Euforia

BERUFORIA DENGAN JAMAN LEWAT SENI

Dunia semakin melaju pesat seiring dengan tumbuh kembang dan tumbangnya segala rupa yang berkelindan padanya. “Percepatan” seakan menjadi nafas jaman. Siapa lambat akan tergilas. Siapa cepat pasti dapat. Kira-kira seperti inilah fenomena jaman yang tengah terjadi saat ini. Jaman seakan bereuforia dengan dirinya sendiri. Menuntut apapun dan siapapun, yang berada di dalamnya tunduk, patuh, mengikutinya. Tumbuh kembang dan tumbangnya jaman ibarat buah mangga. Dimana ketika ia berasa asam, maka hanya orang-orang yang suka rasa asamlah yang bisa menikmati. Sedangkan yang tak menyukai rasa asam akan meninggalkannya. Lalu mangga pun beranjak dari rasa asam menjadi manis. Orang-orang pun berduyun-duyun menikmatinya, menyukai, dan berebut memilikinya. Tetapi kemudian seiring putaran waktu mangga menjadi busuk dan bau, sehingga orang-orang akan pergi menjauh, meninggalkannya.

Kaum muda adalah salah satu elemen masyarakat yang merasakan imbasnya secara langsung. Bagaimana menyikapi hal ini terkait erat dengan bagaimana mereka memahami. Dan bagaimana mereka memahami tak bisa lepas dari pengetahuan dan latar keilmuan masing-masing. Dalam pada ini kelompok “Pulang Jalan” memiliki sikap, pengetahuan dan pemahamannya sendiri.

Eyang Ronggowarsito pernah dawuh dalam Serat Kalatido terkait lukisan sebuah jaman pada salah satu cuplikan karya sastra tembang Sinom; “amenangi zaman édan/éwuhaya ing pambudi/mélu ngédan nora tahan/yén tan mélu anglakoni/boya keduman mélik/kaliren wekasanipun/ndilalah kersa Allah/begja-begjaning kang lali/luwih begja kang éling klawan waspada.” Terjemahannya sebagai berikut: “Menyaksikan jaman gila/serba susah dalam bertindak/ikut gila tidak akan tahan/tapi kalau tidak mengikuti (gila)/tidak akan mendapat bagian/kelaparan pada akhirnya/namun telah menjadi kehendak Allah/sebahagia-bahagianya orang yang lalai/akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.” Edan atau kegilaan tak selalu berkonotasi negatif. Ada kegilaan yang bersifat positif jika ia menempati ruang diamnya yang sesuai. Adapun ruang positif yang dapat mewadahi kegilaan atau keedanan salah satunya ialah seni. Seni dapat mengakomodir segala bentuk jaman, berdialog dengan jaman, bermesra-mesra intim sekaligus bisa memberikan kritik yang tajam terhadap sebuah jaman. Pula bisa menjadi tandingan dan atau membuat jaman sendiri. Sebagaimana pergerakan seni futurisme atau dada di eropa pada masanya. Dimana para seniman bisa “bersenang-senang” (beruforia) dengan kegilaan jaman yang tengah melingkupi mereka. Kedua aliran ini mencuat di tengah-tengah keadan jaman yang gila/edan dan carut marut. Sehingga ciri, gaya dan karakteristik karya-karyanya seakan mengabarkan keadaan jaman saat itu. Sinis, banal, nihilistik, intuitif, emotif, parodik, aneh, spontan, mencoba melepaskan kaidah-kaidah seni, dan bahkan dikatakan sebagai “anti seni”. Ciri-ciri inilah yang melekat pada aliran dadaisme. Sedangkan untuk meleburkan konsep ruang dan waktu, menjadikan karya sebagai rumusan artistik yang berupaya merekam kompleksnya realitas, menangkap unsur gerak dan kecepatan, memiliki tema dinamisme universal dlsb, merupakan ciri-ciri karya futurisme.

Berkaca pada keadaan jaman terdahulu. Kegilaan atau keedanan jaman rupa-rupanya masih terus terjadi, lestari. Apabila pada era lalu para seniman berhasil merumuskan kegilaan jaman lewat berkesenian dan menjadi sebuah arus gerakan. Pada jaman ini, tumbuh kembang dan maraknya orang-orang membuat komunitas seni dengan berbagai visi dan misinya masing-masing dapat dikatakan sebagai penanda atas situasi (kegilaan) jaman.

Demikian juga dengan kelompok “Pulang Jalan” yang digawangi oleh 10 perupa muda; Johanhawe, Ahmad Zubaidi, Yusuf Alif. N.H, Widianta Rante Balik, Dian Prihantoro, Bernandi Desanda, Yulis Dwian Gria Kristi, Dadang Akhiroh, Ardiyanto, dan Stevanus Bangun Kalpiko Aji. Dimana kelompok ini ingin beruforia dengan jaman yang melingkupinya lewat karya seni. Melalui seni mereka tak hanya menemukan ruang diamnya, tetapi juga mendapatkan pembelajaran, hikmah, punishm, reward serta mampu mengapresiasi euforia jaman lewat hal-hal positif, bermakna.

Mari dan sila masuk ke dalam euforia lalu beruforialah dengan cara anda.

Kopi Hitam Salam budaya.

CAK UDIN
*Awal Udin atau lebih akrab disapa Cak Udin adalah lelaki pecinta kopi dan tembakau yang menyukai seni. Dari seni Cak Udin bertemu sastra dan berkenalan dengan rupa. Karya Bukunya: Kumpulan Puisi: Balada Rumah Sengketa (2013); Antologi Puisi KATA Mati (2014); Novel: Pelik (2015); Novel: PEKIK (2016) diangkat dari karya rupa Ac. TANAMA; dan Novel: Linglung (2016)

EUOPHORIA WITH ERA THROUGH ART

The world is moving fast along the growth and fall of everything that surrounds it. “Acceleration” is becoming the breathe of the era. If you’re slow, you’ll get crushed. If you’re fast, you’ll earn it. This is the phenomenon of era that exists nowadays. The era seems to be in euphoria with itself. Expecting anything or anyone inside its scope, to obey it. The growth and fall of era are like mangoes. If the mangoes are sour, then only those who like sour flavors who will enjoy the mangoes. Those who dislike sour flavors will ignore the mangoes. Then mangoes then changed from sour to sweet flavor. People will all at once enjoy them, like them, and fight over them. However, as the time rolls by, the mangoes will become rotten and stinks. People will leave the rotten mangoes.

Young people are one of the elements in the society who feel the impacts directly. How to respond to this issue is closely related to how they understand. And how they understand it, cannot be separated from knowledge and each of their educational backgrounds. In this group exhibition, “Pulang Jalan” has each of their own attitudes, knowledge and understanding.

Eyang Ronggowarsito once commanded in Serat Kalatido about the painting of a era in a piece of Sinom; “amenangi zaman édan/éwuhaya ing pambudi/mélu ngédan nora tahan/yén tan mélu anglakoni/boya keduman mélik/kaliren wekasanipun/ndilalah kersa Allah/begja-begjaning kang lali/luwih begja kang éling klawan waspada.” This translates into: Witnessing an insane era/ very difficult to act upon/ joining the insanity will not guarantee success/ however refrain from it (insanity)/ will miss the part/hunger in the end/but Allah’s will has happened/ as happy as the neglectful one/ the happier it will be for those who remember and cautious.” Edan or insanity does not always bear negative meaning. There is a positive insanity when it is placed in a suitable silence space. There is a silence space that can accommodate insanity, one of which is art. Art can accommodate every forms of era, have a dialogue with the era, gets intimate with the era as well as gives sharp critics to an era. It can also become the competitor or even can create its own era. Just like futurism or Dadaism movements in Europe, artists could “have fun” (be in euphoria) with the insanity of the era that surrounds them. These two genres emerged in the middle of a crazy and chaotic era. So, the traits, style and characteristic or the works represented the situation at that time. Cynical, banal, nihilistic, intuitive, emotive, parody, weird, and spontaneous tried to discharge the art principles, and even said as “anti-art”. These traits are attached to the Dadaism. While merging the concept of space and time, making artworks as the artistic formula that attempts to record the complexity of reality, capturing the elements of movement and speed, and having theme and universal dynamism etc, are the traits of futurism.

Reflecting to the condition of the past era, insanity or madness of era seems to keep occurring, everlasting. If in the past era, the artists have succeeded in formulating the insanity of era through making art and becoming a flow of movement. In the current era, growth and the widespread of people creating art communities with various visions and missions can be called as the sign of the (insanity of) era.

So does with the group “Jalan Pulang” that consists of 10 young artists; Johanhawe, Ahmad Zubaidi, Yusuf Alif. N.H, Widianta Rante Balik, Dian Prihantoro, Bernandi Desanda, Yulis Dwian Gria Kristi, Dadang Akhiroh, Ardiyanto, dan Stevanus Bangun Kalpiko Aji. This group would like to be in euphoria with the era that surrounds them through their artworks. Through art they don’t only find their silent spaces, but also get lessons, wisdoms, punishments, rewards, as well as the ability to appreciate the euphoria of era.

CAK UDIN
*Awal Udin or usually called Cak udin is a coffee and cigarette lover who likes art. From art, Cak Udin met literature and encountered with visual. His books: Kumpulan Puisi: Balada Rumah Sengketa (2013); Anologi Puisi KATA Mati (2014); Novel: Pelik (2015); Novel: PEKIK (2016) were taken from his visual works of Ac. TANAMA; and Novel Linglung (2016)

Works

Photos

euforia-001
euforia-002
euforia-003
euforia-004
euforia-005
euforia-006
euforia-007
euforia-008
euforia-009
euforia-010
euforia-011
euforia-012
euforia-013
euforia-014
euforia-015
euforia-016
euforia-017
euforia-018
euforia-019
euforia-021
euforia-022
euforia-023
euforia-024
euforia-025
euforia-026
euforia-027
euforia-028
euforia-029
euforia-030
euforia-031
euforia-032
euforia-033
euforia-034
euforia-035
euforia-036
euforia-037
euforia-038
euforia-039
euforia-040
euforia-042
euforia-043
euforia-044
euforia-045
euforia-046
euforia-047
euforia-048
euforia-049
euforia-050
euforia-051
 
Back to top ↑
[2,750,768 bytes / 2.62 MB] [3,088,960 bytes / 2.95 MB (peak)]