Exhibition Date
December 5th - 19th, 2015

Artist
Sigit Tamtomo

Neglected Memory

Perubahan demi perubahan kekaryaan sebenarnya bukanlah sebuah arti yang berlebih, hal sederhana bahwa masing-masing manusia termasuk Sigit Tamtomo telah meniti kenaturalan hidup yang juga memiliki periode-periode tertentu yang musti tidak harus menetap kecuali sementara. Kesementaraan dalam pengumpulan suatu tema dalam beberapa kekaryaan yang harus terlahir sebagai keutuhan tema hingga tuntas. Maka selanjutnya bagai hidup yang mengalir walau tetap dalam kerangka “bagi dirinya” sendiri yang mungkin tidak harus seperti yang diinginkan yang di luar itu, bukan pula penceritaan hanya pada subjektivitas belaka tetapi penciptaan adalah esensi sekaligus eksistensi.

Kesadaran impresi atas transparansi yang tipis, tembus pandang, bolong pada gelondong dan sayatan-sayatan ceruk-ceruknya adalah esensi sekaligus eksistensi, sesuatu yang paling mendasar dari kesadaran seniman sebagai aspek dari proses organis yang hidup. Bentuk komunikasinya memiliki bentuk yang khas bagi dan dari dirinya yang serentak dari hasil penyerapan di luar dirinya.

Kekaryaannya adalah dendam, kemarahan, atau umpatan-umpatan masa yang sudah lewat pada dirinya sendiri yang kini mewujud sebagai pelepasan yang terkontrol, pelepasan emosional yang mewujud, terekam yang mana dia selalu menampakkan yang ini dekat dan yang itu jauh, ini sekaligus itu dan apa yang mendasari sebelumnya juga berarti apa yang ditorehkan belakangan.

--

Changes in process of making work of art should not be taken excessively. It is not an extraordinary, it is simple phase that everyone, including Sigit Tamtomo had to experience this nature of life, that should not settle at one point but temporarily. “Temporarity” in collating the theme for works of art has to be born as the whole theme is completed. Thus, as it flows like the life itself, which runs within the framework "for himself", which at times is not like what is desired, should not be narrated on a mere subjectivity, but also a creation of essence and existence.

Awareness on the impression of the thin transparent, translucent, perforation on logs and deep incisions, is the essence and existence at the same time, an utmost fundamental consciousness of the artist as an aspect of the living organic process. The form of communication chosen has a distinctive shape to and from him as a simultaneous expression of all the elements he absorb from his ‘outside’.

His work of art is his resentment, anger, or aspersions from the past to himself, which is manifested in a controlled outlet, in visual emotional release, recorded as which he wants to show that this one is close and that one is far, this is also that. Sometimes, the one underlies what is expressed before also carry meaning to what is inscribed later.




NEGLECTED MEMORY

Pengabaian, meninggalkan hal-hal memungkinkan, suatu yang kemarin sudah tidak digunakan lagi walau mungkin bukan benar-benar yang terlupakan. Begitulah Neglected Memory yang berakar dari perubahan-perubahan di setiap periode kehidupan dalam hal ini tercatat pada jejak-jejak karyanya yang bermula dari periode "candy …."nya tahun 2009 (tidak disertakan dalam pameran ini) hingga memasuki masa studi akhir di sifat transparansi "Bercak Tipis"-nya yang bagi saya adalah dimulainya terbentuknya capaian yang jauh lebih berkarakter sewaktu belajar di Jurusan Seni Murni STKW Surabaya yang lulus 2011. Kini di tahun 2015 ini juga sedang melanjutkan studi di Program Magister, Jurusan Penciptaan Seni Murni, ISI-Yogyakarta.

Beragam Bentuk-Bentuk

Bercak-Tipis

Berawal dari keseharian membersihkan noda-noda lumut yang menempel di tegel-tegel keramik atau tembok-tembok kamar mandi, mengusap membersihkan noda-noda bercak di tembok-tembok bagian bawah di dalam rumah, mengerok jamur atau mengerik tahi karat pada permukaan logam. Tipisnya lumut atau jamur, cipratan noda bercak atau noktah yang jelas tercoreng di sana tanpa kesadaran menempelkannya di tembok-tembok di sudut yang biasanya berdekatan kran air. Karena semua bentuk-bentuk itu tumbuh dari ketidaksengajaan perlakuan "jorok" atau hingga tumbuhnya lumut dan jamur secara alamiah. Dari hal itulah dia memulai ketertarikannya hingga menggerakannya ke arah kesadaran penciptaan seni lukisnya.

Ceruk-Ceruk

Terdapat tekanan dengan berat tertentu pada bidang atau gumpalan yang lebih lunak akan menghasilkan jejak, ya jejak atau tanda bahwa ada suatu yang tertera, terkunci dalam visual yang di sana terdapat arah. Ceruk, gurat, tiada ubah congkel, hantam dan sayatan tertera pada tembok-tembok tafril kekaryaannya yang mungkin secara umum kita mengenal bagai "relief" yang tentu dikerjakan secara ekspresif dan subjektif sebagai simbol ekspresi.

Rol-Gelondong

Satu hal tentang jejak-jejak dalam bentuk yang lain yang tertera pada ragam tanda-tanda yang bersifat non figuratif. Satu proses kapan dimulainya dan kapan berakhir sebagian "cerita" yang tertampung dalam gulungan di dalam rol gelondong, yang lebih terdahulu telah tergulung dan kini yang tampak adalah hasil yang sedang berproses.

Arsir-Hapus

Tindakan mengarsir-menghapus sebenarnya tidak beda dari periode "bercak tipis" yang mana di sini justru memunculkan bercak berupa arsiran-arsiran yang kadang disertai aksen-aksen yang kemudian dihapus yang menggunakan tekanan atau tidak. Perlakuan penghapusan tidak beda memberlakukannya sebagai arsir karena di sana juga mewujudkan tekanan-tekanan yang beragam.

Dari beberapa periode "Bercak Tipis", "Ceruk-Ceruk", "Rol Gelondong", dan "Arsir-Hapus" semua adalah tahapan-tahapan yang berkelanjutan, eksperimentasi, perubahan-perubahan yang mungkin tidak pernah menetap. Secara ketrampilan bila ditilik dari periode lukis konvensionalnya "Candy-Candy" yang sempat terpilih di award JAA (Jakarta Art Award) 2008 yang begitu terampil secara akademisi. Tetapi Sigit Tamtomo tidak berhenti di sana walau secara umum pantas akan ternilai lebih bagus atau bahkan lebih pantas dipajang, lebih bisa dijual. Kini dia lebih memilih bahwa berkesenian tiada beda seperti pertumbuhan demi pertumbuhan, perubahan demi perubahan adalah lebih penting dari sekedar menetap. Karena memang kehidupan adalah perubahan yang tentu memiliki karakter.

Rekaman Jejak Dan Perubahan

Perubahan demi perubahan yang mungkin tidak pernah menetap, sepertinya yang mana perubahannya terkait pada keadaan sesuatu yang tipis atau bisa disebut transparan yang mana antara latar belakang yang masih nampak di permukaan dengan torehan di atasnya juga tidak begitu jauh kualitas ketajaman warna dan bentuk itu sendiri. Transparansi tidak ubahnya keadaan jumbuh hingga kita tidak bisa membedakan secara pasti.

Rekaman transparansi, pada "Abject", "Head Series/ #1/#2", "Landscape", "Ruang Tunggu", dan "Sea" terjadi pada periode awal 2009-2011 juga muncul kembali pada ekspresi "Arsir-Hapus" 2014-2015, arsir dan penghapusan adalah disamping tipis juga tembus pandang, tanpa kepekatan warna yang bila diterapkan pada kekaryaannya bisa berarti bolong, penghapusan, penghisapan, pengerokan yang memunculkan hal sebelumnya, hal yang di bawah. Kita bisa mengamati jejak lama yang dimunculkan kembali sebagai penyadaran pentingnya masa lalu.

Tipis, satu layar seakan tanpa cadar semua sudah nampak nyata pada periode Arsir-Hapus di karya "Sosok", "Hujan", Terbakar", "Dua Jalur".Tembus pandang mengisyaratkan bahwa antara yang ini dan yang itu menumpang tiada beda untuk masing-masing entitas. Itu adalah ini, yang jauh juga yang dekat. Tentang penghapusan, pengurangan ketajaman yang mencolok; bahwa proses begitu nampak jejaknya yang saling meniadakan dan menampakkan atau penguatan dan pengaburan terlontar pada sudut tertentu.

Rekaman ceruk-ceruk 2011-2015 pada karya "No. 1/ 2/ 3/ 4/ 5/ 6" yang terkerok, tertoreh adalah sebuah rekaman sebelumnya, menampakkan jejak yang kemarin. Hantaman sebuah kepalan tangan, sayatan tipis yang kesemua itu nyata ekspresi fisik keterlukaan, dendam, dan kemarahan yang bagi dirinya bahwa perlakuan itu adalah sebuah alat memperingan beban atas atau ekspresi ucapan kasar yang pantas dilakukan pada objek yang lain.

Rekaman Rol-Gelondong 2015 pada karya "The World of Mouth" dan "Restart" yang tercetak bolong, tempaan, atau irisan gerenda adalah jejak dari ungkapan yang layak sebagai objek pelepasan emosional. Visualisasi yang memiliki kehidupan yang mana yang kemarin sudah berlalu yang sudah tergulung, terlipat di satu gelondong sedangkan yang kini dihamparkan memanjang tak ubah yang masih berkelanjutan yang terekam di atas seng yang sedang berproses sampai detik pameran berlangsung dan entah selasai atau tidak kala pameran sudah berakhir.

***

Kesanggupan Berubah

Perubahan demi perubahan kekaryaan sebenarnya bukanlah sebuah arti yang berlebih, hal sederhana bahwa masing-masing manusia termasuk Sigit Tamtomo telah meniti kenaturalan hidup yang juga memiliki periode-periode tertentu yang musti tidak harus menetap kecuali sementara. Kesementaraan dalam pengumpulan suatu tema dalam beberapa kekaryaan yang harus terlahir sebagai keutuhan tema hingga tuntas. Maka selanjutnya bagai hidup yang mengalir walau tetap dalam kerangka "bagi dirinya" sendiri yang mungkin tidak harus seperti yang diinginkan yang di luar itu, bukan pula peceritaan hanya pada subjektivitas belaka tetapi penciptaan adalah esensi sekaligus eksistensi.

Kesadaran impresi atas transparansi yang tipis, tembus pandang, bolong pada gelondong dan sayatan-sayatan ceruk-ceruknya adalah esensi sekaligus eksistensi, sesuatu yang paling mendasar dari kesadaran seniman sebagai aspek dari proses organis yang hidup. Bentuk komunikasinya memiliki bentuk yang khas bagi dan dari dirinya yang serentak dari hasil penyerapan di luar dirinya.

Kekaryaannya adalah dendam, kemarahan, atau umpatan-umpatan masa yang sudah lewat pada dirinya sendiri yang kini mewujud sebagai pelepasan yang terkontrol, pelepasan emosional yang mewujud, terekam yang mana dia selalu menampakkan yang ini dekat dan yang itu jauh, ini sekaligus itu dan apa yang mendasari sebelumnya juga berarti apa yang ditorehkan belakangan.

***

NEGLECTED MEMORY

Pengabaian, meninggalkan hal-hal memungkinkan, suatu yang kemarin sudah tidak digunakan lagi walau mungkin bukan benar-benar yang terlupakan. Begitulah Neglected Memory yang berakar dari perubahan-perubahan di setiap periode kehidupan dalam hal ini tercatat pada jejak-jejak karyanya yang bermula dari periode "candy …."nya tahun 2009 (tidak disertakan dalam pameran ini) hingga memasuki masa studi akhir di sifat transparansi "Bercak Tipis"-nya yang bagi saya adalah dimulainya terbentuknya capaian yang jauh lebih berkarakter sewaktu belajar di Jurusan Seni Murni STKW Surabaya yang lulus 2011. Kini di tahun 2015 ini juga sedang melanjutkan studi di Program Magister, Jurusan Penciptaan Seni Murni, ISI-Yogyakarta.

Beragam Bentuk-Bentuk

Bercak-Tipis

Berawal dari keseharian membersihkan noda-noda lumut yang menempel di tegel-tegel keramik atau tembok-tembok kamar mandi, mengusap membersihkan noda-noda bercak di tembok-tembok bagian bawah di dalam rumah, mengerok jamur atau mengerik tahi karat pada permukaan logam. Tipisnya lumut atau jamur, cipratan noda bercak atau noktah yang jelas tercoreng di sana tanpa kesadaran menempelkannya di tembok-tembok di sudut yang biasanya berdekatan kran air. Karena semua bentuk-bentuk itu tumbuh dari ketidaksengajaan perlakuan "jorok" atau hingga tumbuhnya lumut dan jamur secara alamiah. Dari hal itulah dia memulai ketertarikannya hingga menggerakannya ke arah kesadaran penciptaan seni lukisnya.

Ceruk-Ceruk

Terdapat tekanan dengan berat tertentu pada bidang atau gumpalan yang lebih lunak akan menghasilkan jejak, ya jejak atau tanda bahwa ada suatu yang tertera, terkunci dalam visual yang di sana terdapat arah. Ceruk, gurat, tiada ubah congkel, hantam dan sayatan tertera pada tembok-tembok tafril kekaryaannya yang mungkin secara umum kita mengenal bagai "relief" yang tentu dikerjakan secara ekspresif dan subjektif sebagai simbol ekspresi.

Rol-Gelondong

Satu hal tentang jejak-jejak dalam bentuk yang lain yang tertera pada ragam tanda-tanda yang bersifat non figuratif. Satu proses kapan dimulainya dan kapan berakhir sebagian "cerita" yang tertampung dalam gulungan di dalam rol gelondong, yang lebih terdahulu telah tergulung dan kini yang tampak adalah hasil yang sedang berproses.

Arsir-Hapus

Tindakan mengarsir-menghapus sebenarnya tidak beda dari periode "bercak tipis" yang mana di sini justru memunculkan bercak berupa arsiran-arsiran yang kadang disertai aksen-aksen yang kemudian dihapus yang menggunakan tekanan atau tidak. Perlakuan penghapusan tidak beda memberlakukannya sebagai arsir karena di sana juga mewujudkan tekanan-tekanan yang beragam.

Dari beberapa periode "Bercak Tipis", "Ceruk-Ceruk", "Rol Gelondong", dan "Arsir-Hapus" semua adalah tahapan-tahapan yang berkelanjutan, eksperimentasi, perubahan-perubahan yang mungkin tidak pernah menetap. Secara ketrampilan bila ditilik dari periode lukis konvensionalnya "Candy-Candy" yang sempat terpilih di award JAA (Jakarta Art Award) 2008 yang begitu terampil secara akademisi. Tetapi Sigit Tamtomo tidak berhenti di sana walau secara umum pantas akan ternilai lebih bagus atau bahkan lebih pantas dipajang, lebih bisa dijual. Kini dia lebih memilih bahwa berkesenian tiada beda seperti pertumbuhan demi pertumbuhan, perubahan demi perubahan adalah lebih penting dari sekedar menetap. Karena memang kehidupan adalah perubahan yang tentu memiliki karakter.

Rekaman Jejak Dan Perubahan

Perubahan demi perubahan yang mungkin tidak pernah menetap, sepertinya yang mana perubahannya terkait pada keadaan sesuatu yang tipis atau bisa disebut transparan yang mana antara latar belakang yang masih nampak di permukaan dengan torehan di atasnya juga tidak begitu jauh kualitas ketajaman warna dan bentuk itu sendiri. Transparansi tidak ubahnya keadaan jumbuh hingga kita tidak bisa membedakan secara pasti.

Rekaman transparansi, pada "Abject", "Head Series/ #1/#2", "Landscape", "Ruang Tunggu", dan "Sea" terjadi pada periode awal 2009-2011 juga muncul kembali pada ekspresi "Arsir-Hapus" 2014-2015, arsir dan penghapusan adalah disamping tipis juga tembus pandang, tanpa kepekatan warna yang bila diterapkan pada kekaryaannya bisa berarti bolong, penghapusan, penghisapan, pengerokan yang memunculkan hal sebelumnya, hal yang di bawah. Kita bisa mengamati jejak lama yang dimunculkan kembali sebagai penyadaran pentingnya masa lalu.

Tipis, satu layar seakan tanpa cadar semua sudah nampak nyata pada periode Arsir-Hapus di karya "Sosok", "Hujan", Terbakar", "Dua Jalur".Tembus pandang mengisyaratkan bahwa antara yang ini dan yang itu menumpang tiada beda untuk masing-masing entitas. Itu adalah ini, yang jauh juga yang dekat. Tentang penghapusan, pengurangan ketajaman yang mencolok; bahwa proses begitu nampak jejaknya yang saling meniadakan dan menampakkan atau penguatan dan pengaburan terlontar pada sudut tertentu.

Rekaman ceruk-ceruk 2011-2015 pada karya "No. 1/ 2/ 3/ 4/ 5/ 6" yang terkerok, tertoreh adalah sebuah rekaman sebelumnya, menampakkan jejak yang kemarin. Hantaman sebuah kepalan tangan, sayatan tipis yang kesemua itu nyata ekspresi fisik keterlukaan, dendam, dan kemarahan yang bagi dirinya bahwa perlakuan itu adalah sebuah alat memperingan beban atas atau ekspresi ucapan kasar yang pantas dilakukan pada objek yang lain.

Rekaman Rol-Gelondong 2015 pada karya "The World of Mouth" dan "Restart" yang tercetak bolong, tempaan, atau irisan gerenda adalah jejak dari ungkapan yang layak sebagai objek pelepasan emosional. Visualisasi yang memiliki kehidupan yang mana yang kemarin sudah berlalu yang sudah tergulung, terlipat di satu gelondong sedangkan yang kini dihamparkan memanjang tak ubah yang masih berkelanjutan yang terekam di atas seng yang sedang berproses sampai detik pameran berlangsung dan entah selasai atau tidak kala pameran sudah berakhir.

***

Kesanggupan Berubah

Perubahan demi perubahan kekaryaan sebenarnya bukanlah sebuah arti yang berlebih, hal sederhana bahwa masing-masing manusia termasuk Sigit Tamtomo telah meniti kenaturalan hidup yang juga memiliki periode-periode tertentu yang musti tidak harus menetap kecuali sementara. Kesementaraan dalam pengumpulan suatu tema dalam beberapa kekaryaan yang harus terlahir sebagai keutuhan tema hingga tuntas. Maka selanjutnya bagai hidup yang mengalir walau tetap dalam kerangka "bagi dirinya" sendiri yang mungkin tidak harus seperti yang diinginkan yang di luar itu, bukan pula peceritaan hanya pada subjektivitas belaka tetapi penciptaan adalah esensi sekaligus eksistensi.

Kesadaran impresi atas transparansi yang tipis, tembus pandang, bolong pada gelondong dan sayatan-sayatan ceruk-ceruknya adalah esensi sekaligus eksistensi, sesuatu yang paling mendasar dari kesadaran seniman sebagai aspek dari proses organis yang hidup. Bentuk komunikasinya memiliki bentuk yang khas bagi dan dari dirinya yang serentak dari hasil penyerapan di luar dirinya.

Kekaryaannya adalah dendam, kemarahan, atau umpatan-umpatan masa yang sudah lewat pada dirinya sendiri yang kini mewujud sebagai pelepasan yang terkontrol, pelepasan emosional yang mewujud, terekam yang mana dia selalu menampakkan yang ini dekat dan yang itu jauh, ini sekaligus itu dan apa yang mendasari sebelumnya juga berarti apa yang ditorehkan belakangan.

***

Works

Sea
Sea

Photos

Neglected-Memory-001
Neglected-Memory-002
Neglected-Memory-003
Neglected-Memory-004
Neglected-Memory-005
Neglected-Memory-006
Neglected-Memory-007
Neglected-Memory-008
Neglected-Memory-009
Neglected-Memory-010
Neglected-Memory-011
Neglected-Memory-012
Neglected-Memory-013
Neglected-Memory-014
Neglected-Memory-015
Neglected-Memory-016
Neglected-Memory-017
 
Back to top ↑
[2,569,784 bytes / 2.45 MB] [2,774,688 bytes / 2.65 MB (peak)]