Exhibition Date
May 9th - June 21st, 2017

A Series of Mini Exhibitions

INKUBASI DAN KOLABORASI MEI-JUNI

Keberadaan komunitas seni harus diakui mampu dan telah menyumbangkan dinamika yang tidak hanya terbatas dalam lingkup seni rupa tapi merasuk ke segala skena yang ada. Komunitas adalah gelanggang kecil tempat ide diolah, ketrampilan dilatih dan dari sini bermunculan potensi yang beragam. Terkadang label ‘seni’ menjadi agen pembebas untuk bisa bergerak lebih luwes, kreatif dan progresif. Munculnya ruang-ruang seni alternative yang berasal dari komunitas atau diinisiasi oleh pelaku-pelaku seni muda memberi bidang untuk para seniman yang lebih muda untuk bereksperimen. Eksperimentasi dan eksplorasi itu terkadang berhasil, terkadang tidak. Hasil menjadi prioritas ke sekian, proses dan ekplorasi menjadi pembelajaran yang sangat berguna. Sebagai ruang, Jogja Contemporary mengedepankan misi inkubasi dan kolaborasi. Pertemuan dengan komunitas, ruang seni alternatif, kurator dan seniman muda, adalah proses dari misi tersebut dan diharapkan menghasilkan proses dan dinamika yang ‘hidup’ dan menghidupi. Tentu saja dengan tanpa mengesampingkan jejaring yang sudah terbina dengan seniman, ruang, kurator dan entitas lain yang sudah lebih mapan. Simbiosa terjadi dan terjalin untuk keberlangsungan semua elemen yang terlibat.

Kurator muda yang akan menampilkan projectnya adalah Adelina Luft yang akan bereksperimen dengan hasil obervasinya pada dinamika seni rupa Indonesia. Adel akan bekerja sama dengan Andri William aka Abud dalam proyeknya. Proyek yang eksperimental, bersifat pop up dan akan mengintervensi ruang pamer.

Adapun ruang-ruang seni yang berpartisipasi adalah: Lir Space (Jogja), Ruang Atas (Solo), Ruang Gerilya (Bandung) dan World’s End (Bandung). Lir Space akan menampilkan karya-karya seniman muda yang tergabung dalam program kelas LaX (Laboratory and Exhibition) yang sudah terselenggara sejak awal 2016, dan terbagi jadi tiga kelas, yaitu video, komik, dan desain. Dalam 2 kali putaran pameran, Lir akan menampilkan karya: Arif Budiman, Fitro Dizianto, Kevin Aldrianz, Rahmad Afandi, Sandi Kalifadani, Viki Restina Bela, Ivest Ilalang, R. Digas Paranggeni, Gata Mahardika, Nikita Ariestyanti, Putri Asdhanti, dan Wisnu Wardito Aji (Bowiel Ha).

Ruang Atas (Solo) akan menampilkan 12 karya dari 10 anggotanya: Aji Macanan, Wahyu Eko Prasetyo, Arzena Ersidyandhi, Dika Rabt, Faheem Ahmad, Dhawa Reskyna, Fauzan Abusalam, Shofa, David Krebonson dan Balisda Arza Bhagaskara dan masih mengusung tema eksplorasi pada bentuk dan visualisasi ide. World’s End(Bandung) menampilkan karya perupa muda asal Aceh yang belajar dan lulus sebagai arsitek di Bandung, Rifandy Karuniawan, yang mengusung lapis-lapis psikedelik dan fantasi dalam karyanya. Sementara Ruang Gerilya (Bandung) akan menampilkan permainan tanda yang diramu untuk menunjukkan ‘Jiwa Ketok’ sebagai penanda identitas seniman.

Komunitas yang ikut berpameran adalah: Club Etsa (Jogja) dan Hysteria (Semarang). Club Etsa menampilkan hasil amatan dan ulikan mereka pada ‘kelapa’ dengan teknik etsa pada kertas. Hysteria akan menampilkan sebuah kotak vernacular yang di dalamnya berisikan relik, kaos peta, dan pernak pernik riset mereka di Purwodinatan. Setia dengan menggali kekayaan lingkup masyarakat sekitarnya, hysteria akan membagikan temuan dari memori dan narasi urban.

Dalam rangkaian pameran mini ini, Rosit Mulyadi menampilkan cerapan dan amatannya hidup di era millennial. Sementara Meistoria Ve memakai perlambang ‘Bunga Zaman’ untuk menggambarkan masa kini. Seno Andrianto mengajak publik menyenandungkan elegi melalui komposisi visual realisnya. Adalah Adam de Boer, seniman asal Amerika yang sedang menjalani masa residensi keduanya di Jogja yang menampilkan karya batik kontemporari. Sedangkan Anis Eko Windu, Agus Baqul, M. A Roziq, Octo Cornelius dan Made Palguna menampilkan karya dengan media dan gaya khasnya. Masih dengan gaya khasnya tetapi bermain pada media dan gaya yang tidak biasa dilakukannya: Yonaz Kristi S. menggunakan media kain, Anton Subiyanto menampilkan eksplorasinya pada media kayu dan A.T. Sitompul ‘kembali’ pada abstrak setelah sekian lama menekuni teknik ilusi optik.

Rangkaian pameran mini ini terbagi dalam 3 putaran, dengan penjadwalan sebagai berikut:

1. 9 - 20 Mei
Lir Space, Rosit Mulyadi, Anton Subiyanto, World's End, Ruang Atas, A.T. Sitompul

2. 23 Mei - 3 Juni
Adelina Luft, Meistoria Ve, Ruang Gerilya, Hysteria, Yonaz K, Agus Baqul, Octo Cornelius.

3. 6 - 21 Juni
Lir Space, Seno Andrianto, Club Etsa, M. A. Roziq, Adam deBoer, Anis Eko Windu, Made Arya Palguna.

Selamat menikmati karya-karya dalam pameran ini.

INKUBASI DAN KOLABORASI MEI-JUNI

Keberadaan komunitas seni harus diakui mampu dan telah menyumbangkan dinamika yang tidak hanya terbatas dalam lingkup seni rupa tapi merasuk ke segala skena yang ada. Komunitas adalah gelanggang kecil tempat ide diolah, ketrampilan dilatih dan dari sini bermunculan potensi yang beragam. Terkadang label ‘seni’ menjadi agen pembebas untuk bisa bergerak lebih luwes, kreatif dan progresif. Munculnya ruang-ruang seni alternative yang berasal dari komunitas atau diinisiasi oleh pelaku-pelaku seni muda memberi bidang untuk para seniman yang lebih muda untuk bereksperimen. Eksperimentasi dan eksplorasi itu terkadang berhasil, terkadang tidak. Hasil menjadi prioritas ke sekian, proses dan ekplorasi menjadi pembelajaran yang sangat berguna. Sebagai ruang, Jogja Contemporary mengedepankan misi inkubasi dan kolaborasi. Pertemuan dengan komunitas, ruang seni alternatif, kurator dan seniman muda, adalah proses dari misi tersebut dan diharapkan menghasilkan proses dan dinamika yang ‘hidup’ dan menghidupi. Tentu saja dengan tanpa mengesampingkan jejaring yang sudah terbina dengan seniman, ruang, kurator dan entitas lain yang sudah lebih mapan. Simbiosa terjadi dan terjalin untuk keberlangsungan semua elemen yang terlibat.

Kurator muda yang akan menampilkan projectnya adalah Adelina Luft yang akan bereksperimen dengan hasil obervasinya pada dinamika seni rupa Indonesia. Adel akan bekerja sama dengan Andri William aka Abud dalam proyeknya. Proyek yang eksperimental, bersifat pop up dan akan mengintervensi ruang pamer.

Adapun ruang-ruang seni yang berpartisipasi adalah: Lir Space (Jogja), Ruang Atas (Solo), Ruang Gerilya (Bandung) dan World’s End (Bandung). Lir Space akan menampilkan karya-karya seniman muda yang tergabung dalam program kelas LaX (Laboratory and Exhibition) yang sudah terselenggara sejak awal 2016, dan terbagi jadi tiga kelas, yaitu video, komik, dan desain. Dalam 2 kali putaran pameran, Lir akan menampilkan karya: Arif Budiman, Fitro Dizianto, Kevin Aldrianz, Rahmad Afandi, Sandi Kalifadani, Viki Restina Bela, Ivest Ilalang, R. Digas Paranggeni, Gata Mahardika, Nikita Ariestyanti, Putri Asdhanti, dan Wisnu Wardito Aji (Bowiel Ha).

Ruang Atas (Solo) akan menampilkan 12 karya dari 10 anggotanya: Aji Macanan, Wahyu Eko Prasetyo, Arzena Ersidyandhi, Dika Rabt, Faheem Ahmad, Dhawa Reskyna, Fauzan Abusalam, Shofa, David Krebonson dan Balisda Arza Bhagaskara dan masih mengusung tema eksplorasi pada bentuk dan visualisasi ide. World’s End(Bandung) menampilkan karya perupa muda asal Aceh yang belajar dan lulus sebagai arsitek di Bandung, Rifandy Karuniawan, yang mengusung lapis-lapis psikedelik dan fantasi dalam karyanya. Sementara Ruang Gerilya (Bandung) akan menampilkan permainan tanda yang diramu untuk menunjukkan ‘Jiwa Ketok’ sebagai penanda identitas seniman.

Komunitas yang ikut berpameran adalah: Club Etsa (Jogja) dan Hysteria (Semarang). Club Etsa menampilkan hasil amatan dan ulikan mereka pada ‘kelapa’ dengan teknik etsa pada kertas. Hysteria akan menampilkan sebuah kotak vernacular yang di dalamnya berisikan relik, kaos peta, dan pernak pernik riset mereka di Purwodinatan. Setia dengan menggali kekayaan lingkup masyarakat sekitarnya, hysteria akan membagikan temuan dari memori dan narasi urban.

Dalam rangkaian pameran mini ini, Rosit Mulyadi menampilkan cerapan dan amatannya hidup di era millennial. Sementara Meistoria Ve memakai perlambang ‘Bunga Zaman’ untuk menggambarkan masa kini. Seno Andrianto mengajak publik menyenandungkan elegi melalui komposisi visual realisnya. Adalah Adam de Boer, seniman asal Amerika yang sedang menjalani masa residensi keduanya di Jogja yang menampilkan karya batik kontemporari. Sedangkan Anis Eko Windu, Agus Baqul, M. A Roziq, Octo Cornelius dan Made Palguna menampilkan karya dengan media dan gaya khasnya. Masih dengan gaya khasnya tetapi bermain pada media dan gaya yang tidak biasa dilakukannya: Yonaz Kristi S. menggunakan media kain, Anton Subiyanto menampilkan eksplorasinya pada media kayu dan A.T. Sitompul ‘kembali’ pada abstrak setelah sekian lama menekuni teknik ilusi optik.

Rangkaian pameran mini ini terbagi dalam 3 putaran, dengan penjadwalan sebagai berikut:

1. 9 - 20 Mei
Lir Space, Rosit Mulyadi, Anton Subiyanto, World's End, Ruang Atas, A.T. Sitompul

2. 23 Mei - 3 Juni
Adelina Luft, Meistoria Ve, Ruang Gerilya, Hysteria, Yonaz K, Agus Baqul, Octo Cornelius.

3. 6 - 21 Juni
Lir Space, Seno Andrianto, Club Etsa, M. A. Roziq, Adam deBoer, Anis Eko Windu, Made Arya Palguna.

Selamat menikmati karya-karya dalam pameran ini.

Photos

a-series-of-mini-exhibition-01
a-series-of-mini-exhibition-02
a-series-of-mini-exhibition-03
a-series-of-mini-exhibition-04
a-series-of-mini-exhibition-05
a-series-of-mini-exhibition-06
a-series-of-mini-exhibition-07
a-series-of-mini-exhibition-08
a-series-of-mini-exhibition-09
a-series-of-mini-exhibition-10
a-series-of-mini-exhibition-11
a-series-of-mini-exhibition-12
a-series-of-mini-exhibition-13
a-series-of-mini-exhibition-14
a-series-of-mini-exhibition-15
a-series-of-mini-exhibition-16
a-series-of-mini-exhibition-17
a-series-of-mini-exhibition-18
a-series-of-mini-exhibition-19
a-series-of-mini-exhibition-20
a-series-of-mini-exhibition-21
a-series-of-mini-exhibition-22
a-series-of-mini-exhibition-23
a-series-of-mini-exhibition-24
a-series-of-mini-exhibition-25
a-series-of-mini-exhibition-26
a-series-of-mini-exhibition-27
a-series-of-mini-exhibition-28
a-series-of-mini-exhibition-29
a-series-of-mini-exhibition-30
a-series-of-mini-exhibition-31
a-series-of-mini-exhibition-32
a-series-of-mini-exhibition-33
a-series-of-mini-exhibition-34
a-series-of-mini-exhibition-35
a-series-of-mini-exhibition-36
a-series-of-mini-exhibition-37
 
Back to top ↑
[768,768 bytes / 0.73 MB] [792,752 bytes / 0.76 MB (peak)]