dengan lingkungan. Namun, masyarakat global dengan aspirasi ekonomi telah membuat Manusia semakin mengesampingkan nilai-nilai lokal demi sikap individualistis yang mengeksploitasi dan menyia-nyiakan Alam. Yang mencemaskan, pelestarian lingkungan dan upaya pendidikan seringkali diabaikan atau ditanggapi dengan cemooh oleh publik yang hanya peduli diri sendiri. Hanya bila masyarakat terkena dampak langsung melalui bencana alam atau bila habitat manusia terancam oleh perubahan cuaca barulah diambil tindakan langsung, tapi sayangnya, biasanya saat itu sudah terlambat. Sebagai komentator atas situasi sosial dan budaya pada masanya, bagaimana para seniman dengan kreatif menanggapi beban topik yang begitu besar dan sensitif tanpa terjerumus dalam aktifisme atau didaktisme yang tidak efektif?
Bagi Anis Ekowindu, ini dicapai dalam kombinasi cermat gambar-gambar sureal dan ruang teatrikal. Hal-hal tersebut memberikan sang seniman sebuah sudut pandang baru untuk menyampaikan pemahaman penting atas sifat manusia. Pameran terbarunya, The Grasshopper’s Revenge dengan Jogja Contemporary di Sangkring Art Space menitikberatkan pada hubungan positif dan negatif antara Manusia dengan Alam, sumber kecemasan yang semakin meningkat bagi sang seniman. Sekali lagi bekerja sama dengan adiknya Aria Ma’ruf sebagai sumber inspirasinya, Anis menciptakan metafora yang surreal dan penuh canda akan kecintaan dan sikap ekploitatif manusia pada lingkungan sekitarnya serta pembalasan alam pada para penjajahnya. Menyandingkan tanaman, serangga dan binatang yang halus dan nampak ringkih dengan tokoh utamanya yang selalu nyengir, ia berbagi kekuatan bercerita melalui perumpamaan ringan dan tak biasa.
Cerita memungkinkan kita memahami posisi kita di dunia. Cerita membantu kita menciptakan identitas diri sekaligus memberikan definisi dan mengajarkan nilai-nilai sosial. Dalam budaya visual, bercerita tetap merupakan peranan sosial paling mendasar bagi seorang seniman, penggayaannya berkembang dan berkisar antara ragam komunikasi visual dan intelektual yang gamblang dan tidak lazim. Dalam kontek pameran ini, Anis sengaja menampik klise visual protes lingkungan untuk memberikan perspektif yang segar melalui perangkat visual dan naratif yang telah menjadi ciri khasnya. Hal ini menyebabkan penikmat karya tersebut penasaran dan terhibur, yang menjadi titik masuk menuju berbagai goresan pertanyaan mengenai kesadaran akan lingkungan yang lebih serius di balik permukaan karyanya.
Perumpamaan adalah sebuah cerita yang menyampaikan kebenaran manusiawi yang universal, di mana tokoh utamanya menghadapi sebuah dilema moral atau menjalani konsekuensi dari keputusan yang buruk. Pelajaran-pelajaran dari cerita semacam ini tidak harus tersurat dengan eksplisit tetapi artinya masih sangat jelas. Walau cerita Anis mungkin membingungkan pemirsanya dengan gambaran yang sureal dan menyesatkan, bagai perumpamaan, pesan-pesannya adalah pengamatan sederhana dan peringatan tersamar akan perilaku Manusia. Kental dengan humor pribadi yang khas, penanda, simbol dan kode-kodenya adalah campuran kejernihan dan ambiguitas ketika Aria Ma’ruf terlihat berperan dalam beberapa adegan yang konyol pada sebuah latar belakang datar berwarna terang, yang dalam seri ini, seringkali disertai tampakan kayu atau spanram lukisannya. Ia mengenakan aneka macam pakaian dengan wajah dan tubuh terkadang dicat untuk menandai karakter yang berbeda dalam narasi Anis. Ketika memakai jas dan dasi ia menggambarkan mereka yang berkuasa dan berduit, ketika ia hanya berkaus atau bertelanjang dada ia menjadi bagian dari akar rumput. Semua perannya membuat keputusan-keputusan yang buruk, karena terlepas dari kekayaan dan pengaruh, keduanya bercelana pendek, sebuah penjelasan bahwa kita semua memiliki kecenderungan ketamakan dan kebodohan sesekali waktu. Raut wajahnya meski hampir selalu tersenyum, menyiratkan cakupan emosi mulai dari afeksi dan perayaan hingga seringai ketamakan menggambarkan kebodohan dan eksploitasi Manusia terhadap alam. Sebagai lawan kerja dan inspirasinya, Aria Ma’ruf berperan sebagai predator dan narator dalam semua karya Anis. Terkait samar dengan karakter tradisional Punokawan dan perannya sebagai tukang ‘momong’ dalam Mahabarata, ia mewakili sosok bijak yang kadang konyol, secara berkesinambungan memainkan peran si baik dan si jahat, si kaya dan si miskin, dalam penggambaran teatrikal sang seniman akan ketololan Manusia. Seperti Nature is Mine ia berperan sebagai cermin masyarakat, membuat kita menertawakan kelemahan dan kebodohan kita, sambil semoga, juga mengakui kebutuhan akan perubahan sosial dan lingkungan.
Aksinya kemudian diperkuat oleh latar belakang tiap karya yang bagaikan kosong. Berfungsi sebagai sejenis latar meditasi, ruang-ruang kosong tersebut menciptakan sebuah panggung psikologis yang intens untuk menyuguhkan adegan-adegannya, mengajak pemirsa untuk mencerap intisari narasinya. Yang lebih penting, Anis tidak secara visual menyertakan bentuk lanskap itu sendiri dalam karyanya; malahan ia menciptakan panggung yang dibentuk minimalis dengan peletakan strategis simbol, warna dan elemen komposisi untuk melambangkan berbagai karakteristik semacam ketamakan (Manusia) dan kerapuhan (Alam). Ia melangkah lebih jauh untuk mengintervensi dan mempenetrasi ruang-ruang tersebut dengan secara illusi mengupas lapisan untuk menampakkan tekstur yang berbeda seperti kayu yang memperkaya dongeng simbolisnya. Dengan begini narasinya menjadi lebih puitis dari prosa, ritme visual sebuah ruang yang menitikberatkan pada ekspresi, pengulangan dan fragmentasi tokoh utamanya untuk menciptakan efek maksimum. Ia semakin ditegaskan oleh detil halus Alam yang menciptakan tegangan yang tak lazim dan menggelitik di seluruh karyanya.Pada seri terbarunya Anis telah secara seksama memilih penanda dan simbol visual bagi narasinya untuk memicu dan memancing pertanyaan dan kesadaran lebih lanjut. Sang seniman rupanya sangat sadar akan desensitisasi masyarakat kita terhadap penanda visual yang gamblang terutama yang menggambarkan lingkungan. Gambaran tradisional alam sebagai pohon, binatang dan pemandangan cenderung menuntun pada ketidakhirauan dan pengabaian oleh kebanyakan pemirsa karya. Sebaliknya ia menampik klise dan menggunakan metafora yang canggih dan menghibur untuk memikat pemirsa ke dalam penjelasannya. Pada seri ini Anis berfokus pada elemen alamiah yaitu kayu, tanaman kecil dan binatang. Ia menggunakan spanram lukisannya sebagai perlambang kehadiran Alam dalam segala hal (seperti spanram yang seringkali tersembunyi dari pandangan) dan bagaimana ia dimanfaatkan, disalahgunakan dan disepelekan oleh Manusia. Permukaan kayu yang dipaparkan juga rujukan pada penggunaannya secara domestik untuk perumahan dan pagar dalam Give Life to Your Life dan Live Up Your Life semakin menunjukkan bagaimana Alam mendukung kebutuhan manusia tetapi juga tidak memiliki suara untuk menolak atau mengeluh. Perangkat visual ini berlaku sebagai alat pembingkai dalam menciptakan komposisi yang padat dan intens sehingga pemirsanya semakin fokus. Ia juga menyertakan burung, belalang, lebah, kupu-kupu dan tanaman yang nampak ringkih dan rentan terhadap keinginan dan hasrat Manusia. Apple is Purple menampilkan figur Anis menatap lekat-lekat sebutir apel yang menggantung berat, siap dipetik. Walau ambigu, terdapat narasi godaan yang tersirat yang kemudian semakin dikembangkan dalam The Last Apple, yang menampakkan figur lain berusaha mengambil apel yang merujuk pada kehancuran umat Manusia yang tak terhindarkan lagi. Namun tak semuanya murung dan suram. Sepanjang pameran Anis dengan jenaka menggeser mood karyanya antara tegangan dan kelucuan, eksperimen dengan gambaran dan asosiasi kata. Karya Woodpecker and Wood Packer menampilkan interaksi yang menawan antara Manusia dan seekor burung pelatuk, dan Live Up Your Life menggambarkan keindahan Alam berupa pertumbuhan dan pembaruan, salah satu isyarat optimisme dalam pameran ini. Namun, dalam sebagian besar cerita Anis yang ditertawakan akhirnya adalah kita sendiri. Seperti orang yang terjebak pada tiang gantungan dalam When Nature Fight Back, tak mampu mengusir tawon kecil yang hendak menyengat dan menyerang hidungnya, mengingatkan kita bahwa pembalasan karma dapat terjadi dengan cara yang tak terduga. Karena meski belalang kecil ukurannya bila dibandingkan Manusia, dalam jumlah besar hama dan kerusakan pada tanaman bisa sangat dahsyat. Pada akhirnya, kita Manusia tidaklah mempunyai kendali seperti yang kita kira, dan bencana alamlah yang mengingatkan kita bahwa alamlah yang akan menjadi pemenangnya dalam pertandingan antara Manusia dan Alam.
Eva McGovern
Head of Regional Programmes
Valentine Willie Fine Art
Natural Balance?
Traditional culture believes that Nature must be treated with respect and that we must strive to live in harmony with the environment. However, a globalised and economically aspirational society has led Man to increasingly discard local values for more individualistic attitudes that exploit and take the Natural world for granted. Worryingly, environmental preservation and education schemes are often ignored or met with derision by a self-absorbed public. It is only when society is directly impacted through natural disaster or when human habitat is threatened by climate change that immediate action is taken. By this time, it is often too late. As the social and cultural commentators of our times, how do artists creatively respond to the burden of such an enormous, sensitive topic without succumbing to ineffective attempts at activism or didacticism?
For Anis Ekowindu, this lies in a careful combination of surreal images and spatial theatricality. Together these allow the artist a fresh perspective to communicate essential insights into human nature. His most recent exhibition The Grasshopper’s Revenge, with Jogja Contemporary at Sangkring Art Space, focuses on the positive and negative relationship between Man and Nature, an increasing source of concern for the artist. Working once more with his brother Aria Ma’ruf as his muse Anis creates playful and surrealist metaphors about humanity’s affectionate and exploitative attitude towards the environment as well as Nature’s detached retaliation upon her oppressors. Juxtaposing delicate and fragile plants, insects and animals with his grinning central character he shares the power of story telling through light hearted and unusual parables.
Stories allow us to understand our place in the world. They help us create our identities as well as define and teach social values. In visual culture, story telling still remains a fundamental social role for the artist, stylistically evolving and oscillating between straightforward and atypical modes of visual and intellectual communication. In the context of this exhibition, Anis purposefully rejects the visual cliché of environmental protest to contribute an alternative perspective through visual and narrative devices that have become his signature approach to practice. These allow for audience curiosity and delight, providing an accessible entry point into the more serious messages of environmental awareness that lie beneath the surface of his work.
A parable is a story that communicates universal human truths, where the main character faces a moral dilemma or suffers the consequences of bad decisions. The lessons of these stories are not necessarily explicitly stated but their meaning is still quite clear. Although Anis’s stories may puzzle viewers with surreal and disorientating imagery, like a parable his messages are simple observations and subtle warnings into the behaviour of Man. Laced with a personal brand of humour his signs, symbols and codes are a mixture of clarity and ambiguity as Aria Ma’ruf is seen in a variety of playful situations against a flat, light coloured background, and in this series, often with exposed areas of wood or a painting’s wooden stretcher. He wears different types of clothing with his face and body sometimes painted to signify various characters in Anis’s narrative. When wearing a jacket and tie he represents those with power and money, when in just a t-shirt or shirtless he becomes a member of the grassroots. They all make bad decisions however, as regardless of wealth and influence, both wear shorts, a commentary that we all share the same traits of greed and ignorance at times. His facial features, almost always smiling, suggest a range of emotions from affection and celebration to avarice and exploitation. As his collaborator and inspiration Aria Ma’ruf, therefore, takes on the role of predator and narrator in all of Anis’s work. Subtly linked to traditional Javanese characters the Punonakawan as (tukang) Momong from the Mahabharata, he represents the wise and loveable fool, simultaneously playing the good and the bad, the poor and the rich, in the artist’s theatrical rendering of the follies of Man. Like in Nature is Mine he acts as a mirror for society allowing us to laugh at our own weaknesses and ignorance, whilst hopefully, acknowledging the need for social change and improvement.
His escapades are then amplified by the void like backdrops of each work. Functioning as a type of meditation ground, these empty spaces create an intense psychological stage for his scenes to unfold, encouraging audiences to then fully absorb the importance of his narratives. Significantly, Anis does not include any visual form of actual landscape itself in his work; rather he creates a minimally constructed stage with strategically placed elements to symbolise various characteristics of greed (Man) and vulnerability (Nature). He goes even further to intervene and penetrate these spaces by illusionistically peeling back layers to reveal different textures such as wood that further add to his symbolic story telling. In this way his narratives become more poetry than prose, a visual rhythm of space, emphasising the expressions, repetition, and fragmentation of his main character to maximum effect.
For his new series Anis has made a careful selection of visual signs and symbols for his narratives to trigger and provoke further inquiry and awareness. The artist is acutely aware of our social desensitisation towards straightforward visual signifiers especially those that represent the environment. Traditional images of trees and animals in landscapes tend to veer towards pastiche and dismissal by most audiences. Instead he rejects cliché for more sophisticated and entertaining metaphors to entice audiences into his commentary. Here, Anis focuses upon the natural element of wood and small plants and animals. He uses the wooden stretcher from paintings to symbolise the quiet presence of Nature in everything (like the stretcher often hidden from view) and how it is used, abused and taken for granted by Man. Exposed areas of wood also reference domestic uses for housing and fencing in Give Life to Your Life and Live Up Your Life to reflect upon how Nature supports the needs of mankind, but which also has no voice for objection or complaint. These visual devices act as a convenient framing strategy to create compact and intense compositions to engage his viewers. He also includes birds, grasshoppers, bees, butterflies and plants that appear fragile and vulnerable to Man’s wants and desires. Apple is Purple sees Anis’s figure staring intensely at a single apple hanging precariously, ready to be plucked. Although ambiguous, there is an implied temptation narrative which is then further developed in The Last Apple which sees another figure attempting to pick the apple alluding to the inevitable fall of Mankind. But not all is doom and gloom. Throughout the exhibition Anis shifts the mood of his works between tension and playfulness, experimenting with imagery and word association. Woodpecker and Wood Packer sees a charming interaction between Man and a wood pecker, and Live Up Your Life reflects upon the beauty of Nature for growth and renewal, one of the few hints of optimism in the exhibition. However, in many of Anis’s stories the final laugh always seems to be on us. Like the man stuck in the gallows in When Nature Fight Back, unable to shake the small bee that threatens to sting his nose, it reminds us that karmic retribution can strike in the most unpredictable of ways. For although the grasshopper is small when compared to Man, in large groups, its infestation and damage to crops can be devastating. Ultimately, we are not as in control as we would like to think, and natural disasters remind us that nature has the final card to play in the balancing act between Man and the Environment.
Eva McGovern
Head of Regional Programmes
Valentine Willie Fine Art