Arus Bawah

Pameran ini menampilkan karya-karya enam seniman muda kelahiran Bali. Lima dari mereka (Marta Dwipayana, Agus Darmika, Giri Ananda, Adi Suanjaya, dan Sastra Wibawa) kemudian merantau ke Yogya untuk menempuh pendidikan tinggi seni rupa di ISI Yogyakarta. Adapun Ngakan Putu Agus Arta Wijaya baru setahun menetap di Yogyakarta setelah menempuh pendidikan tinggi di ISI Denpasar. Proses perpindahan mereka ke Yogyakarta jadi penting untuk dicatat sebab hal itu tampak berpengaruh pada identitas dan kekaryaan mereka. Hal yang khususnya tampak pada mereka yang menempuh pendidikan tinggi seni rupa di ISI Yogyakarta. Kelimanya, misalnya, tampak sedikit lebih cair dalam memaknai identitas yang disematkan pada mereka. Dalam proses berkarya, mereka menyatakan bahwa kadang mereka memilih mendekat atau justru menjauh dari Bali. Hal berbeda ada pada Ngakan Putu Agus Arta Wijaya yang tampak lebih lekat dengan muatan lokal Bali dan dalam karyanya tampak selalu berusaha untuk mendekati Bali.

Saat diinisiasi, pameran ini dimaksudkan untuk menampilkan karya-karya yang mewakili generasi seniman muda Bali, khususnya yang menetap di Yogyakarta. Seniman Bali sendiri sebagai sebuah term harus diakui tidak hanya menunjukan bahwa seniman tersebut berasal dari Bali. Ia juga dipandang mewakili kecenderungan-kecenderungan tertentu, baik dari segi visual pun dari laku berkarya.

Dalam proses persiapan pameran, Bali, sebagai sebuah gagasan dan identitas, jadi hal yang banyak dipertanyakan dan diperiksa. Bagaimana pandangan masing-masing seniman partisipan tentang Bali? Apakah benar bahwa berbagai tendensi mereka dalam berkarya bisa (atau perlu?) untuk selalu dilekatkan dengan gagasan dan identitas tersebut? Jika mereka tidak menyangkal bahwa Bali mewujud dalam kekaryaan mereka, bagaimana perwujudannya? Serta bagaimana proses perpindahan mereka ke Yogyakarta berpengaruh pada cara mereka melihat Bali dan pada kekaryaan mereka?

Arus Bawah sebagai judul pameran ini dimaksudkan untuk merangkum proses di balik pameran. Secara harafiah, Arus Bawah berarti aliran air yang mengalir di bawah permukaan. Sedangkan sebagai idiom ia merujuk pada perasaan atau tendensi tersembunyi yang seringkali berbeda dengan apa yang mudah dilihat dan dipahami. Proses mempertanyakan dan memeriksa “kebalian” dalam diri tiap-tiap seniman dan karya-karya mereka bisa disejajarkan dengan proses mengecek apa yang mengalir di bawah permukaan. Pun ia juga dipahami sebagai usaha untuk melihat perasaan atau tendensi berkarya yang dimiliki oleh tiap-tiap seniman yang bisa jadi berbeda dengan apa secara umum dilekatkan pada seniman Bali.

This exhibition is showcasing the works of six young Bali born artists. Five of them (Marta Dwipayana, Agus Darmika, Giri Ananda, Adi Suanjaya, and Sastra Wibawa) moved to Yogyakarta to study visual arts at ISI Yogyakarta. Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, on the other hand, have only stayed in Yogyakarta for a year after he graduated from ISI Denpasar. The process of moving to Yogyakarta is important to be emphasized as it seems to affect their identity and work, especially for those who studied at ISI Yogyakarta. For instance, the five of them seem a little more flexible in taking the identity that was given to them. On their working process, they pointed that they sometimes choose to embrace or even distance themselves from Bali. Different thing happens to Ngakan Putu Agus Arta Wijaya, who seems more attached to the Balinese local contents and his works always attempt to approach Bali.

At the time it was initiated, this exhibition was aimed to show artworks that represent the younger generation of Balinese artist, particularly those who are staying in Yogyakarta. To be honest, the term Balinese Artist itself does not only remark that the artist is from Bali. It is also seen as a representation of certain tendencies, be it on the visual aspect or from the artistic practice.

During the exhibition preparation, Bali, as an idea and identity, has been questioned and investigated. How do the participating artists view Bali? Is it true that their certain tendencies in making artworks can (or have to) be related to the notion or identity of Bali? If they didn’t deny that Bali is manifested in their works, how shall the manifestation be? Furthermore, how does the process of moving to Yogyakarta affect their perspectives on Bali and their works?

Arus Bawah as the title of this exhibition is aimed to summarize the process behind the exhibition. Literally, Arus Bawah means water lines that flow underground (undercurrent). On the other hand it is also an idiom that refers to hidden feeling or tendency that is often different from what is easily seen or understood. The process of questioning and investigating the “Bali-ness” inside each of the artist and their works can be aligned with the process of checking what flows underground. It is also understood as an attempt to see the feelings or tendencies in working that belong to each artist that can be different from what is commonly identified in Balinese artist.

Works

Photos

display-arus-bawah-001
display-arus-bawah-002
display-arus-bawah-003
display-arus-bawah-004
display-arus-bawah-005
display-arus-bawah-006
display-arus-bawah-007
display-arus-bawah-008
display-arus-bawah-009
display-arus-bawah-010
display-arus-bawah-011
display-arus-bawah-012
display-arus-bawah-013
opening-arus-bawah-001
opening-arus-bawah-002
opening-arus-bawah-003
opening-arus-bawah-004
opening-arus-bawah-005
opening-arus-bawah-006
opening-arus-bawah-007
opening-arus-bawah-008
opening-arus-bawah-009
opening-arus-bawah-010
opening-arus-bawah-011
opening-arus-bawah-012
opening-arus-bawah-013
opening-arus-bawah-014
opening-arus-bawah-015
opening-arus-bawah-016
opening-arus-bawah-017
opening-arus-bawah-018
opening-arus-bawah-019
opening-arus-bawah-020
opening-arus-bawah-021
opening-arus-bawah-022
opening-arus-bawah-023
 
Back to top ↑
[2,492,768 bytes / 2.38 MB] [2,650,424 bytes / 2.53 MB (peak)]