Exhibition Date
October 17th - November 4th, 2016

Artist
Agus Kama Loedin

TRANS - FORMS #2

Mlungsungi lan Milih

Dan Bentuk-Bentuk Tidak Lazim dari Agus Kama Loedin

Sore itu, empat bulan yang lalu, saya berkunjung ke penginapan Agus Kama Loedin, sahabat yang saya kenal 5 tahun sebelumnya ketika ia berpameran di Sangkring Art Space dengan tajuk PUSARAN EKSPLORASI. Agus kala itu memamerkan karya-karya 3 dimensi dan karya-karya 2 dimensi yang hampir semuanya dibuat dari kawat. Saya kagum dengan keterampilannya mengelola kawat, namun sayang karyanya masih berdiri sendiri-sendiri dan tidak membangun satu narasi yang runtut.

Agus yang telah menunggu saya, segera menyambut saya dengan sapaan khas Suroboyonya yang tidak pernah luntur dari gaya bicaranya meski sudah lama tinggal di Philipina.

Setelah mempersilahkan saya duduk, ia tertawa memandang saya, dan saya pun ikut tertawa. Sesaat kemudian kami menarik nafas panjang, dan segera sesudah itu kami pun mulai berbagi cerita tentang kisah-kisah menarik yang terjadi selama lima tahun tidak bertemu. Satu persatu nama kawan yang kami kenal muncul dalam pembicaraan, sampai akhirnya kami pun mulai menanyakan apa yang sedang masing-masing kami kerjakan.

Agus kemudian menjelaskan bahwa, kedatangannya kembali ke Jogja adalah untuk membicarakan tentang pamerannya yang kedua di Jogja. Ia merasa perlu untuk menyapa kembali pencinta seni Jogja, sekaligus mengukur capaian-capaiannya yang terkini. Jika pada pameran sebelumnya ia telah menunjukkan usahanya untuk mengenal dan mengelola kawat, maka pada pameran berikutnya ia ingin menunjukkan bagaimana kawat mengelola dirinya.

Maka dengan penuh semangat ia menunjukkan foto karya-karya terbarunya. Satu persatu ia tunjukkan sambil menyebut judul untuk masing-masing karya. Ada yang ia beri judul Kebo Geger Lintang, ada pula Kerang Kembar Siam, Cuma Cumi, Grahana Mataharu, Mlungsungi lan milih… dan masih ada beberapa lagi yang judulnya terdengar lucu.

Kali ini ia mengeksplorasi tema perubahan alam yang merubah organisme di dalamnya. Bentuk-bentuk tidak lazim dari perubahan fisik organisme menjadi inspirasi bagi bentuk-bentuk karyanya, seperti Kerang Kembar Siam, adalah penggambaran mutasi yang terjadi pada kerang itu sendiri. Atau juga Kebo Geger Lintang, adalah bagaimana kerbau bermutasi dengan ikan hiu paus untuk bertahan hidup. Kalau Cuma Cumi adalah mutasi cumi-cumi yang merasa perlu menambahkan elemen tanduk pada badannya.

Menurut Agus, perubahan alam tidak hanya menyebabkan perubahan fisik secara langsung tapi juga menyebabkan perubahan perilaku yang akhirnya mengakibatkan perubahan fisik. Seperti karya Mlungsungi lan Milih, manusia berganti kulit seperti ular dan juga bertangan dan kaki empat, yang setelah proses ganti kulit selesai manusia pun harus memilih kaki dan tangan mana yang dia pilih untuk melanjutkan hidupnya. Sedangkan Grahan Mataharu adalah perubahan konsep matahari yang pada umumnya digambarkan sebagai simbol maskulin menjadi feminine.

Sementara Agus meneruskan ceritanya…, saya jadi teringat pada peristiwa sepuluh tahun silam, ketika Jogja diguncang gempa besar. Orang tiba-tiba berubah menjadi ahli membaca alam, pandai meramal cuaca, dan berpikir tidak seperti biasanya. Ada banyak perubahan yang saya rasa janggal terjadi pada waktu itu, namun seiring berjalannya waktu semua kembali biasa saja.

Terlepas dari persoalan dahsyatnya perubahan alam, saya justru lebih tertarik pada bagaimana Agus menemukan judul-judul untuk karyanya. Seperti Mlungsungi lan Milih, tautan kata-kata yang ia temukan ini tidak pernah saya dengar sebelumnya, namun menggelitik di telinga. Atau judul lain seperti Cuma Cumi yang bisa membuat isteri saya tertawa terpingkal-pingkal. Dari sekian judul karya yang ia sampaikan, masing-masing judul mampu memunculkan perasaan yang berbeda.

Saya pun mulai menimbang-nimbang untuk menyelidiki bagaimana Agus berpikir. Untuk itu saya merasa perlu mengetahui bagaimana Agus berproses. Lalu saya bertanya kepada Agus tentang kesulitan apa yang ia hadapi ketika berproses dengan kawat?

Agus menjelaskan bahwa, membuat struktur bentuk adalah bagian paling sulit yang harus ia kerjakan, karena ia harus menaklukkan logam keras sesuai keinginannya, ini adalah bagian pekerjaan yang membutuhkan tenaga lebih yang hasilnya belum tentu sesuai keinginannya. Bagian pekerjaan lain yang cukup rumit adalah membuat sambungan kawat, pekerjaan ini membutuhkan kecerdikan tersendiri karena harus menyamarkan setiap sambungan kawat. Sedang pekerjaan menganyam adalah bagian pekerjaan sederhana yang hanya membutuhkan ketekunan dan kesabaran.

Jawaban Agus ternyata memutarbalikkan sangkaan saya. Awalnya saya menyangka bahwa pekerjaan menganyam adalah bagian pekerjaan yang paling sulit, ini dikarenakan saya tidak memahami runtutan proses sebelumnya, bahwa Agus telah lebih dulu menaklukkan keinginannya dengan menerima kenyataan bahwa logam keras yang menjadi struktur rangka karyanya tidak selalu dapat ia olah sesuai keinginannya. Penerimaan Agus atas kenyataan inilah yang menurut saya mampu membuat Agus merasa nyaman untuk bertahan melawan waktu, tekun dan sabar dalam menganyam kawat.

Saya pun kemudian bertanya tentang berapa lama waktu yang ia butuhkan untuk menyelesaikan sebuah karya?

Agus tidak dapat menjawab pasti, namun yang jelas… pekerjaan yang ia lakukan ini membutuhkan intensitas tinggi, karena ketika pagi ia mulai bekerja, maka sampai malam baru ia berhenti. Ketika siang ia mulai bekerja, sampai malam pula baru ia berhenti. Tak peduli dalam kondisi apa ia mulai bekerja, sampai lelah baru ia berhenti.

Menurut saya, cara kerja seperti yang Agus sampaikan adalah cara kerja yang dihasilkan oleh kenikmatan yang mencandu. Cara kerja demikian biasanya mampu menemukan iramanya sendiri, sehingga orang yang bekerja dengan cara ini, dapat merasa nyaman walau berada dalam kesendirian yang makin mengasingkan dirinya dari lingkungan sekitarnya. Cara kerja seperti ini sebenarnya sangat beresiko. Tapi biasanya, kenyamanan dalam keterasingan tidak pernah berlangsung lama, interupsi-interupsi dari lingkungan sekitar kadang muncul merubah irama, dan dinamikanya mampu menghasilkan distorsi-distorsi yang jenaka atau ketidaklaziman yang menyentuh perasaan.

Maka saya bertanya pada Agus tentang peristiwa apa yang menginterupsi proses kerjanya kali ini?

Agus pun menuturkan bahwa dalam prosesnya kali ini, ia sering mendapat interupsi dari anak-anaknya yang telah tumbuh jadi remaja, dan interupsi lain yang mengguncang dirinya adalah saat ia kehilangan seorang sahabat, teman berbagi kisah dan teman berbagi kerja….

Saya pun akhirnya tidak berani melanjutkan percakapan ini….

Saya yakin Agus telah menjalani proses yang dalam dan melelahkan untuk pamerannya kali ini. Ia telah mengulur, menekuk, mengikat, dan menganyam dalam ketekunan untuk melenturkan kekerasan hatinya, dan mengubah dirinya yang maskulin menjadi lebih feminin.

Selamat berpameran sahabatku Agus Kama Loedin!!!

Pius Sigit, sahabat Agus Kama Loedin

Mlungsungi lan Milih [Shedding Skin and Choose]

And odd shapes by Agus Kama Loedin

That afternoon, four months ago, I visited Agus Kama Loedin, a friend of mine whom I meet 5 years ago when he had an exhibition at Sangkring Art Space titled PUSARAN EKPLORASI, at his lodging. Back then, Agus was showcasing 2 and 3 dimensional works which were mostly made of wires. I was amazed by his skill in processing the wires, though the works still stood by themselves and not constitutin any plot or narrative.

Agus, who has been waiting for me, immediately greeted me with his typical Surabayan greeting. Something that stuck with him even after having lived in the Philippines for quite a long time.

After welcoming and letting me sit down, he looked at me and laughed. I then laughed with him. A moment later, we took deep breath, then immediately exchanged interesting stories happened to us in five years of not seeing each other. Names of our common friends dropped in the conversation, until finally we began to ask each other about what (art) were we currently working on.

Agus explained to me that he returned to Jogja to talk about his second exhibition in the city. He felt he needs to greet the art lovers in Jogja again, as well as to measure his newest achievements. If in his previous exhibitions, he had shown his efforts to understand and process wires, for the next exhibition he would like to show how the wires process him.

Fully excited, he showed me the images of his newest artworks. He showed one by one while mentioning the titles of each work. There are some works with titles like Kebo Geger Lintang (Buffalo and Starred Back), Kerang Kembar Siam (Conjoined Clams), Cuma Cumi (Squid- Cumi-Cumi, pun intended), Grahana Mataharu (pun for Gerhana Matahari – Solar Eclipse), Mlungsungi lan Milih (Shedding Skin and Choose)… and other funny sounding titles.

This time around, he is exploring natural changes as the theme, changes on the the nature which leads to the changes of the organisms within. The odd shapes from physical changes on organisms became his inspiration. For instance, a work titled Kerang Kembar Siam, is actually an illustration of a mutation which occurred to an oyster. For the work titled Kebo Geger Lintang, it is about how a buffalo mutated with a whale shark for survival. Cuma Cumi on the other hand, is a mutation of a squid that felt the need to add horn element to its body.

For Agus, these natural changes are not only causing direct physical changes, but also affecting organisms‘ behavior which consequently lead into physical changes. In the work titled Mlungsungi lan Milih, a human being shedding skin like a snake, with four hands and legs, afte which molting process, he has to choose which hands and legs to preserved in order to continue his life. As for Grahan Mataharu, is about the change concept of the sun that is commonly seen as the symbol of masculinity into feminine.

As he continued his stories…. I remembered an incident that happened ten years ago, when Jogja was stricken by a magnitude earthquake. People suddenly became experts in reading the nature signs, experts in weather forecasting, and had unusual mindsets. There were plenty of odd changes that occurred at that time, but as it went on, everything came back to normal.

Aside from the great changes of nature, personally, I am actually more interested in how Agus invented these titles, such as Mlungsungi lan Milih. It is something that I have never heard of before, but sounds wittily-funny when we hear it. Or Cuma Cumi, it made my wife ‘rolled on the floor’. From all of the titles he mentioned, each one is able to provoke different feelings.

I, then began to consider investigating the way Agus thinks. For that, I thought I need to understand how Agus works. I asked Agus about any difficulties that he faced when processing wires.

Agus pointed out that making the structure of the shapes is the hardest part because he had to conquer the hard metal material and form it as he wishes. This phase takes more power, and the result is unpredictable. Other complicated phase is connecting the wires. It requires certain skill because the joints have to be hidden. The weaving process, on the other hand, is a simple work that only needs persistence and patience.

Agus’ answers flipped my assumptions around. At the beginning, I thought the weaving process is the hardest part. Apparently, I just don’t understand the process step by step. Agus had firstly conquered his desire by accepting the fact that the hard metal for the frame structure of his works couldn’t always be shaped as his will. His acceptance of this fact, I assume, is what make Agus comfortably process the work all this time, keenly and patiently weaving the wires.

I then asked about how long it would take him to finish one work.

Agus couldn’t give an exact answer, but clearly… these works that he’s doing requires high intensity. He would start working from morning and stop when the night comes. During the daytime, he would begin to work and as the night reaches, he would stop. Regardless in what condition when he begins, he would only stop when he feels tired.

I think the way of working as Agus mentioned is resulted from an addictive pleasure. Such working process usually enables one to find a rhythm, so those with this working method could feel comfortable even though they are alone and secluded from their surroundings. This is actually quite a risky way of working. But usually, conformity in seclusion never last long enough. Interruptions from the surrounding sometimes come to change the rhythm, and the dynamics can produce humorous distortions or even touching oddity.

I also asked Agus about what interruptions that he faces throughout his working process?

He then said that for the process mostly got interruptions from his daughters who are now teenagers, and also from when he lost a dear friend, a friend to whom he shared stories and worked with.

Thus, I wasn’t dare to continue this conversation…

I’m sure Agus has been through a deep and exhausting process for this exhibition. He had straightened, bended, tied, and weaved in persistence to soften his tough heart, and change his masculine self to a more feminine one.

Congratulations for the exhibition my dear friend Agus Kama Loedin!!!

Pius Sigit, a good friend

Works

Photos

Trans-Form-01
Trans-Form-02
Trans-Form-03
Trans-Form-04
Trans-Form-05
Trans-Form-06
Trans-Form-07
Trans-Form-08
Trans-Form-09
Trans-Form-10
Trans-Form-11
Trans-Form-12
Trans-Form-13
Trans-Form-14
Trans-Form-15
Trans-Form-16
Trans-Form-17
Trans-Form-18
Trans-Form-19
Trans-Form-20
Trans-Form-21
Trans-Form-22
Trans-Form-23
Trans-Form-24
Trans-Form-25
Trans-Form-26
Trans-Form-27
Trans-Form-28
Trans-Form-29
Trans-Form-30
Trans-Form-31
Trans-Form-32
Trans-Form-33
Trans-Form-34
Trans-Form-35
Trans-Form-36
Trans-Form-37
Trans-Form-38
 
Back to top ↑
[812,688 bytes / 0.78 MB] [894,088 bytes / 0.85 MB (peak)]